Sekilas tentang Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, dan Naskah Klenteng Sam Po Kong
Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda adalah kronik populer dalam bahasa Jawa baru. Naskah ini menceritakan tentang kerajaan Majapahit dari masa pembentukannya sampai keruntuhannya. Banyak ahli sejarah berpendapat bahwa kronik sejarah dalam naskah ini banyak bernuansa dongeng, sehingga sulit untuk membedakan mana yang benar-benar fakta sejarah, mana yang hanya dongengan saja.
Sehingga untuk menverifikasi kebenaran sejarah yang tertuang dalam naskah tersebut harus dikomparasikan atau diperbandingkan dengan naskah-naskah lain, baik naskah teks yang sezaman maupun yang ada sebelumnya. Sebagai contoh, menurut sejarawan Slamet Muljana, nama-nama raja Majapahit yang terdapat dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda berbeda dengan nama-nama raja Majapahit dalam buku Pararaton dan Nagarakertagama. Bila seorang peneliti sejarah tidak jeli dalam mengurai kronologi sejarah Majapahit, maka akan sulit untuk merekontruksi peristiwa-peristiwa di masa lalu.
Serat Kanda dan Babad Tanah Jawi adalah karya populer pada awal abad ke-18. Pada masa itu, bangsa Indonesia telah dijajah oleh bangsa Belanda. Dalam kehidupan kolonial itu, orang merenungkan keagungan negara yang telah silam. Pangarang Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda ingin mengagungkan tokoh-tokoh sejarah pada zaman yang telah lampau.
Serat Kanda dan Babat Tanah Jawi adalah hasil rekonstruksi rakyat tentang keagungan kerajaan Majapahit dan kesultanan Islam Demak dan seterusnya berdasarkan ingatan saja, pada hakikatnya tidak lain dari renungan rakyat dalam bidang kesejarahan. Sudah pasti banyak hal yang dilupakan, hanya setengah ingat, dan hanya samar-samar saja.
Sementara itu, sumber ketiga yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Naskah dari Klenteng Sam Po Kong. Hingga tahun 1964, naskah dari daerah Semarang ini tidak dikenal oleh para ahli sejarah, padahal naskah ini sangat penting yang di dalamnya juga mengisahkan tentang kerajaan Majapahit hingga keruntuhannya.
Naskah Klenteng Sam Po Kong yang ditemukan di Semarang ditulis oleh orang-orang Tionghoa. Tulisan-tulisan itu umurnya sudah 400 atau 500 tahun lebih. Tidak jelas apakah para penulis ini seorang Muslim atau bukan, tetapi di dalamnya banyak membuat tema-tema tentang kontribusi Muslim Tionghoa pada masa kerajaan Islam, yakni kerajaan Islam Demak.
Artikel singkat ini secara khusus ingin menggali tentang riwayat hidup dan sepak terjang Walisongo yang ditulis dalam tiga naskah di atas. Naskah-naskah itu sebenarnya lebih banyak bicara Majapahit dan kerajaan Demak, tetapi sedikit banyak juga menyinggung Walisongo karena para tokoh Walisongo juga hadir dalam berbagai peristiwa sejarah tersebut, khususnya pada peralihan dari kerajaan Majapahit ke kerajaan Islam Demak, di mana Walisongo juga sangat perperan penting di dalamnya, bukan hanya dalam konteks dakwah Islam, tetapi juga dalam perjuangan politik.
Walisongo dalam Tiga Sumber
Bagian ini akan ditulis tentang asal-usul Walisongo dalam tiga sumber, yakni Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, dan Naskah Klenteng Sam Po Kong. Hal utama yang menjadi fokus adalah mengenai riwayat hidup, asal-usul, dan peranan Walisongo dalam perjuangan dakwah Islam dan perjuangan politik pada masa setelah runtuhnya Majapahit dan lahirnya kerajaan Islam Demak. Selain itu, penulis juga akan menyebutkan siapa-siapa saja tokoh Walisongo yang disebutkan dalam naskah-naskah tersebut.
Dalam masyarakat Islam Jawa, dikenal sembilan wali yakni Sunan Giri, Sunan Cirebon, Sunan Geseng, Sunan Majagung, Syaikh Lemah Abang, Sunan Udung, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Kalijaga. Namun demikian, Agus Sunyoto, sejarawan Indonesia yang menulis buku Atlas Walisongo, menyebut tokoh-tokoh wali sembilan itu adalah; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Syaikh Siti Jenar, Sunan Kudus.
Masih menjadi soal siapa-siapa saja sesungguhnya yang masuk dalam kategori tokoh-tokoh wali sembilan. Para ahli sejarah menyebut nama yang berbeda-beda, sehingga tidaklah ada kesepakatan tentang siapa sesungguhnya tokoh-tokoh yang masuk ke dalam sembilan wali itu. Namun yang jelas, mereka semua ada sebagai tokoh sejarah dan dapat ditelusuri riwayat hidupnya dalam naskah-naskah klasik Nusantara.
Penulis juga tidak akan menguraikan secara detail riwayat hidup semua tokoh-tokoh Walisongo itu karena keterbatasan ruang, juga hanya menyebutkan beberapa yang disebut dalam ketiga sumber itu. Intinya, penulis hanya akan menguraikan secara singkat asal-usul, dan apa kontribusi mereka dalam sejarah. Juga mengurai karakter bagaimana naskah-naskah itu mencatat ketokohan Walisongo.
Sunan Ampel
Dalam Babad Tanah Jawi, Sunan Ampel (Raden Rahmat) adalah putra Makdum Ibrahim dari Campa (Vietnam sekarang). Sunan Ampel adalah keponakan putri Campa Dwarawati, yang dipersunting oleh raja Majapahit, prabu Brawijaya. Raden Rahmat punya adik bernama Raden Santri dan seorang keponakan Raden Burereh, putra raja Campa.
Dikisahkan, mereka bertiga berangkat ke Majapahit (dari Campa) untuk mengunjungi putri Dwarawati. Sesampainya di Majapahit, mereka segera menghadap prabu Brawijaya. Mereka bertiga diterima dengan baik. Setelah setahun tinggal di Majapahit, Sunan Ampel terpikat oleh putri Majapahit, anak Tumenggung Wilatikta, yang bernama Ni Gede Manila. Menurut Serat Kanda, Sayit Rashmat (Raden Rahmat) kawin dengan anak Tumenggung Wilatikta dari Tuban, cucu Arya Teja.
Sementara itu, Raden Santri dan Raden Burereh menetap di Gresik. Raden Rahmat dikenal dengan julukan Sunan Ngampel (Ampel), di mana nama Ampel merujuk pada suatu tempat bernama Ngampel Denta di daerah Surabaya sekarang. Di sanalah ia menjadi ulama besar.
Kisah perjumpaan Sunan Ampel dan Raden Patah (raja Demak) juga terjadi di Ngampel Denta. Ketika Raden Patah dan Raden Kusen dalam perjalanan menuju Majapahit, mereka singgah di Ngampel Denta. Dalam percakapan antara Sunan Ampel dan Raden Patah, dikemukan oleh Sunan Ampel bahwa ia adalah seorang pendantang di Jawa. Katanya, “Saya adalah ulama asing yang datang ke pulau Jawa. Hanya untuk sementara waktu saja, berkat sih sang prabu, berbeda dengan engkau. Engkau orang Jawa tulen turun-temurun orang Jawa, yang memiliki pulau Jawa!”. Dari pengakuan ini jelas bahwa Sunan Ampel bukanlah orang Jawa. Menurut Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, asalnya dari Campa (Vietnam).
Naskah Klenteng Sam Po Kong menceritakan, pada tahun 1419, Laksamana Sam Po Bo menempatkan Tak Keng di Campa untuk mengepalai masyarakat Tionghoa Islam di Campa. Ia mempunyai cucu bernama Bong Swi Hoo. Pada tahun 1445, Bong Swi Hoo dikirim oleh Bong Tak Keng ke Palembang untuk membantu pekerjaan Swan Liong. Dalam waktu singkat, kapten Cina Swan Liong menaruh kepercayaan besar kepada Bong Swi Hoo, dan mengutusnya ke Jawa untuk menghadap kapten Cina di Tuban, yang bernama Gan Eng Cu. Gang Eng Cu adalah orang yang dikuasakan mengurus kepentingan orang-orang Tionghoa di Jawa, terutama wilayah Majapahit.
Dalam hubungannya dengan pemerintah pusat Majapahit, Gang Eng Cu berhasil memikat hati raja. Semula ia bekerja di Manila, kemudian pada tahun 1423, dipindahkan dari Manila ke Tuban. Singkat cerita, Bong Swi Hoo yang diutus oleh kapten Swan Liong dipungut sebagai menantu oleh Gan Eng Cu, kemudian oleh Gang Eng Cu dijadikan kapten Cina di Bangil (area dekat Surabaya sekarang).
Sebagai pemeluk agama, Bong Swi Hoo berusaha mengembangkan agama Islam di wilayah kekuasaannya, mula-mula hanya dalam masyarakat Tionghoa, kemudian meluas ke masyarakat Jawa yang dengan sukarela memeluk agama Islam.
Menurut Slemat Muljana, dari perbandingan antara berita di Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, dan berita dari Klenteng Sam Po Kong di Semarang, dapat ditarik kesimpulan bahwa Sunan Ampel sama dengan Bong Swi Hoo. Ia datang di Jawa untuk pertama kalinya pada tahun 1445. Ni Gede Manila, istri Sunan Ampel, yang dipindahkan ke Tuhan sejak tahun 1423.
Serat Kanda dan Babad Tanah Jawi menceritakan bahwa Sunan Ampel memiliki seorang putra bernama Bonang, Bonang ini kemudian menjadi Sunan Bonang. Bonang diasuh oleh Sunan Ampel bersama dengan Giri, yang kelak dikenal dengan Sunan Giri, anak ulama Maulana Wali Lanang yang lahir dari putri Blambangan. Dari sini dapat dikatakan bahwa jelas bahwa Sunan Bonang adalah keturunan Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel, yang lahir dari Ni Gede Manila, yakni anak perempuan Gan Eng Chu, alias Arya Teja, kapten Cina di Tuban.
Sunan Kalijaga
Nama Sunan Kalijaga sangat dikenal dalam Babad Tanah Jawi. Ia dipandang sebagai salah satu dari sembilan wali yang banyak memperlihatkan karomah (kehebatan). Dalam Babad Tanah Jawi dikatakan bahwa Sunan Kalijaga waktu muda bernama Raden Said. Ia adalah putra bupati Wilatikta, saudara Ni Gede Manila, jadi ipar Sunan Ampel. Sebelum bertaubat, ia banyak berbuat kejahatan. Namun sejak bertemu Sunan Bonang, ia menjadi orang yang sangat saleh, bahkan menjadi salah satu dari wali sembilan.
Bila merujuk pada cerita Sunan Ampel di atas di mana ia adalah orang Cina sebagaimana diceritakan dalam sumber, sementara Sunan Kalijaga adalah saudara Ni Gede Manila yang Cina, maka pertanyaannya, apakah Sunan Kalijaga juga orang Cina? Menurut sumber Naskah Sam Po Kong, Sunan Kalijaga sendiri adalah anak dari Arya Teja atau Gan Eng Cu di Tuban, yang tidak lain adalah mertua Sunan Ampel. Sunan Kalijaga yang waktu mudanya bernama Raden Said itu diidentifikasikan dengan Gang Si Cang, kapten Cina di Semarang.
Sunan Bonang dan Sunan Giri
Nama Sunan Bonang dan Sunan Giri banyak dikenal dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Yang pantas diketahui adalah bahwa Sunan Bonang adalah putra kandung Sunan Ampel, sedangkan Sunan Giri adalah putra Wali Lanang (menurut Babad Tanah Jawi) atau Sayit Iskak (menurut Serat Kanda), yang lahir dari putra Blambangan, seorang murid Sunan Ampel yang sangat dikasihi.
Kronik Tionghoa dari Klenteng Semarang mencatat bahwa pada tahun 1479, seorang putra dan seorang murid Bong Swi Hoo datang melihat-lihat galangan kapal di Semarang. Mereka tidak pandai berbahasa Tionghoa. Mereka adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri. Keduanya peranakan Tionghoa, namun tidak lagi pandai berbahasa Tionghoa, karena diasuh oleh Bong Swi Hoo dalam masyarakat Islam Jawa.
Sunan Gunung Jati
Dalam Babad Tanah Jawi, diuraikan bahwa putri sultan Trenggana yang nomor empat menikah dengan Pangeran Cirebon. Namun, tidak disebutkan siapa yang dimaksud dengan Pangeran Cirebon itu. Dapat ditafsirkan bahwa Pangeran Cirebon itu adalah Sunan Gunung Jati.
Dalam Serat Kanda, diuraikan bahwa Sunan Cirebon ikut serta membangun masjid Demak. Pembangunan masjid Demak berlangsung sebelum serbuan tentara Demak ke Majapahit. Sunan Gunung Jati sendiri adalah seorang ulama dan guru agama Islam.
Sementara dalam Naskah Klenteng dijelaskan bahwa sultan Banten alias Sunan Gunung Jati tidak lain adalah sultan Banten yang pertama. Ia dikenal dengan nama Islamnya Syarif Hidayatullah Fatahillah dan gelar keulamannya Sunan Gunung Jati. Menurut Naskah Klenteng dapat diidentifikasi bahwa Sunan Gunung Jati adalah keturunan Tionghoa bernama Toh A Bo.
***
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berbagai sumber kepustakaan klasik di Nusantara menunjukkan bahwa para Walisongo merupakan tokoh-tokoh keturunan Tionghoa, alias Cina. Sebenarnya, masih menjadi perdebatan apakah memang benar Walisongo itu berasal dari Cina, atau Arab, atau mereka adalah orang-orang asli Nusantara.
Mengingat, sumber-sumber klasik banyak menyebut mereka secara acak dan berbeda-beda, baik karakter ketokohannya, kronologi sejarahnya, asal-usulnya, maupun proses perjuangannya di Nusantara. Belum lagi bila merujuk pada sumber-sumber lain yang bukan dari ketiga sumber yang disebutkan di atas. Tentunya, penelitian-penelitian lebih lanjut tentang kebenaran sejarah ini harus terus dilakukan.
Sumber: Tulisan ini merupakan saduran dari buku berjudul “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara” karya Slamet Muljana, terbitan LKiS, 2005

