Membaca Ulang Biografi Nabi Muhammad bersama Hichem Djait
h24info.ma

Membaca Ulang Biografi Nabi Muhammad bersama Hichem Djait

Islamadina.org – Dalam trilogi Sirah Nabawiyyah-nya, Hichem Djait secara khusus berbicara tentang biografi Nabi Muhammad dalam bab bertajuk Nasy’ah Muhammad (Perkembangan Muhammad).

Pada bab tersebut, Djait merekonstruksi sejarah Muhammad seperti tahun kelahiran, nama asli, usia kenabian, dan usia pernikahan Muhammad dengan Khadijah. Sirah Nabawiyyah arusutama mencatat tahun kelahiran Muhammad pada 12 Rabiul Awwal tahun 570 M, dengan nama Muhammad pemberian kakeknya, lalu menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun sementara usia Khadijah 40 tahun, dan diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun.

Dengan analisis dan pembacaan kritis yang Djait lakukan atas berbagai sumber dan riwayat, ia memperoleh kesimpulan yang berbeda dengan apa yang selama ini diyakini kebanyakan orang.

Menurut Djait, Muhammad tidak lahir baik di tahun sebelum, selama atau sesudah tahun 570 M. Dan semua riwayat yang menyebut tahun 570 M tidak dapat dipertahankan sebab dua hal:

Pertama, inskripsi yang ditemukan menunjukkan serbuan Abrahah ke Arab terjadi pada tahun 547 M. Saya coba telusuri inskripsi yang dimaksud oleh Djait dan menemukan sumber yang dikutip oleh beberapa situs, yaitu DASI: Digital Archive for the Study of pre-islamic arabian Inscriptions: Object, namun ketika tautan tersebut kita klik, kita akan diberi informasi bahwa asosiasi tersebut telah memiliki situs baru dan perlu akun untuk mengaksesnya.

Selain itu, tidak ada alasan apapun sehingga momentum kelahiran Muhammad dapat dipahami urgensinya. Dengan demikian, ‘tahun gajah’ yang dilekatkan pada kelahiran Muhammad tidak lebih dari korelasi temporal saja.

Kedua, jika benar bi’tsah (pengutusan) Muhammad terjadi pada kisaran 610 M, sementara peristiwa hijrah ke Madinah terjadi pada 622 M sebagaimana tercatat dalam papyrus yang sampai pada kita, mengapa sumber-sumber sejarah menetapkan bahwa Muhammad diutus pada usia 40 tahun?

Usia 40 tahun menurut ukuran waktu itu sudah disebut tua (syaikhukhah), bukan dewasa lagi (kuhulah), dan nabi menghabiskan kurang lebih 20 tahun setelah itu.

Dalam tradisi Semit angka 40 adalah angka sakral. Sehingga Djait menilai 40 bukanlah usia faktual nabi ketika mendapat wahyu. Qur’an juga menunjukkan bahwa usia 40 adalah usia maksimal orang di fase dewasa seperti disitir dalam al-Ahqaf: 15. Selain itu, pada ayat lain, yaitu Yunus: 16, Qur’an menggunakan diksi ‘umur. Dalam peradaban kuno, ‘umur diartikan sebagai jail (generasi). Artinya ‘umur adalah sebutan untuk fase manusia ketika ia telah memiliki keturunan (anak maupun cucu). Bila diukur dengan angka, boleh dibilang usia 30-an tahun.

Sehingga Djait menyimpulkan bahwa Muhammad diutus pada usia 30 atau sebelum itu, dilahirkan pada kisaran tahun 580 M, dan hidup selama 50 tahun lebih (tidak sampai 60).

Kesimpulan Djait tersebut juga berbeda dengan yang dikutip al-Zanjani dalam Tarikh Qur’an-nya, yang menyebut Muhammad lahir pada hari Senin, 9 Rabiul Awwal (20 April) tahun 571 M.

**

Semua Sirah Nabawiyyah juga sepakat bahwa Muhammad adalah keturunan Bani Hasyim dari pihak ayah, sementara ibunya berasal dari Bani Zuhrah. Bani Hasyim adalah putra Abd Manaf, sehingga silsilah Muhammad adalah ibn Abdullah ibn Abd al-Muttalib ibn Hasyim ibn Abd Manaf ibn Qusay.

Leluhur yang mempertemukan Bani Hasyim, Bani Abd Syams dan Bani Nawfal adalah Abd Manaf. Sehingga tidak dapat diragukan lagi bahwa Muhammad adalah putra Quraisy. Akan tetapi, Djait menyebut riwayat-riwayat yang menceritakan kehidupan Bani Hasyim tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Termasuk riwayat tentang kakek Nabi, Abd Mutalib, dapat dipastikan kisah tentangnya adalah karangan bermotif politis untuk menyanjung Bani Abbas.

Putra-putra Hasyim pun tidak ada yang menonjol kecuali Abd Mutalib (itu pun karena kakek Nabi?). Begitu pula putra-putra Abd al-Mutalib, tidak ada yang benar-benar menonjol di masyarakat Makkah. Di antara yang kita ketahui adalah Abu Talib, Zubair, Harits, Abbas, Hamzah, Abu Lahab, dan empat yang lain dalam Sirah Nabawiyyah. ٍSebuah bait dikutip Djait untuk memberi kita data masing-masing nama putra Abd Mutalib berikut:

اعـدد ضـرارا ان عـددت فـتى نـدى

والليــث حمــزة واعــدد العباسـا

واعــدد زبيــرا والمقــوم بعــده

والصـــتْم حجلا والفــتى الراآســا

وأبــا عتيبــة فاعــددنه ثامنـا

والقــرم عبــد منــاف والجساســا

والقــرم غيــداقا تعــد جحاجحــا

ســادوا علـى رغـم العـدو الناسـا

والحــارث الفيــاض ولــى ماجــدا

أيــام نــازعه الهمــام الكاســا

Djait heran dengan bait di atas. Pasalnya tidak ada nama Abdullah (ayah Nabi). Dalam bait tersebut hanya menyitir al-fata al-ra’asa (dalam beberapa naskah tertulis الدرفاسا dibaca darfasa, yang berarti singa berleher besar) tanpa penegasan yang jelas. Dalam beberapa sumber, sebutan tersebut dipahami antara Harits dan Abdullah.

Abdullah bukanlah nama asing dalam klan Quraisy, bahkan bagi orang Arab secara umum. Salah satu leluhur Bani Makhzum, yaitu al-Mughirah, memiliki nama asli Abdullah ibn Umar ibn Makhzum. Ada juga Abdullah ibn Jad’an al-Taymiy. Kita jamak menemukan nama yang disandarkan pada sesembahan seperti Abd Manaf, Abd Syams, Abd al-Uzza, dan ketiganya adalah nama yang sering digunakan keturunan Abd Manaf.

Salah satu kebiasaan yang berlaku bagi orang Arab adalah menamai keturunannya dengan nama-nama kakeknya. Abu Talib, sebagai contoh, nama aslinya adalah Abd Manaf. Abu Lahab bernama asli Abd al-Uzza, dan putra Mutalib, memiliki nama yang sama dengan pamannya, yaitu Hasyim. Tidak demikian dengan Abdullah dalam silsilah famili ini. Ia lazim digunakan oleh Bani Makhzum.

Namun hal tersebut tak lantas menjadikan nama Abdullah tidak mungkin digunakan. Ibu Abdullah dan Abu Talib (neneknya Nabi) adalah keturunan Bani Makhzum. Mengingat penamaan seorang anak dilakukan oleh pihak ayah, maka hal tersebut agak tidak logis.

Ada penjelasan lain yang mungkin lebih logis. Dakwah Muhammad adalah menyembah Allah. Ia juga diketahui mengubah nama pagan para sahabatnya, lalu menamainya dengan nama Islam. Jadi, masuk akal jika Muhammad lah yang menamai ayahnya dengan Abdullah, atau para sahabat dan pengikutnya. Sehingga Abdullah memiliki nama asli yang belum teridentifikasi oleh Djait sendiri, yang dalam sumber klasik disebut al-fata al-ra’asa.

**

Yang ditinjau berikutnya adalah meninggalnya ayah Nabi (Abdullah) sewaktu Aminah sedang hamil. Hal ini juga sulit diterima karena dua hal: riwayat tentangnya begitu beragam, dan sejarah asal usul nabi telah bercampur dengan sesuatu yang para sejarawan sebut legenda pahlawan yang diciptakan bagi sebuah peradaban, bangsa dan agama. Djait menyebut beberapa contoh seperti Sergon, Moses, dan Yesus.

Demikian juga dengan narasi Muhammad yang dicitrakan tidak mengenali ayahnya, yang meninggal sebelum ia lahir, tidak memiliki anak laki-laki, baik meninggal waktu kecil atau tidak pernah sama sekali. Semua narasi tersebut tidak lebih dari myths of heroes.

Sehingga, Djait lebih setuju dengan Ibn Habib dalam al-Muhabbar, bahwa ayah Nabi wafat saat usianya baru 28 bulan, lalu ibunya wafat saat usianya masih 8 tahun, dan kakeknya wafat sebelum Nabi lahir.

**

Nama Muhammad juga tidak lepas dari tinjauan ulang Djait. Sebab nama Muhammad baru muncul dalam Qur’an pada fase Madinah, dan itu disebut empat kali masing-masing dalam al-Fath: 29, Ali Imran: 144, al-Ahzab: 40, dan Muhammad: 2, serta nama lain Muhammad yaitu Ahmad, sekali dalam al-Saff: 6, itu pun juga pada fase Madinah.

Kata muhammad dalam bahasa Arab berarti yang banyak dipuji sementara ahmad dapat diartikan sebagai yang paling terpuji. Kata lain, hamid, merupakan salah satu sifat Allah dalam Qur’an.

Dalam al-Saff: 6, tampak sekali hubungan Muhammad dengan tradisi Nasrani, yaitu Injil Yohanes, yang menyebut Paracletos di dalamnya. Sementara kata muhammad, ia diambil dari bahasa Suryani, mahmadan, yang digunakan sebagai gelar para adipati Ghassanid yang berarti paling mulia, agung, dan masyhur. Dalam bahasa Yunani dan Latin, disebut illoustrios.

Dengan demikian, muhammad merupakan gelar, bukan nama. Lalu apa nama asli Muhammad di Makkah? Sebagaimana kita tahu nama Yesus sebenarnya adalah Yeshua (يسوع), atau Isa dalam Qur’an, atau Imanuel dalam injil. Nama asli Muhammad masih samar. Sumber-sumber klasik menyebut ia dipanggil Muhammad sejak kecil. Konon sebagian orang Arab menamai putra-putra mereka dengan muhammad dengan harapan kelak menjadi nabi.

Barangkali al-Baladhuri memberi kita jawaban dalam Ansab al-Asyraf. Pada bagian profil Abdullah, al-Baladhuri menyebut kunyah — jenis panggilan atau honorifik Arab yang biasa dibentuk atas kata Abu (ayah) atau Ummu (ibu) seperti Abu Talib dsb — ayah Nabi dengan Abu Qutsam (ayahnya Qutsam), dan Abu Muhammad (ayahnya Muhammad). Dari kedua kunyah tersebut, yang pertama adalah yang lebih laik. Jadi, nama asli Nabi adalah Qutsam.

Dalam tempat lain juga disebutkan bahwa Abd Mutalib memiliki seorang putra kesayangan yang meninggal waktu kecil bernama Qutsam. Sehingga masuk akal jika Nabi dinamai dengan nama pamannya seperti yang lazim dalam tradisi Quraisy. Kemudian ketika Nabi memakai gelar muhammad, atau lebih tepatnya diberikan oleh Allah melalui wahyu, Abbas menamai putranya dengan Qutsam, sebab nama tersebut telah ditanggalkan oleh Nabi sebagai nama aslinya.

**

Bila pertanyaan “pada usia berapa Muhammad dengan Khadijah menikah?” diberikan kepada umat Islam, hampir dipastikan jawabannya adalah pada usia 25 dan 40. Angka 40 muncul lagi. Sebagaimana penjelasan di atas, ia sebatas simbol. Selain itu, sumber-sumber klasik juga menambahkan narasi kefakiran dan kemarjinalan Muhammad serta sulitnya nasib jodoh Muhammad yang tak kunjung mendapat wanita Quraisy. Narasi-narasi tersebut disandarkan pada al-Dhuha: 8, yang semula papa lalu dicukupkan oleh Allah.

Djait melihat sumber-sumber tersebut, terutama Ibn Ishaq, ingin menyimbolkan kesulitan hidup dan kepayahan yang dihadapi oleh Muhammad: ditolak kaumnya dan melajang sampai usia 25 tahun, dengan susah payah.

Kata ‘a`il (عائل) berarti fakir, tapi bisa juga berarti tanggung jawab atas keluarga dan anak. Sementara kata aghna (أغنى) berarti kaya, tapi bisa juga berarti berkecukupan sehingga ia tidak perlu mencari rezeki dan fokus pada dakwahnya. Jadi ayat tersebut tidak dipahami ‘mula-mula Muhammad fakir, kemudian menikah dengan Khadijah lalu menjadi kaya’.

Dengan demikian, salah satu riwayat al-Baladhuri, bahwa usia Muhammad sewaktu menikah adalah 23 tahun dan Khadijah 28 tahun, lebih dapat diterima daripada riwayat yang menyebut 25 dan 40.

Ala kulli hal, semua pembahasan dan persoalan yang telah kita lewati dilakukan dengan metode historis-kritis. Benar bahwa fase hidup Nabi sebelum dakwah masih samar dan tidak diketahui secara pasti. Namun jika kita menggunakan metode yang benar-benar ketat, maka kita wajib mengatakan bahwa kita tidak mengetahui apapun sebelum dakwah kecuali petunjuk yang begitu sedikit dari Qur’an, dan mengatakan semua yang diceritakan dalam riwayat-riwayat sejarah adalah khayalan dan mitos belaka. Bagaimana?

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *