Oleh: Wardatur Rochmah
Islamadina.org – Barzanji adalah salah satu kitab yang berisi perjalanan Nabi, pujian dan doa. Sayyid Zainal Abidin Ja’far bin Hasan al Barzanji menyusunnya dalam prosa dan bait indah sehingga selain berkah, Barzanji juga populer, utamanya di kalangan masyarakat Indonesia.
Melesatnya Barzanji sebagai piranti dakwah kultural tidak lepas dari budaya dan tradisi masyarakat yang senang berkumpul dan mengadakan acara seremonial untuk berbagai peringatan maupun ritual. Para ulama menyisipkan pembacaan Barzanji menyisip ke dalam tanpa menghapus nilai-nilai lokal. Dalam perkembangannya, pembacaan Barzanji juga menjadi seremoni tersendiri tanpa bergabung dengan lain.
Pembacaan barzanji pun mengikuti cara modern yakni dengan menggunakan musik islami seperti hadrah sebagai pengiringnya. Barzanji dengan menggunakan media tradisi dan seni yakni pembacaan syair dengan irama tertentu menjadikan masyarakat menikmatinya seperti seni, sehingga pembacaan barzanji dapat menjadi dakwah kultural untuk menyampaikan kisah dan pesan-pesan agama di era modern saat ini.
Pembacaan Barzanji mengantarkan kita pada tauladan Nabi Muhammad SAW karena tiap bait yang tertulis membawa kita pada kerinduan, menghanyutkan para pembaca pada pertemuan, terkhusus ketika kita berada di tahap mahalul qiyam.
Dengan gaya bahasa Arab yang indah, entah pembaca mengetahui atau pun tidak akan artinya, tetapi mereka seperti memahami makna yang tersirat di dalamnya. Sehingga tidak sedikit para pembaca yang meneteskan air mata karena pecah kerinduan dan merasakan kehadiran Kanjeng Nabi di tengah pembacaan.
Barzanji dibaca dan dinikmati oleh seluruh kalangan, ia tidak memandang tua atau muda, tidak jarang anak-anak juga sering membawakannya, karena Barzanji memiliki kemampuan menumbuhkan kecintaan pada Nabi SAW dan nilai-nilai Islam melalui cerita dan lantunan indah.
Meskipun bukan kewajiban agama, barzanji menjadi media efektif untuk menyebarkan ajaran Islam dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, terutama di kalangan masyarakat yang lebih menyukai pendekatan kultural dalam berdakwah.
Meski pembacaan barzanji menjadi tradisi lama, akan tetapi barzanji tetap relevan di zaman ini karena syair barzanji bisa digabungkan atau dikemas dengan lebih menarik. Tidak hanya melalui hadrah dan salawat, syair barzanji juga dapat dilagukan dengan musik kontemporer seperti pop, religi hingga jazz islami tanpa menghilangkan nilai aslinya agar mampu masuk dalam platform seperti Spotify, Tiktok hingga Youtube.
Gema Barzanji di era modern tidak hanya sebatas duduk dalam satu majelis dan membaca bersama, namun juga bertransformasi menjadi dakwah lintas media seperti musik hingga festival budaya. Dulu barzanji sebagai identitas budaya yang hanya melestarikan tradisi islam lokal di acara keagamaan. Kini Barzanji menjadi simbol Islam Nusantara yang bisa ditampilkan dalam ruang publik dan wisata religi.
Sepadan dengan isi Barzanji, semoga kita yang membaca Barzanji dapat syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW di Hari Akhir. Aamiin.

