Nabi Muhammad Saw. Teladan Berpikir Profetik
umy.ac.id

Nabi Muhammad Saw. Teladan Berpikir Profetik

Oleh: Zaprulkhan

Kalau diajukan pertanyaan kepada kita sebagai umat Islam: Siapakah teladan ideal kita dalam kehidupan ini? Tentu saja, kita akan menjawab dengan penuh keyakinan: teladan ideal kita adalah Nabi Muhammad Saw.

Namun pertanyaannya masih bisa kita lanjutkan: Apakah yang harus kita teladani dari sosok insan kamil seperti Nabi Muhammad Saw? Lazimnya kita menjawab: bahwa kita harus meneladani seluruh tutur sapa, sikap dan perilakunya. Kita mesti meneladani Nabi Muhammad Saw dalam seluruh aspek kehidupannya. Kita mesti meneladani perilaku Nabi Muhammad Saw sebagai seorang suami dan ayah, sebagai seorang pemimpin dan pendidik, sebagai pemimpin militer dan negarawan, sebagai hakim dan pribadi yang mulia, sebagai seorang pejuang kemanusiaan sekaligus sebagai pengabdi Tuhan, dan pelbagai aspek kehidupan beliau lainnya.

Meskipun demikian, pernahkah terbersit dalam diri kita untuk meneladani sosok Nabi Muhammad Saw sebagai seorang pemikir agung? Pernahkah kita menyadari bahwa Nabi Muhammad Saw di samping sebagai seorang pemimpin dan negarawan, beliau juga seorang pemikir yang amat sangat hebat? Pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa Nabi Muhammad Saw selain sebagai seorang pejuang kemanusiaan dan pengabdi Tuhan yang paling tulus ikhlas, beliau juga merupakan seorang pemikir besar yang melampaui kebesaran semua pemikir?

Pernahkah terbetik dalam benak kita bahwa di samping sebagai seorang hakim yang bijaksana dan pendidik yang ulung, beliau juga sebenarnya merupakan seorang pemikir rasional-transendental yang begitu piawai menyatukan antara pesan sakral langit dengan kebutuhan profan bumi sehingga mampu membawa efek transformatif-progresif: membawa perubahan positif secara dramatis bagi kemajuan kemanusiaan?

Kalau kita gagal melihat keteladanan sang Nabi pada dimensi ini, justru keteladanan pada dimensi inilah yang dilihat dan disuarakan oleh Musa Asy’arie. Bagi Musa Asy’arie, Nabi Muhammad Saw bukan hanya figur insan kamil yang patut kita teladani dalam aspek seorang pemimpin dan pendidik, seorang suami dan ayah, seorang pemimpin militer dan negarawan, seorang hakim dan figur yang mulia akhlaknya, seorang pejuang kemanusiaan dan pengabdi Tuhan yang mengagumkan, tapi juga sebagai sosok pemikir agung; sebagai seorang figur pemikir besar secara rasional-transendental. Ketika kita meneladani Nabi Muhammad Saw sebagai sosok pemikir besar inilah, kita melakukan proses berpikir profetik; proses berpikir kenabian: suatu proses pemikiran secara rasional-transendental.

Menurut Musa Asy’arie, di tengah-tengah vakumnya semangat berpikir umat Islam hari ini, berpikir profetik harus kita suarakan dengan lantang. Di tengah-tengah lesunya ghiroh intelektual pada sebagian besar kaum muslim dewasa ini, keteladanan pemikiran profetik harus digalakkan kepada mereka. Di tengah-tengah munculnya fenomena orang-orang yang memiliki semangat keagamaan yang tinggi tapi miskin wawasan keagamaan, keteladanan berpikir kenabian perlu diwacanakan ke tengah-tengah umat Islam Indonesia. Di tengah-tengah terpuruknya umat Islam dalam aspek ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, lagi-lagi spirit keteladanan berpikir profetik justru menemukan aktualitas, relevansi, dan momentumnya untuk kita suarakan hari ini.

Pertanyaan yang menggoda benak kita adalah mengapa harus mengutamakan keteladanan Nabi Muhammad Saw dalam aspek berpikirnya melampaui aspek lainnya? Dalam pengamatan saya terhadap aktivitas Musa Asy’arie, paling tidak ada dua alasan besar.

Pertama, alasan prioritas. Harus kita akui aktivitas Musa Asy’arie lebih banyak dihabiskan dalam dunia kampus, akademik, dan wacana keilmuan. Walaupun beliau juga seorang pengusaha yang sukses, tapi habitat utamanya adalah dunia kampus dan perguruan tinggi. Sejak era tahun 1980-an hingga hari ini, beliau sudah aktif mengajar, berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswanya, berbagi wawasan serta berdialektika berbagai wacana keilmuan dengan kolega-koleganya sesama dosen, para intelektual, cendekiawan, dan kaum akademisi.

Karena komunitas tempat seorang Musa Asy’arie berinteraksi secara intensif adalah dunia kampus yang bergumul dengan wacana keilmuan, maka ketika berbicara tentang keteladanan dari Sang Nabi, beliau memberikan stressing point pada aspek berpikirnya. Dengan kata lain, bagi Musa Asy’arie karakter yang paling signifikan untuk diteladani oleh umat Islam, terutama kaum akademisi adalah aspek fathonah Sang Nabi; yakni kecerdasan dan metode berpikirnya.

Sebab dunia kampus berisi para akademisi-intelektual, cendekiawan, dan ilmuwan yang selalu bergumul dengan ilmu pengetahuan. Dan untuk mengembangkan wacana keilmuwan, mau tidak mau kaum akademisi-intelektual harus mengembangkan metodologi berpikirnya secara maksimal agar pertumbuhan ilmu pengetahuan dapat berkembang secara maksimal pula. Dalam konteks ini, ketika mereka butuh teladan berpikir metodologis keilmuan, Musa Asy’arie menawarkan bahwa para akademisi-intelektual harus meneladani berpikirnya Sang Nabi.

Tatkala kaum akademisi-intelektual fokus mengembangkan kecerdasan mereka, melatih berpikir kritis konstruktif, kreatif-inovatif, dan progresif-produktif dalam ranah ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, sejatinya mereka telah menjalani Sunnah Nabi dalam berpikir. Mereka telah benar-benar mengamalkan Sunnah Nabi secara autentik yang kompatibel dengan bidang mereka.

Barangakali untuk memudahkan pemahaman kita mengenai hal ini, saya akan menayangkan beberapa komparasi berikut. Para pedagang misalnya, dapat meneladani sikap profesional dan integritas Nabi Muhammad Saw sebagai pedagang. Para jenderal bisa meneladani figur Nabi Muhammad Saw sebagai panglima dalam mengatur strategi keamanan, pertahanan dan penyerangan dalam sebuah negara. Sebagai seorang pemimpin yang cemerlang dalam berbagai bidang kehidupan, Nabi Muhammad Saw dapat kita teladani sesuai dengan bidang kepemimpinan kita masing-masing.

Sebagai seorang ayah yang kinasih kepada semua anak-anaknya dan seorang suami yang amat mencintai dan menyayangi istrinya, Nabi Muhammad Saw dapat kita teladani bagi kehidupan kita dalam memerankan diri sebagai seorang ayah dan suami bagi keluarga kita masing-masing. Begitulah seterusnya; Rasulullah Saw itu bagaikan sumber mata air teladan dimana setiap kita dapat menimba kearifan teladan yang cocok dengan bidang kita masing-masing.

Demikian juga dengan kaum akademisi-intelektual, cendekiawan dan ilmuwan dapat meneladani Nabi Muhammad Saw sesuai dengan dunia mereka. Dalam konteks ini, tentu saja kaum akademisi-intelektual harus meneladani aspek fathonah Sang Nabi yakni kecerdasan intelektual-moral-spiritual sekaligus metode berpikir dan semangat keilmuannya, scientific mentality dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya.

Fokus kaum akademisi-intelektual adalah semangat belajar, menuntut ilmu pengetahuan, melakukan riset dan menumbuhkan metodologi berpikir keilmuan secara kritis-konstruktif, positif-progresif, kreatif-inovatif dan transformatif-produktif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dengan seluas-luasnya. Kalau kalangan akademisi-intelektual perguruan tinggi tidak fokus meneladani Sang Nabi dalam membangun mentalitas keilmuan dan metodologi berpikir kritis-konstruktif-kreatif-inovatif untuk pertumbuhan ilmu pengetahuan, lalu siapa lagi yang akan meneladani Sang Nabi dalam aspek kecerdasan, spirit keilmuan dan metodologi berpikirnya? Ini aspek pertama yang dikehendaki oleh Musa Asy’arie.

Kedua, alasan kontekstual. Dalam kancah global, dewasa ini nyaris seluruh dunia Islam atau bangsa-bangsa muslim tengah mengalami keterpurukan, keterbelakangan, dan ketertinggalan dalam hal ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi sejak beberapa abad yang lalu. Musa Asy’arie tentu menyadari benar kondisi ini. Karena itu, beliau menyuarakan dengan lantang agar umat Islam mengembangkan scientific mentality dengan merujuk kepada figur Sang Nabi.

Akan tetapi dalam konteks lokal-nasional keindonesiaan kita, scientific mentality tersebut belum juga tumbuh-berkembang dan menjadi budaya di tengah-tengah masyarakat kita, hatta di kalangan kaum akademisi sendiri. Budaya semangat belajar dan berdiskusi, semangat membaca dan menulis, apalagi semangat berpikir kritis-konstruktif-kreatif-inovatif belum juga menjadi budaya kaum akademisi-intelektual.

Dengan alasan inilah, beliau selalu mengajak kakum civitas akademik untuk fokus meneladani figur Sang Nabi dalam dimensi metode berpikirnya, yakni metode berpikir profetik. Menariknya, sampai hari ini, Musa Asy’arie selalu konsisten dengan gagasan metode berpikir profetik Sang Nabi: terhadap para mahasiswa dan kaum akademisi, para intelektual dan cendekiawan di perguruan tinggi. Sunnah Nabi yang paling utama yaitu metode berpikir profetik dalam rangka menumbuh-kembangkan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi yang bermuara pada suatu kebudayaan dan peradaban universal yang mampu membawa kebajikan dan kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan umat manusia.

Dalam konteks saat ini, menurut hemat saya, teladan berpikir profetik yang disuarakan Musa Asy’arie justru semakin menemukan aktualitas dan relevansinya bagi kalangan akademisi. Saat ini, kita menemukan tidak sedikit kaum akademisi-intelektual kampus yang telah terperangkap dalam banalitas dunia media sosial. Walaupun sebagian mereka sudah mencapai level Magister bahkan Doktor sekalipun, mereka kehilangan nalar kritisnya terhadap berita-berita di media sosial. Mereka tenggelam dalam banalitas media sosial dengan berbagai wahananya, seperti WhatsApp, facebook, instagram, dan twitter misalnya tanpa disertai sikap kritis dan menelan mentah-mentah sebagian besar informasi yang muncul.

Begitu juga, kita menemukan fenomena yang amat memprihatinkan yakni larutnya sebagian kalangan cendekiawan muslim dan intelektual kampus dalam, katakanlah semacam pop culture, budaya populer atau budaya massa. Kita tahu, WhatsApp juga menjadi saluran tempat beragam bentuk ceramah-ceramah para mubaligh populer. Rupa-rupanya tidak sedikit pula kaum akademisi di kampus-kampus PTKIN yang begitu menikmati dan larut dalam ceramah-ceramah para mubaligh pop culture dalam bentuk youtube yang disebarkan melalui grup WhatsApp.

Semakin banyak bermunculan mubaligh-mubaligh pop culture, ternyata bukan hanya mempengaruhi orang kebanyakan, tapi juga kalangan akademisi dan intelektual muslim di kampus-kampus PTKIN. Kalau para mubaligh ini mampu menghipnotis dan membuat orang-orang awam terpesona, mungkin sangat wajar. Karena memang materi dan style yang mereka sampaikan dikemas secara bombastis dan praktis sedemikian rupa agar mampu memikat kelas level awam.

Akan tetapi kalau ceramah-ceramah mereka justru mampu juga mempengaruhi sebagian kalangan akademisi dan intelektual muslim kita, fenomena ini menjadi cukup menarik dan unik. Bagaimana tidak menarik dan unik, bila sudah mencapai level Doktor bahkan Profesor dalam bidang keislaman, bukan hanya terpesona tapi juga menjadi panitia kegiatan ceramah sang mubaligh, menshare jadwalnya, dan mengajak para akademisi kampus untuk menghadiri ceramah si mubaligh.

Sebenarnya tidak ada yang keliru dengan hal ini. Akan tetapi, sebagai akademisi yang sudah memiliki level pendidikan tinggi, harusnya mampu memberikan pencerahan intelektual secara akademik-ilmiah kepada para mahasiswanya. Apalagi mereka memang sudah bergelut di dunia kampus dengan berbagai wacana keilmuan yang bersifat ilmiah-akademik. Dengan kapasitas keilmuannya, seharusnya mereka berbagi wacana-wacana keilmuan terbaru dan pemikiran-pemikiran yang aktual, serta mempromosikan karya-karya terbaru yang relevan dengan dunia akedemik kampus.

Sebab, bagaimana mungkin mahasiswa-mahasiswanya akan mampu mengembangkan perspektif keilmuan sebagai seorang intelektual, cendekiawan, dan ilmuwan misalnya, kalau dosen-dosennya justru memiliki mindset ustadz-ustadz pop-culture yang sama dengan mereka? Dalam konteks ini, sebenarnya kualitas perspektif mereka nyaris menjadi tidak berbeda dengan perspektif awam; Yang membedakan hanya gelar akademik sebagai seorang Doktor atau Profesor saja.

Mengapa bisa terjadi fenomena yang demikian banal? Karena sebagian kalangan akademisi kita sudah berhenti belajar secara serius. Mereka tidak pernah lagi memburu buku-buku baru. Mereka tidak lagi membaca artikel-artikel pemikiran terbaru dalam jurnal-jurnal ilmiah. Mereka tidak pernah lagi mau membaca, mengkaji, dan mendalami wacana-wacana keislaman yang terus berkembang dengan pesat. Mereka tidak pernah lagi mengikuti diskusi masalah-masalah aktual keilmuan yang dilakukan di kalangan ilmuwan Muslim kontemporer. Ironinya, mereka malah larut dalam media sosial yang banal. Tenggelam dalam kedangkalan demi kedangkalan yang menjadi konsumsi sehari-hari kaum populis.

Di sini, tampak sekali terjadi paradoks dalam dunia kampus. Ada sebuah paradoks atau bahkan kontradiksi yang tengah menjamur: Universitas yang katanya sebagai kawah candradimuka ilmu pengetahuan, kajian, dan penelitian; sebagai cakrawala dan samuderanya kearifan, justru kini sebagian yang berjalan hanya kegiatan rutinitas belajar-mengajar yang hampa dari ghiroh kecintaan terhadap ilmu.

Tidak ada lagi wajah-wajah dengan tatapan curiosity yang menghidupkan semangat dan menyalakan akal; Tidak ada lagi kedahagaan intelektual yang menggairahkan nalar; Tidak ada lagi pencarian kearifan dengan ketekunan bergumul bersama karya-karya terbaru yang serius; Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan kritis terbuka untuk mencari jawaban-jawaban baru yang mampu memperkaya perspektif dan wajah kehidupan; Dan tidak ada lagi ketidakpuasan konstruktif sebagai salah satu karakteristik seorang intelektual, cendekiawan, atau ilmuwan.

Kini yang tampak malah gejala banalitas: sebagian kita sibuk berselancar dalam dunia maya, mengakses petuah-petuah para tokoh pop culture, yang sebenarnya tidak memiliki kompetensi keilmuan yang relevan dan setelah itu dengan penuh semangat men-share kepada pihak lain. Padahal popularitas bukan jaminan sebuah kualitas. Tapi sayangnya, banyak di antara kita yang terbuai popularitas; Terperangkap dalam keterpesonaan awam. Sebagian kaum civitas akademik justru sibuk ingin menampilkan “kesalehan” ketimbang menunjukkan diskursus keilmuan. Mereka lebih sibuk hendak mempertontonkan “ketaatan” ibadah mereka ketimbang mengeksplorasi kecerdasan penalaran mereka dalam menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan dalam berbagai dimensi seluas-luasnya.

Pada titik inilah, ajakan Musa Asy’arie bahwa metode berpikir kritis-konstruktif-kreatif-inovatif merupakan suatu yang paling pantas untuk kita teladani pada diri Sang Nabi benar-benar menemukan momentumnya. Himbauan tanpa lelah yang selalu digaungkan oleh Musa Asy’arie untuk meneladani berpikir Sang Nabi dan menumbuhkan metode berpikir profetik dengan tujuan mengembangkan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi yang bermuara pada suatu kebudayaan dan peradaban universal, justru menemukan aktualitasnya saat ini bagi kalangan civitas akademik perguruan tinggi. Itulah yang didambakan oleh Musa Asy’arie dengan gagasan metodologi berpikir profetiknya.

Zaprulkhan. Dosen IAIN Abdurrahman Siddiq, Bangka Belitung

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *