Oleh: Zaprulkhan
Ini kisah tentang William James, psikolog sekaligus filsuf terbesar Amerika. Tapi mari kita menelisik ke belakang layar kehidupannya sebelum ia menjadi orang besar. Semoga akan menyuntikkan optimisme kepada diri kita dalam merenda kehidupan yang penuh makna di masa depan.
James yang meninggal pada tahun 1910, berasal dari keluarga makmur. Ayahnya seorang ahli teologi kaya yang terkenal. Saudara laki-lakinya, Henry James, adalah seorang penulis cemerlang yang novel-novelnya masih dipelajari hingga kini. Namun sampai memasuki usia tiga puluhan tahun, Willam James adalah si gagal dalam keluarga dan kehidupan sosial.
Dalam keluh kesah di buku hariannya, James mengaku kecewa karena tidak mempunyai keahlian dalam bidang apa pun. Terlebih lagi, ia tidak yakin bisa menjadi orang baik dan bahkan seringkali terbesit perasaan untuk bunuh diri.
Pada titik puncak depresinya, James mengambil sebuah keputusan maha penting, yakni ia akan menghabiskan 12 bulan ke depan mempercayai bahwa ia memegang kendali atas dirinya sendiri dan masa depannya, bahwa ia bisa berubah menjadi lebih baik, bahwa ia mempunyai kehendak bebas untuk berubah.
Selama setahun penuh ia membiasakan diri berlatih tiap hari untuk berusaha menjadi lebih baik. Dalam buku harianya, ia mulai membiasakan menulis seolah-olah tak pernah ada keraguan mengenai kendalinya atas diri sendiri dan pilihan-pilihannya.
Tidak lama kemudian, ia mulai menikah. Ia mulai mengajar di Harvard University. Ia mulai menghabiskan waktu setiap hari bersama Oliver Wendell Holmes yang kelak menjadi hakim di Mahkamah Agung.
Setelah terbebas dari pasungan kebiasaan buruknya dan terbiasa dengan kebiasaan baiknya, James menuliskan pemikiran terkenalnya bahwa kehendak untuk percaya adalah bahan terpenting untuk menciptakan kepercayaan untuk berubah. Dan salah satu metode terpenting untuk menciptakan kepercayaan itu adalah kebiasaan.
“Seluruh hidup kita,” kata James, “sejauh memiliki bentuk yang pasti, hanyalah sekumpulan kebiasaan—praktis, emosional, dan intelektual—yang terorganisasi secara sistematis demi sukacita ataupun dukacita kita, dan tak pelak menggiring kita menuju takdir kita, apa pun itu”.
* * *
Kisah manis yang menyuguhkan optimisme ini saya dapatkan dari karya cemerlang terbaru Charles Duhigg: The Power of Habit. Kita tahu setelah itu William James menjadi seorang filsuf dan psikolog akbar Amerika.
Kita tahu nyaris semua karya-karya filsafat dan psikologinya masih menjadi sumber primer dalam universitas kelas dunia sampai detik ini. Dan kita pun tahu, ia menjadi legenda hidup yang karya-karyanya masih terus menginspirasi begitu banyak ilmuwan, psikolog, dan filsuf kehidupan yang tercerahkan hingga hari ini.
Namun satu hal yang mesti kita sadari, di balik kebesarannya itu, ternyata James sebelumnya adalah juga orang biasa yang rapuh seperti kebanyakan kita. Di balik sejuta prestasi yang mengagumkan itu, ternyata James juga sebelumnya merupakan orang yang lemah, minder, ‘bodoh’, dan ragu dalam menghadapi ketidakpastian masa depan yang kelam.
Di balik sebuah nama dan karya kehidupan yang tak lekang oleh putaran sang waktu itu, ternyata kita menemukan sosok James yang masih terlunta-lunta, gagal, dan tidak percaya diri bahkan sampai memasuki usia tiga puluhan tahun.
Tapi yang mungkin membedakan James dengan kebanyakan kita adalah setelah memasuki usia tiga puluhan tahun, ia melakukan komitmen total untuk merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya menjadi kebiasaan-kebiasaan baik dengan langkah awal berlatih selama satu tahun penuh. Hasilnya menakjubkan: setelah setahun ia menjadi percaya diri, mampu mengendalikan diri, penuh disiplin, dan komitmen, dan akhirnya menorehkan namanya pada prasasti kehidupan umat manusia dengan tinta emas abadi.
Karena itu, seperti James, siapa pun kita dan berapapun usia kita, mari mulai detik ini sebaiknya kita belajar untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan buruk dan negatif kita dengan kebiasaan baik dan positif.
Percayalah, meskipun menciptakan kebiasaan buruk dan negatif itu mudah, namun setelah tercipta akan membuat hidup kita menjadi sulit dan tidak berkualitas. Sebaliknya, meskipun menciptakan kebiasaan baik dan positif itu sulit, namun setelah tercipta akan menjadikan hidup kita mudah dan berkualitas.
Akhirnya nasihat bijak dari T. Harv Eker layak untuk kita renungkan: if you are willing to do only what’s easy, life will be hard. But if you are willing to do what’s hard, life will be easy; Jika Anda hanya ingin melakukan hal-hal yang mudah, hidup ini akan menjadi sulit. Akan tetapi, jika Anda bersedia melakukan hal-hal yang sulit, hidup ini akan menjadi mudah.
Zaprulkhan. Dosen di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

