Mata Air dari Lampung: Biografi dan Sepak Terjang Kiai Ahmad Shodiq
nu.or.id

Mata Air dari Lampung: Biografi dan Sepak Terjang Kiai Ahmad Shodiq

KH. Ahmad Shodiq merupakan ulama kharismatik yang paling berpengaruh di wilayah Lampung. Hingga sekarang beliau masih menjadi teladan bagi umat Islam sebagai sosok ulama bersahaja dan pemimpin tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Sejak wafat pada tahun 2018 silam, makamnya selalu ramai diziarahi oleh umat tidak hanya yang berasal dari lampung, tetapi juga dari seluruh pelosok negeri.

Beliau lahir di Kediri pada 1927 M dan wafat di Lampung pada 13 Juli 2018 M. Tercatat beliau menempuh pendidikan Islam di Pondok Pesantren Darussalam Kencong, Pare, Kediri di bawah asuhan KH. Ahmad Faqih atau sering dikenal dengan mbah Faqih. Selesai mengenyam pendidikan Islam di Kediri, beliau pidah ke Pondok Pesantren Pedes di daerah Jombang. Tidak lama kemudian, mbah Shodiq melanjutkan pendidikan pesantrennya dengan memperdalam ilmu Al-Qur’an dan ilmu tarekat. Mbah Shodiq kemudian nyantri dan berguru kepada KH. Adlan Ali di Pondok Pesantren Cukir, Jombang, Jawa Timur.

Pada tahun 1963, beliau hijrah ke Provinsi Lampung, tepatnya di Braja Dewa, Way Jepara, Lampung Timur. Sejak saat itulah, beliau banyak berkecimpung di dunia dakwah dan menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut.

Tidak lama setelah hijrah ke Lampung, kira-kira satu tahun kemudian, beliau mendapatkan tanah wakaf seluas satu hektar yang kemudian dipakai untuk mendirikan Pondok Pesantren Darussalamah di tempat beliau tinggal. Mula-mula, Pondok Darussalamah hanya memiliki tujuh santri, namun seiring perkembangan zaman, jumlah santrinya sudah mencapai ribuan.

Para lulusan Pondok Pesantren Darussalamah pun banyak yang kemudian meneladaninya dengan mendirikan pondok pesantren. Sebut saja di antaranya, K.H. Khusnan Mustofa Ghufron mendirikan Darul A’mal di Metro, K.H. Muchsin Abdillah (Darus Sa’adah Mojoagung, Gunungsugih, Lamteng), K.H. Nurcholis (Bandaragung, Terusannunyai, Lamteng), K.H. Nur Daim (Darussalamah, Bandaragung, Terusannunyai, Lamteng), K.H. Sahlan (Darun Najah, Sekampung, Lampung Timur), K.H. Nasikhin (Darun Najah Brajaselebah, Lampung Timur), K.H. Wahib dan Muhid (Sumbersari, Way Jepara, Lampung Timur).

Selain sebagai pimpinan Pondok Pesantren yang giat menyiarkan ajaran Islam, beliau juga merupakan seorang Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Mbah Shodiq tercatat pernah menulis sebuah tuntunan buku tarekat berjudul Air Jernih. Jamaah tarekat yang berbaiat kepada beliau pun mencapai ribuan, dan sekarang perkumpulan tarekatnya dilanjutkan oleh salah satu putranya.

Mbah Shoqid juga tercatat sebagai salah seorang pengurus di organisasi Islam Nahdlatul Ulama. Tercatat, selain pernah menjadi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung, beliau pun menjadi anggota Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2015-2020. Beliau juga dipercaya oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam menyelesaikan berbagai bersoalan umat, khususnya di kalangan NU.

Di masa hidupnya, beliau juga banyak menjalin hubungan intelektual dan spiritual dengan tokoh-tokoh nasional, sebut saja misalnya Gus Dur. Hubungan mbah Shodiq dengan Gus Dur pun cukup unik. Seringkali Gus Dur menganggap mbah Shodiq sebagai gurunya, begitu pula sebaliknya. Ini semata-mata merupakan bentuk keakraban antara hubungan keduanya yang tidak sebatas menjalin hubungan pertemanan, tetapi juga saling menimba ilmu satu dengan yang lainnya.

KH. Ahmad Shodiq merupakan ulama yang terkenal sangat sederhana, kendati beliau memiliki banyak santri dan jamaah yang tentu saja tidak kekurangan secara materi, tetapi beliau sangat menunjukkan sikap kesederhanaan, baik dari segi cara berpakaian, aktivitas bertani dengan bercocok tanam di sawah bersama para santri, hingga rumah yang tampak sangat sederhana, sebagaimana umum kita jumpai perumahan masyarakat di kampung-kampung. Inilah barangkali salah satu kekeramatan beliau, yakni meskipun sudah menjadi ulama besar dan berpengaruh, beliau tetap tawadhu atau rendah hati.

Pada bulan Ramadan tahun 2018 silam, mbah Shodiq menjadi salah satu ulama yang namanya masuk dalam daftar rekomendasi 200 Mubalig Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama RI. Ini menunjukkan bahwa kealiman dan kebesaran beliau sebagai ulama Islam tidak hanya diakui di kalangan NU saja, tetapi juga diakui secara nasional, sehingga menjadi salah satu sumber otoritatif yang keilmuannya direkomendasikan bagi segenap umat Islam Indonesia.

Sumber. Tirto dan NU Online

Islamadina.org – Tokoh

1 Comment

  1. Sangat Menginspirasi generasi era ini. semoga keberkahan ilmu beliau melimpah kepada kita semua..amin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *