Oleh: Wardatur Rochmah
Islamadina.org – Agustus yang biasa identik dengan perayaan kini juga dipenuhi kritikan. Tak hanya sibuk dengan kemeriahan, keresahan akibat kebijakan pemerintah ikut meramaikan. Yang baru, alih-alih mengibarkan bendera merah putih, berbagai kalangan memilih mengibarkan Jolly Roger. Bendera bajak laut dari cerita fiksi One Piece.
Di negara yang sehat, kritik adalah bagian tak terpisahkan untuk masukan atau evaluasi. Pun pada masa khalifah ketiga, Sahabat Utsman Bin Affan pernah menerima kritik dari salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari.
Shahabat Abi Dzar dikenal dengan seorang yang zuhud dan tidak terpengaruh oleh kemewahan dunia. Lahir di tengah kabilah Ghifar yang keras menempanya menjadi sosok yang tegas.
Karakter shahabat Abi Dzar dipoles dengan ajaran Islam sehingga menjadikan ketegasannya berbanding lurus dengan kebenaran dan kejujuran. Polemik antara Abi Dzar dengan pemerintahan khalifah Utsman bin Afffan dipicu oleh ketidakpuasan rakyat terhadap pembagian harta negara. Dimana keluarga dan kerabat Sahabat Utsman mendapat posisi terpenting dibandingkan masyarakat golongan kecil.
Dalam menyuarakan kritik, Abu Dzar Al-Ghifari tetap mengedepankan etika dan adab dalam menghadapi pemerintah. Ia menemui sahabat Utsman secara pribadi kemudian mengungkapkan keresahan dan ketidakpuasannya selama ini terhadap Utsman Bin Affan dengan sopan karena ia menghormati posisi Utsman sebagai penguasa.
Di sisi lain, sebagai kepala pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan mau mendengar kritikan Abu Dzar Al-Ghifari dan bersikap objektif. Dengan duduk dalam satu forum yang setara, Sahabat Utsman Bin Affan memberi penjelasan terkait kebijakan-kebijakan yang diambilnya. Mengenai alasan di balik pembagian harta negara yang didasarkan pada beberapa pertimbangan yakni guna memperkuat dan mengamankan umat islam.
Meski Abu Dzar tetap tidak bisa menerima kebijakan pemerintah ruang demokrasi pada masa itu terbuka dan terjaga.
Cerita ini memberikan cerminan kepada kita terkait etika memberi dan menerika kritikan. Lebih dari itu, kritik sebenarnya bukan momok bagi jalannya pemerintahan sehinga harus diberangus.
Alih-alih memberi instruksi pada masyarakat untuk hanya mengibarkan bendera merah putih dan mengancam siapa pun yang berani memasang bendera bajak laut yang sedang popular itu, setidaknya redam kegeraman public denagn introspeksi. Atau setidaknya bacalah dulu komik One Piece supaya tidak gagal paham pada simbol kritiknya.

