Nabi Pun Menjamu Non-Muslim di Masjidnya
kompas.com

Nabi Pun Menjamu Non-Muslim di Masjidnya

Oleh: Khalilatul Azizah

Islamadina.org –  Nabi Muhammad SAW telah meninggalkan teladan yang jelas menyangkut perjamuan non-Muslim di masjid. Mari ingat kembali bagaimana sikap Nabi Muhammad SAW terhadap rombongan Kristen Najran yang berkunjung ke Madinah untuk menemui beliau. Dikisahkan, terdapat 60 orang Kristen Najran terkemuka yang didelegasikan untuk menemui Nabi sekaligus meneliti bukti-bukti kenabiannya. Kunjungan itu dilakukan setelah datang surat Nabi kepada Uskup Najran yang mengajak mereka untuk masuk Islam.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya pun menyambut hangat rombongan tersebut dan menjamu mereka di Masjid Nabawi. Terjadi dialog intensif di antara kalangan Muslim dan delegasi Kristen itu membahas perihal agama, politik, juga pemerintahan hingga menghasilkan kesepakatan-kesepakatan strategis antara kedua belah pihak. Di tengah diskusi itu, rombongan Kristen izin undur diri karena waktu kebaktian telah tiba. Nabi Muhammad SAW pun mempersilahkan mereka untuk beribadah di masjid Nabi yang kemudian disusul protes para sahabat. Nabi hanya mengatakan, “Biarkan mereka beribadah.”

Betapa memukau perilaku Nabi Muhammad SAW. Sebagai kiblat utama dalam berakhlak, tentu beliau adalah figur terdepan untuk diteladani, termasuk menyangkut perkara spesifik dalam menyambut non-Muslim di masjid. Menjamu rombongan biksu thudong yang meminta izin untuk beristirahat adalah ranah muamalah. Sebetulnya tanpa perlu jauh-jauh mencari dalil toleransi, memang sudah semestinya kita memuliakan tamu yang datang sebaik mungkin.

Tertera jelas dalam sabda Nabi, bahwa “Barang siapa beriman pada Allah dan hari akhir, hendaklah ia muliakan tamunya” (HR. Bukhari-Muslim). Apalagi para biksu tersebut telah mengajukan surat resmi permohonan izin untuk singgah beristirahat, sebagaimana diungkapkan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Temanggung, Fatchur Rochman (Kumparan.com 24/5/2024).

Pihak masjid serta masyarakat setempat pun menerima mereka dengan terbuka dan secara sukarela menyiapkan beragam kudapan dan minuman untuk rombongan tersebut. Selain itu, muncul tuduhan bahwa para biksu itu melakukan ritual keagamaan di masjid karena melantunkan bacaan yang terdengar asing. Padahal yang dilantunkan adalah sebatas doa kebaikan dan keberkahan untuk umat Muslim yang telah membantu serta ikhlas menyambut kehadiran mereka. Dalam tradisi Buddha doa itu disebut Jaya Paritta.

Islam tidak akan ternista dan akidah kita pun tidak akan tergores hanya karena mempersilahkan non-Muslim beristirahat di masjid. Nabi Muhammad SAW bahkan telah menunjukkan lompatan toleransi yang mengagumkan. Alangkah baiknya kita kedepankan muamalah yang tidak berpotensi meningkatkan kesan eksklusivitas Islam di benak masyarakat luas dan tidak berpotensi menimbulkan gesekan yang tak perlu.

Khalilatul Azizah. Peminat Islamic Studies dan Hadits

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *