Wejangan KH. Zulfa Mustafa untuk Warga Nahdliyin dalam Acara Pelantikan dan Muskercap 1 PCNU Lampung Timur
dokumentasi pribadi

Wejangan KH. Zulfa Mustafa untuk Warga Nahdliyin dalam Acara Pelantikan dan Muskercap 1 PCNU Lampung Timur

Lampung Timur – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Timur menggelar acara pelantikan Pengurus PCNU masa khidmat 2025-2030 dan Musyawarah Kerja Cabang Nahdlatul Ulama ke-1 Kabupaten Lampung Timur sekaligus peringatan harlah ke-75 Fatayat Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Tribakti at-Taqwa Kecamatan Raman Utara, hari Selasa tanggal 22 April tahun 2025.

Acara tersebut dihadiri oleh Dr. (H.C.) KH. Zulfa Mustofa selaku Wakil Ketua PBNU, beberapa pengurus PBNU dan PWNU lainnya.

Dalam sambutannya, Dr. (H.C.) KH. Zulfa Mustofa menyampaikan beberapa arahan dan nasehat kepada para pengurus Nahdlatul Ulama Cabang Lampung Timur.

Berikut di antara yang disampaikan oleh Dr. (H.C.) Zulfa Mustofa:

Warga NU harus bersyukur karena NU ditakdirkan menjadi organisasi yang berkah. Walaupun sudah melampaui masa 1 abad akan tetapi Nahdlatul Ulama terus berkembang menjadi organisasi yang memberikan manfaat besar bagi umat, ibarat seperti yang disampaikan dalam Alquran “kasyajorotin thayyibatin ashluha tsabitun wa far’uha fis samaa'”.

Ayat tersebut menggambarkan bahwa Nahdlatul Ulama telah mengakar kuat dan berada di mana-mana memberikan banyak dampak positif, ada beberapa Ranting NU sudah memiliki Raudhatul Athfal, Panti Asuhan dan lain sebagainya. Keberadaan NU sudah sampai di daerah-daerah pedalaman seluruh Nusantara, di daerah-daerah yang sulit dijangkau seperti pedalaman Kalimantan, dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama telah terbentuk di banyak negara.

Fakta tersebut, menurut KH. Zulfa, menunjukkan bahwa keberadaan NU sudah sangat kokoh dan membumi di manapun berada.

Ayat di atas juga menggambarkan bahwa NU telah memberikan buah yang baik kepada banyak orang. Beberapa orang yang memiliki kedudukan penting, baik di DPR, pemerintahan, dan lain sebagainya, banyak yang terkonfirmasi berangkat dari Nahdlatul Ulama dan mereka mengaku sebagai warga Nahdlatul Ulama.

Zulfa menjelaskan bahwa keberhasilan Nahdlatul Ulama menjadi organisasi besar paling tidak didukung oleh tiga faktor.

Pertama, karena Nahdlatul Ulama memiliki kepengurusan yang berjalan secara munadzdzim, terorganisir. Oleh karena itu Pengurus Nahdlatul Ulama harus mengatur dan memiliki perencanaan yang jelas yang dirumuskan dalam musyawarah kerja. Kalau Pengurus NU tidak munadzdzim, maka mereka akan menjadi Pengurus yang munadzdzom, yaitu Pengurus yang diatur oleh orang lain yang memiliki kepentingan.

Wakil Ketum PBNU tersebut menegaskan, tugas dari pada Syuriyah adalah untuk merumuskan visi organisasi, dan visi tersebut kemudian dilaksanakan oleh Tanfidziah.

NU merupakan organisasi keagamaan sekaligus organisasi sosial. Oleh karenanya program-program NU harus berorientasi kepada gerakan-gerakan keagamaan seperti dakwah, pembinaan jama’ah, pelaksanaan acara-acara keagamaan, dan lain sebagainya. Selain itu juga harus berorientasi pada kegiatan-kegiatan sosial seperti membangun rumah sakit, koperasi, panti sosial, dan lain sebagainya.

Faktor yang kedua yang menjadikan NU sebagai organisasi besar adalah karena NU memiliki para muharrik (penggerak). Muharrik tersebut menamakan diri sebagai NU kultural, mereka tidak terlibat dalam struktur kepengurusan NU tetapi aktif menggerakkan kegiatan-kegiatan NU. Para muharrik NU bisa berasal dari latar belakang apapun, bisa dari TNI, birokrasi, atau lainnya. Para muharrik yang berada di luar struktur NU ini telah banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama.

Faktor ketiga yang mendukung NU menjadi organisasi besar adalah karena NU memiliki hadlooroh dan budayaan yang hidup dan mapan di tengah masyarakat. Praktik keagamaan yang telah membudaya dihidupkan sendiri oleh warga NU. Contoh dari kegiatan tersebut banyak sekali di tengah masyarakat, semisal yasinan, kenduri, maulid, manaqib, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut digerakkan sendiri oleh masyarakat, bahkan seandainya NU tidak memiliki pengurus struktural, niscaya kegiatan-kegiatan tersebut tetap berlangsung di tengah masyarakat.

Menurut Kyai Zulfa, NU kaya sekali dengan kegiatan-kegiatan semacam itu, hampir setiap bulan ada saja kegiatan-kegiatan keagamaan yang telah mentradisi, mengakar di tengah masyarakat.

Dengan demikian, pengurus NU harus bergerak tidak boleh kalah dengan muharrik-muharrik yang berada di luar struktur NU. Jangan sampai menjadi pengurus yang diam, mabmi. Jangan menjadi pengurus NU yang justru menjadi urusan NU.

Kyai produktif tersebut menegaskan, pengurus-pengurus NU harus memiliki ikatan dan hubungan yang kuat dengan masyarakat bawah, karena NU dibesarkan oleh masyarakat bahwah.

Itulah yang membedakan NU dengan Muhammadiyah, NU besar dari bawah sedangkan Muhammadiyah besar dari atas.

Pada tahun 1935 Syekh Sholeh bin Ali Alhamid seorang ulama dari Yaman menulis sebuah kitab “Rihlah Jawa Al Jamilah”. Dalam kitab tersebut dikisahkan, pada tahun 1935 Muhammadiyah sudah menjadi organisasi yang maju, memiliki rumah sakit dan lain sebagainya.

Kemudian Syekh Sholeh juga menggambarkan di Jawa ada organisasi Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi yang diisi oleh para ulama dan para fuqaha.

Terakhir, KH. Zulfa berpesan, karena NU sudah begitu kuat mengakar pada tradisi-tradisi masyarakat, maka pengurus-pengurus NU harus mampu memanfaatkan kondisi ini dengan menjadi pengurus yang pintar. Sebab untuk menopang kemandirian Nahdlatul Ulama “al i’timad ‘ala an-nafs”, NU harus dekat dengan warganya dan tidak tergantung kepada siapapun, apalagi tergantung kepada penguasa.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *