Oleh: M.S Arifin
Dalam beberapa hal yang mendasar, istilah ‘rasa aman ontologis’ (ontological security) yang diungkap oleh Anthony Giddens serupa dengan istilah ‘momen ontis’ dalam bangunan filsafat Heidegger. Rasa aman ontologis adalah kesadaran praktis di mana seseorang sudah tidak lagi perlu mempertanyakan kesehariannya.
Orang tidak perlu bertanya kenapa ketika hendak memasak perlu menyalakan kompor, ketika lampu lalu lintas berwarna merah harus berhenti, ketika memasuki tempat ibadah harus diam dan tenang, dan seluruh aktivitas keseharian lainnya. Heidegger menandai momen ontis sebagai keluruhan Dasein dalam keseharian, di mana suatu kegiatan dapat digantikan oleh orang lain, sebagai lawan dari momen ontologis: kematian, misalnya, yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.
Titik tekan Giddens dengan istilahnya tersebut terdapat pada kesadaran praktis masyarakat yang dibentuk oleh diri mereka sendiri. Kesadaran praktis ini bisa berupa kesepakatan apapun, baik yang tertulis maupun yang tak tertulis, baik yang formal maupun non-formal, baik yang legal maupun ilegal.
Masyarakat memiliki dua aturan: (i) legal-formal, yang tertuang dalam perundang-undangan seperti lampu lalu lintas, dan (ii) kultural-non-formal, yang terpotret dari kesepakatan bisu antar-individu dalam tubuh masyarakat, seperti tata-krama dalam memasuki tempat ibadah. Latar belakang Giddens sebagai pengkaji sosiologi membedai Heidegger yang merupakan filsuf eksistensialis.
Jika Giddens fokus kepada gejala sosial, Heidegger fokus kepada gejala individual. Heidegger berpendapat bahwa untuk melangsungkan hidupnya, Dasein harus keluar dari momen ontologis ke momen ontis, yaitu ketika dia menjadi Das-man (siapapun).
Kendati Heidegger mengunggulkan momen ontologis dengan menyebutnya “autentik”, akan tetapi Heidegger sadar bahwa tidak ada Dasein yang bisa hidup selamanya di momen tersebut. Momen ontis, boleh dibilang, sebagai rasa aman ontologis-nya Giddens, dalam spektrum filosofis-fenomenologis.
Selain rasa aman ontologis, kehidupan praktis kita juga dijaga oleh rasa aman linguistik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak pernah mempertanyakan kenapa ketika saya disapa seseorang maka saya akan balik menyapanya, atau ketika seseorang mengucapkan terima kasih saya akan membalasnya sama-sama. Inilah yang saya sebut dengan rasa aman linguistik (linguistical security).
Selain menyaru kehidupan sehari-hari kita, rasa aman linguistik juga melebar ke disiplin ilmu pengetahuan. Ketika kita membaca buku geografi, kita dihadapkan dengan istilah-istilah yang ada di dalamnya. Oleh sang penulis, kita diasumsikan sudah memahami terma-terma geografis yang tentunya berbeda sama sekali dengan bahasa keseharian.
Jika kita adalah pengkaji geografi, maka kita memiliki rasa aman linguistik yang bekerja sebagai penjamin terhadap pemahaman kita tentang ilmu geografi. Ini juga berlaku untuk disiplin keilmuan lainnya.
Hal ini searah dengan pendapat bahwa ilmu pengetahuan itu eksklusif. Orang yang menghendaki bahasa filsafat seperti bahasa keseharian, misalnya, berarti tak memahami ekslusivitas ilmu. Dengan istilah yang lain, Wittgenstein menyebutnya dengan permainan bahasa (language game).
Wittgenstein I (yakni Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus) meyakini bahwa hanya ada satu bahasa universal, yaitu bahasa yang dapat mencerminkan realitas. Sedangkan Wittgenstein II (yakni Wittgenstein dalam Philosophical Investigations) meyakini bahwa ada banyak bahasa yang mencerminkan gelanggangnya masing-masing.
Bahasa dalam fisika berbeda dengan bahasa dalam ilmu sastra, dan seterusnya. Bahasa keseharian, dengan demikian, berbeda dari bahasa dalam ilmu pengetahuan. Semuanya memiliki rasa aman linguistik-nya tersendiri.
Rasa aman lingustik ini memiliki kondisi yang oleh Heidegger disebut pra-pemahaman. Setiap pemahaman memiliki pra-struktur, suatu presuposisi yang memungkinkan suatu pemahaman akan sesuatu terjadi. Pandangan Heidegger ini kemudian disebut sebagai Hermeneutika Faktisitas, yaitu suatu hermeneutika yang menekankan pemahaman dalam diri Dasein sebagai faktisitas, atau ada begitu saja.
Dasein ada di dunia dengan seperangkat pemahaman yang menjaga eksistensinya dalam keseharian. Tetapi memahami di sini tidak melulu soal linguistik—sebagaimana dalam Hermeneutika klasik (Schleiermacher dan Dilthey). Memahami adalah seperangkat faktisitas Dasein sebagai ada-di-dalam-dunia. Jadi, ditimbang dari sini, boleh dikatakan bahwa rasa aman ontologis di waktu yang sama adalah rasa aman linguistik.
M.S Arifin. Alumni Universitas Al-Azhar Mesir

