Sebenarnya, Ibnu Thufail adalah seorang dokter. Namun, ia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang filsafat, sastra, politik, hukum, dan fisika. Ia lahir pada 500 H/1106 M di kota kecil bernama Wadi Asy, sebelah timur laut Granada, Spanyol. Nama panjangnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Abdul Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Thufail al-Andalusi al-Qisi.
Ibnu Thufail hidup dan bekerja sebagai sebagai sekertaris Gubernur Granada, Spanyol, yang saat itu berada di bawah pemerintahan dinasti Muwahhidin. Selanjutnya ia menjadi dokter pribadi Abu Ya’qub Yusuf, khilafah kedua, sekaligus juga penasihat politiknya. Ibnu Thufail juga menjadi guru Ibnu Rusyd, dialah yang telah memperkenalkan muridnya itu pada pemerintahan Muwahhidin.
Kedudukannya itu kemudian digantikan oleh Ibnu Rusyd, murid sekaligus seorang filsuf Muslim agung dari Andalusia. Tiga tahun setelah mengundurkan diri dari istana, yaitu tahun 1185, sang dokter yang juga filsuf ini menghembuskan nafas terakhirnya di kota Marakesh, Maroko, dan dikebumikan di sana.
Ibnu Thufail meninggalkan beberapa karya intelektual yang sebagian besar telah hilang. Yang tersisa hanya roman filsafat Hayy ibn Yaqdzan dan beberapa penggalan karya sastra. Naskah lengkap Hayy ibn Yaqdzan telah meluas beredar di Timur Tengah bahkan sampai ke penjuru dunia. Sebagai karya alegoris, Hayy ibn Yaqdzan telah memberi pengaruh besar di Barat setelah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1674 dan sesudah itu ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan Asia.
Menurut Abdullah Saeed (2014), karya Ibn Thufail memang tidak sesistematis al-Farabi dan Ibnu Sina, tetapi Ibn Thufail dianggap sebagai tokoh yang paling utama dalam “Revolusi Andalusia” dalam menentang pandangan astronomi Ptolomean, dan tokoh yang menjembatani antara pandangan kreasionisme al-Ghazali dan eternalisme Aristotelian dalam tradisi filsafat Islam.
Salah satu ide filsafat Ibn Thufail menjelaskan bahwa manusia mempunyai potensi untuk mengenal Tuhan dengan cara melihat, memikirkan, dan merenungkan alam semesta. Gagasan ini bisa ditemukan dalam karya alegorisnya Hay ibn Yaqdzan, meski karya ini tidak terpengaruh oleh kebiasaan dan cara berpikir di lingkungan sosialnya, tapi Ibnu Thufail mampu mengungkapkan persoalan hubungan antara manusia, akal, dan Tuhan.
Barangkali tidak berlebihan bila dikatakan bahwa karya Hayy ibn Yaqdzan ini sebagai roman filsafat paling unik dalam sejarah filsafat Islam. Novel itu membahas tema-tema rumit dan sulit, namun dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Jadi, hemat saya, siapapun dapat dengan mudah membacanya, khususnya dalam versi terjemahan.
Dalam buku Hayy ibn Yaqdzan, dikisahkan bahwa Hayy, yang tumbuh-kembang di sebuah pulau kecil tak berpenghuni dan dipelihara oleh seekor rusa, mampu menemukan hakikat kebenaran filsafati tentang realitas kosmik dan tentang adanya Pencipta melalui usaha-usaha intelektualnya sendiri.
Suatu ketika, Hayy bertemu dengan seorang sufi bernama Asal yang datang dari pulau seberang. Pertama-tama, Asal mengajarkan bahasa kepada Hayy, dan memperkenalkan kepadanya tentang agama langit yang dianutnya (Islam) serta tentang ajaran kenabian (Muhammad). Sebenarnya, Hayy sadar bahwa ajaran agama langit yang diajarkan Asal itu memang benar dan sesuai dengan temuan intelektualnya sendiri.
Namun, Hayy masih belum bisa memahami mengapa di kitab agama langit itu (Alquran), pembicaraan tentang Tuhan disampaikan melalui bahasa kiasan atau perumpamaan, dan mengapa Tuhan mengizinkan manusia untuk mengejar kepentingan-kepentingan duniawi.
Untuk menjelaskannya, Asal lantas mengajak Hayy ke pulau asalnya yang dipimpin oleh seorang bernama Salaman. Setelah Hayy menyaksikan bagaimana Asal mengajarkan ilmu kepada Salaman dan murid-muridnya, yang notabene tidak memiliki kecenderungan dan kapasitas di bidang filsafat seperti dirinya, barulah Hayy sadar bahwa ada hikmah tersendiri di balik penggunaan bahasa kiasaan di dalam pewahyuan Alquran itu, dan bahwa sebetulnya orang awam sudah cukup puas dengan hukum-hukum yang sifatnya umum.
Singkat cerita, Hayy dan Asal kemudian kembali ke pulau yang tak berpenghuni sebelumnya untuk menjalani hidup dengan uzlah atau kontemplasi-kontemplasi filosofis yang mendalam.
Isi cerita dalam Hayy ibn Yaqdzan pada intinya berkisar tentang masalah-masalah mendasar filsafat, dan juga berkaitan dengan persoalan apakah kebenaran filosofis yang rahasia itu seharusnya disingkapkan dan diumumkan atau tidak. Kira-kira, Hayy ibn Yaqdzan berkutat seputar enam argumentasi filosofis yang paling mendasar dalam filsafat, di antaranya;
Pertama, persoalan metafisika, seperti persoalan seputar kekekalan dunia. Menurut Ibnu Thufail, sesungguhnya persoalan metafisik ini selalu terbuka untuk diinterpretasikan kembali dan dapat dipecahkan secara berbeda-beda. Kedua, tidak ada kontradisi antara filsafat dan agama, sebab agama dan filsafat pada hakikatnya adalah sama, yakni mencari dan menemukan kebenaran yang sejati.
Ketiga, kebenaran terekspresikan melalui dua bentuk yang berbeda; pertama secara simbolik yang mengacu pada bentuk-bentuk ilustratif yang bisa ditangkap oleh orang awam; kedua secara tepat atau murni, yang hanya dapat ditangkap oleh sebagian kalangan tertentu saja.
Keempat, seorang filsuf yang telah mencapai tingkat kemampuan spekulasi yang tinggi memungkinkan untuk bersatu dengan Akal Aktif (Tuhan) yang merupakan puncak dari tujuan kebijaksanaan. Kelima, sesungguhnya kehidupan masyarakat yang dijalani oleh manusia itu rusak, dan tidak ada cara lain yang cocok untuk memperbaikinya kecuali dengan agama yang populer. Sementara ilmu hikmah, hanya dimiliki oleh mereka yang mendapat karunia ketinggian akal murni.
Keenam, rasio, meskipun tidak melalui sarana lain kecuali hanya dirinya sendiri, dan ketika ia terhubung dengan Akal Aktif, ia akan mampu mengetahui rahasia alam yang paling mendalam, sehingga manusia juga akan sampai pada solusi problem-problem metafisik yang paling rumit.
Dari keenam argumentasi yang tertuang dalam buku Hayy ibn Yaqdzan, dapat disimpulkan bahwa Ibnu Thufail percaya bahwa dalam perkembangan pemikiran manusia, sesuai dengan fitrah promordialnya, manusia dapat mencapai pengetahuan tentang hakikat Tuhan, bahkan ketika manusia itu tak mendapat pengetahuan tentang agama.
Terakhir, Ibnu Thufail mengkritisi doktrin keabadian dunia dan doktrin creation ex nihilo (kebaruan dunia). Kedua doktrin ini memang sangat mewarnai perdebatan kosmik selama perkembangan filsafat Islam abad pertengahan, tapi Ibnu Thufail sendiri lebih memilih jalan tengah di mana Tuhan, sebagai pencipta alam ini, mendahului ciptaan dalam esensi, bukan dalam eksistensi (waktu).

