Oleh: Media Zainul Mahdi
Pertama, di akhir tahun 1990-an hingga 2010 ada fenomena “ustadz seleb” atau “ustadz selebritis” dalam panggung Islam Indonesia. Selain konten yang ringan dan menghibur, ada manajer, tim kreatif, tarif manggung/tampil dan lain-lain. Sosok ustadz atau da’i sekaligus menjadi artis, seleb, main sinetron, jadi bintang iklan; jadi publik figur. Ustadz seleb itu tidak hanya terkenal tapi juga kaya, ke mana-mana naik turun pesawat private-jet, dikelilingi artis dan sosialita kaya.
Sebelum fenomena “kapitalisme Islam Indonesia” ini, Kristen sudah duluan. Di Amerika, di tahun-tahun 1950-an (1952 atau 1958) ada fenomena “televangelis”, pendeta seleb yang sangat populer di televisi. Telepenginjilan atau televangelis (tele: jarak jauh; evangelisme: penginjilan atau pelayanan) adalah “pelayanan” Injil, umumnya di Tv-Tv atau radio, yang bisa menjangkau jemaat-jemaat Kristen yang sangat jauh atau khalayak yang lebih luas. Sebagaimana “ustadz seleb”, para pendeta atau penginjil seleb juga sangat populer, kaya raya, punya jet pribadi, penampilan perlente, juga dikelilingi oleh rumors dan gosip layaknya artis seleb. Apakah fenomena ustadz seleb di Indonesia sengaja didesain dengan mencontek/mencontoh televangelisme Kristen? Sangat mungkin.
Kedua, sudah lama banget umat Kristiani beribadah diiringi musik. Umat Kristiani, mungkin di seluruh dunia, udah biasa menyelenggarakan ibadat di dalam gedung, di hotel, di gereja, bahkan di Stadion besar dengan iringan musik. Di satu sisi, beribadah secara riang, di sisi lain—dengan diiringi musik—juga sangat syahdu dan feel-religius-nya sangat kena. Mereka menyanyi sambil menyebut Tuhan atau memanggil Yesus, sambil menangis tersedu-sedu, kadang menangis histeris, dan sesekali tangan digoyang-goyang ke atas dengan ritmis sangat religius sekaligus riang-gembira.
Apakah fenomena serupa pada Islam Indonesia ada? Ada! Kita mulai misalnya dengan Emha Ainun Najib dan Kyai Kanjeng. Menurut para pengamat, fenomena shalawatan diiringi musik gamelan Kyai Kanjeng pada 1990-an dengan audiens yang sangat luas dan disiarkan televisi nasional, mungkin itu konser shalawatan pertama di Indonesia, dalam arti “diiringi oleh musik pop-etnis” yang sangat menarik, dan memang menarik publik muslim Indonesia untuk menoleh ke situ. Sekarang konser shalawatan sudah dilakukan di mana-mana.
Yang paling fenomenal, setidaknya menurut saya, adalah konser shalawat Haddad Alwi-Sulis pada Synchronize Fest di Kemayoran, Jakarta pusat, baru-baru ini. Kita bisa melihat “syahdu religius” atau “histerisitas religius” muncul secara ekspresif didorong oleh musik yang indah sekaligus riang. Fenomena itu—ribuan audiens anak-anak muda muslim dan musik pop yang merdu—-benar-benar membuat orang bisa menemukan kedahsyatan agamanya. Dalam keriuhan musik, badan berjingkrak, tangan digoyang-digoyang di atas dan teriakkan-teriakkan “Muhammadku-Muhammadku, dengarlah seruanku, Aku rindu, Aku rindu, kepadamu, Muhammadku”, tiba-tiba ada suara menggelegar, “Anda yang pakai topi terbalik, Anda yang pakai anting, Anda yang pakai tatto, Anda punya hak yang sama untuk mencintai Rasulullah….”, orang-orang semakin histeris menjerit, bahkan terlihat seorang remaja puteri menangis pilu, seperti mengekspresikan kesedihan mendalam atau menunjukkan penghayatan mendalam dari religiusitasnya.
“Histerisitas religius” pada konser Haddad Alwi itu seperti tidak ada bedanya dengan keriuhan histeris pada konser-konser Didi Kempot, Dewa, atau Iwan Fals. Bedanya hanya pada religius dan non-religius.
Tiba-tiba saya teringat pada konser-konser musik ibadah Kristen di tanah air. Ratusan orang-orang Kristen, yang muda dan yang tua, diiringi musik yang meriah (drum, gitar, piano dll) juga meneriakkan histerisitas religius yang sama dengan konser Haddad Alwi di atas. “Haleluyaku, Ku mau bersorak bagimu! “Tuhanku, Yesusku, Juru-selamatku!” Yesus sungguh baik!” sambil tangan digoyang-goyang ke atas dan beberapa orang juga menangis pilu.
Apakah shalawat masuk dalam kategori ibadah? Iya donk. Membaca shalawat, selain ada perintah dalam al-Quran dan Hadis Nabi, juga adalah bacaan wajib dalam shalat fardhu. Artinya, membaca shalawat merupakan “ibadah primer”, bukan sekunder. Dulu, orang membaca shalawat dengan khusyuk, sambil duduk bersila dan berdzikir. Dulu, meskipun shalawat dibaca di panggung pada momen Maulid Nabi atau Isra’Mi’raj, paling banter musiknya adalah rebana. Orang membaca shalawat pada momen-momen itu dengan khusyu’, dianggap sedang beribadah; tidak jingkrak-jingkrak, tidak histeris, tidak pakai kaos oblong dan celana kolor seperti dalam konser dan semua perempuan minimal memakai “kerudung ala Indonesia”
Mengingat konser musik ibadah umumnya lebih dahulu pada tradisi orang-orang Kristen, apakah Muslim Indonesia meniru atau mencontek tradisi orang Kristen? Sangat mungkin. Dalam satu kesempatan ceramah, seingat saya, Emha pernah mengatakan bahwa “kita perlu meniru ibadah orang Kristen yang pakai musik. Itu semacam “ibadah artistik”, kata Emha.
Hubungan Muslim dan Kristen di Indonesia seringkali seperti hubungan hate-love: kadang-kadang cinta, di lain waktu benci. Seringkali Muslim dan Kristiani Indonesia berantem, saling curiga, bermusuhan, cakar-cakaran, bahkan pernah bunuh-bunuhan di Poso dulu (semoga gak terjadi lagi!). Padahal pada kedua agama ini sering terjadi pinjam-meminjam budaya, saling pengaruh-mempengaruhi, dan terjadi secara alamiah aja, seperti pada fenomena “ustadz seleb” dan “konser musik ibadah”. Sekarang, mungkin, tidak sedikit orang Kristen yang sudah biasa mengucapkan “Assalamu ‘alaikum” atau “Insya Allah” atau “Alhamdulillah”. Jangan-jangan sudah ada juga orang Kristen yang sudah berucap “Qadarullah, kita dipertemukan ya…”.
Yang saya masih penasaran dan masih menunggu adalah fenomena “pendeta seleb” dan “konser musik ibadah” pada agama Hindu, Buddha dan Konghucu.

