Memahami Proyek Integrasi Iman dan Ilmu
jateng.nu.or.id

Memahami Proyek Integrasi Iman dan Ilmu

Oleh: Media Zainul Mahdi

Akhir pekan lalu, saya lewat di satu kota. Di pinggir jalan besar ada billboard besar tertulis bahwa Walikota ingin masyarakat kota itu punya etos “beriman dan berilmu”. Slogan “beriman dan berilmu” atau “akselerasi ilmu dan iman” sebenarnya sangat umum di Indonesia. Kita bisa temukan di mana-mana, terutama di lembaga-lembaga Pendidikan Islam. Di UIN-UIN seluruh Indonesia, mereka menggunakan istilah yang berbeda-beda tapi maksudnya sama, misalnya “integrasi ilmu”, “kesatuan ilmu/wahdatul ulum”, “wahyu memandu ilmu” dan lain-lain yang intinya adalah bagaimana Muslim yang kuat imannya tapi juga sekaligus jadi ilmuwan hebat. Istilah Profesor AM Saifudin dulu ketika memuji BJ Habibie adalah: “berhati Mekkah, berotak Jerman” untuk menggambarkan satu padunya “iman dan ilmu”.

Yang dimaksud “integrasi ilmu” atau “beriman dan berilmu” sebenarnya memiliki dua pengertian: (1) dia adalah seorang Muslim yang beriman kepada Tuhan; sedikit atau banyak masih mau menjalankan syariah, lalu jadi ilmuwan hebat, atau (2) Gak hanya cukup jadi seorang Muslim tapi juga menjadikan Islam sebagai dasar ilmu, sebagai inspirasi dan sumber ilmu, semacam “Islamisasi ilmu”. Karena itu slogannya adalah “wahyu memandu ilmu”. Jadi ke mana pun ilmu pergi, bergerak, berkreativitas, dan membuat inovasi harus dipandu oleh wahyu, tidak boleh jadi sekuler, tidak boleh jadi liberal, apalagi jadi ateis, no way!.

Kaum Muslim menyebutnya sebagai “ilmuwan cum beriman” lalu merujuk kepada istilah al-Qur’an: Ulul Albab dan Ulil Abshar. Beberapa sarjana Muslim Indonesia juga merujuk kepada ungkapan Anselmus, Uskup Agung dari Canterbury: Fides Quaerens Intellectum, faith seeking understanding/intellegence. Di lembaga-lembaga Pendidikan Islam Menengah-Atas (SMP-SMU) dan Perguruan Tinggi Islam jika membuat slogan “beriman dan berilmu” maksudnya (umumnya) adalah “Islamisasi ilmu” dalam pengertian nomor dua itu.

Sejak slogan “beriman dan berilmu” ini didiskusikan pada tahun 1950-an, baru saja Indonesia merdeka, beberapa individu sarjana Muslim (lulusan Barat) saat itu punya imajinasi bahwa masyarakat Indonesia yang kuat agamanya, yang kuat imannya harus juga jadi ilmuwan hebat, jadi ilmuwan tingkat dunia, tapi awas! Jangan jadi sekuler! Saat itu, format “integrasi ilmu” belum mapan. Baru pada 1980-an, mungkin Hidayat Nataatmaja adalah salah satu tokoh yang menonjol, ikut memberi fondasi dan nuansa pada proyek kultural Islamisasi ilmu dan integrasi ilmu.

Sebagai sebuah proses, proyek ini masih terus berlangsung (process of becoming), tetapi saya ingin mempertanyakan hasil atau produk. Setelah sekian puluh tahun Muslim Indonesia bangga menggunakan slogan ini, bagaimana hasilnya? Bagaimana pencapaiannya? Apakah ada produk dari “integrasi ilmu” atau “Islamisasi ilmu” ini yang jadi ilmuwan dunia? Yang diterima sumbangan keilmuannya oleh masyarakat ilmiah dunia? Yang dapat hadiah nobel sains dan sastra? Yang saya jadikan ukuran adalah rekognisi internasional/global, bukan hanya pengakuan dari dunia Islam.

Menurut saya, dengan slogan “beriman dan berilmu” ada dua beban besar. Beban beriman dan menjadikan agama sebagai dasar atau referensi ilmu, dan beban mengembangkan ilmu. Dua beban ini beraat. Bagi banyak ilmuwan serius, ada banyak sekali aspek ontos dan episteme ilmu yang gak ketemu dengan agama dan iman (faith). Kalau pakai ukuran/kategori IAN Barbour, di negara-negara maju hubungan agama dan ilmu pengetahuan umumnya berada di posisi “konflik”, paling banter “independen”. Tapi di negeri-negeri Muslim, para sarjana Muslim (juga sebagian kecil sarjana Kristen) semangat banget mendialog-kan dan mengintegrasikan agama dan ilmu pengetahuan. Posisinya dialog dan integrasi.

Tapi sekali lagi, karena dua beban ini berat, maka yang umum terjadi saat ini adalah lebih condong ke satu pihak dan pincang di pihak yang lain. Jika terlalu condong ke iman/agama, maka para ilmuwan itu akhirnya jadi pendakwah. Mereka berdakwah di mana-mana bahwa berbagai macam ilmu pengetahuan sudah “cocok” dengan Islam, “sudah Islami”; kalau masih sekuler, mari kita islamkan! Sebaliknya, kalau terlalu condong kepada ilmu pengetahuan (sebagai ilmu), maka mereka jadi sekuler (dalam arti agama sebagai keyakinan privat aja).

Saya tau ada ilmuwan-ilmuwan senior-serius dari UI, UGM, ITB, Unair, BRIN dan lain-lain juga dari UIN/IAIN yang jadi ilmuwan peringkat dunia, dapat rekognisi dan penghargaan dunia, menjadi anggota kehormatan lembaga ilmu pengetahuan prestisius dunia, tetapi pertanyaannya: apakah mereka “alumni” proyek integrasi ilmu (integrasi ilmu dengan Islam, Kristen, dan Hindu)? Saya gak yakin. Kita juga mengamati para peraih nobel sains dan humaniora, yang dianggap punya kontribusi global terhadap ilmu pengetahuan dan umat manusia, apakah juga alumni dari kurikulum “integrasi ilmu” (dengan agama Kristen atau Yahudi misalnya)? Saya tambah gak yakin lagi. Bahwa mereka dan para ilmuwan senior hebat di Indonesia, menganut satu agama tertentu misalnya: iya, tapi itu adalah pengertian poin pertama di atas, bukan soal proyek integrasi ilmu.

Kalo kita punya ukuran capaian rekognisi itu adalah negara-negara maju, Barat misalnya, biasanya kita dituduh sebagai sarjana dengan cara pandang “kolonial” atau “neo-kolonial” atau “imperialis” atau “bias Barat kolonial” dan lain-lain. Saya tidak mau terlibat dalam perdebatan yang rumit dan kompleks itu. Kita ambil cara yang sederhana saja: para sarjana Muslim, dalam bidang studi Islam, seperti Rahman, Jabiri, Hassan Hanafi, Syahrur, Nasr Hamid Abu Zayd, Azyumardi Azra dan lain-lain adalah sarjana Muslim yang punya rekognisi global. Para raksasa studi Islam dan Studi Agama dunia mengakui reputasi internasional mereka. Menurut saya, mereka bukan alumni “integrasi ilmu” dalam pengertian seperti rumusan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam saat ini. Bahwa mereka mendalami ilmu-ilmu sosial dan filsafat modern, ya betul.

Karena itu, pertanyaan di atas kita ulangi lagi: Apakah ada ilmuwan humaniora dan saintis Indonesia produk dari “integrasi ilmu”, “Islamisasi ilmu” atau “Kristenisasi ilmu” yang jadi ilmuwan dunia?

Proyek ini, di beberapa negeri Muslim dan banyak perguruan tinggi Islam, masih terus berlangsung (dan berproses). Kita masih nunggu 50 tahun atau 100 tahun ke depan, atau bisa lebih cepat lagi, akan muncul saintis dan sastrawan besar (dari Gereja, Seminari, atau) dari UIN yang dapat hadiah nobel sains/nobel sastra karena produk “integrasi ilmu” mereka punya sumbangan sangat besar bagi umat manusia, tidak hanya untuk internal kaum Muslim.

Media Zainul Mahdi. Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *