Review Kitab Kifayatul Atqiya
lazada.co.id

Review Kitab Kifayatul Atqiya

Oleh: Zaprulkhan

Salah satu kitab tasawuf yang cukup populer dikaji di pesantren-pesantren Nusantara adalah Kifayatul Atqiya, hasil anggitan Sayid Abu Bakar Syatha. Kitab Kifayatul Atqiya merupakan syarah terhadap nazham Hidayatul Adzkiya, karangan Syekh Zainuddin al-Malibari. Sebagimana lazimnya, nazham atau syair merupakan untaian-untaian kalimat yang singkat dan indah sekaligus mengandaung makna yang dalam dan luas. Bagitu pun dengan bait-bait nazham dalam kitab Hidayatul Adzkiya’ yang singkat dan indah serta mampu menampung kandungan makna yang dalam dan kaya, sehingga tidak setiap orang kadangkala mampu menyingkap makna-makna lembut yang terdapat dalam bait-bait nazham tersebut. Apalagi nazham-nazham tersebut berhubungan dengan wacana tasawuf.

Atas alasan inilah, Abu Bakar Syatha mensyarah nazham-nazham dalam kitab Hidayatul Adzkiya’ karena permintaan sebagian orang kepadanya yang belum mampu memahami rahasia-rahasian makna tasawuf dalam kitab tersebut. Dengan syarahnya yang brilian dan elegan, bait-bait syair dalam kitab Hidayatul Adzikiya’ disingkap makna-maknanya secara luas, detail, dan komprehensif. Abu Bakar Syatha bukan hanya memperkuat dengan pijakan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis, tapi juga memperkaya analisisnya dengan pandangan-pandangan para Sahabat, tabiin, dan para maestro kaum sufi. Yang membuat penjelasannya semakin hidup, seringkali Abu Bakar Syatha menayangkan kisah-kisah yang relevan dan menyentuh kalbu.

Buku ini diawali dengan uraian yang sangat bagus sekali tentang syariat, tarekat, dan hakikat dimana ketiganya tidak boleh dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian dibahas juga prinsip-prinsip fundamental dalam wacana tasawuf, seperti tobat, qona’ah, zuhud, tawakal, ikhlas, uzlah, makrifat dan musyahadah. Bukan hanya itu, buku ini juga mendiskusikan tentang shalat wajib, shalat sunah, wirid, ilmu, amal, akhlak, manajemen waktu sampai adab tidur. Namun menariknya, semua persoalan tersebut dibahas oleh Abu Bakar Syatha dengan pendekatan sufistik, sehingga mampu menyejukkan jiwa orang-orang yang membacanya.

Dalam buku ini juga, Abu Bakar Syatha menguraikan i’rob, kedudukan kalimat atau gramatika syair-syair yang terdapat dalam kitab Hidayatul Adzkiya. Dengan penjelasan gramatika syair tersebut, Abu Bakar Syatha menyingkap rahasia-rahasia struktur setiap kalimat yang menyimpan makna-makna tersembunyi secara kebahasaan. Dengan adanya gramatika syair ini, syarah Abu Bakar Syatha menjadi benar-benar komprehensif.

Izinkan saya menayangkan sekelumit contoh mengenai sejumlah topik yang dibahas dengan indah, seperti hubungan antara syariat, tarekat, dan hakikat; makna Sunnah Nabi Saw; manajemen waktu; musyahadah, dan keistimewaan sholawat.

Hubungan Syariat, Tarekat, dan Hakikat

Dalam syairnya, Syekh Zainuddin al-Malibari menyenandungkan bahwa jalan sesungguhnya untuk mendekat kepada Allah ada tiga yaitu syariat, tarekat, dan hakikat. Abu Bakar Syatha menguraikannya dengan indah bahwa ketiga jalan ini harus dilalui oleh seorang salik, tidak boleh ada satu pun yang dia lewatkan. Sebab, hakikat tanpa syariat adalah hal yang batil dan syariat tanpa hakikat adalah perbuatan sia-sia.

Syariat mencakup hal-hal yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah. Tarekat adalah jalan atau metode yang dilakukan untuk melaksanakan syariat. Hakikat adalah cara seseorang memahami batin dari amal perbuatannya dan menyaksikan kebesaran Allah dalam mengatur segala hal.

Firman Allah: “Hanya kepada-Mu kami menyembah” (QS. al-Fatihah 1: 5) adalah ajaran Allah kepada kita tentang syariat. Sebab, ayat ini menjelaskan ikhtiar lahiriah kita, yaitu beribadah kepada-Nya. Sementara penggalan selanjutnya, “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” adalah ajaran Allah tentang hakikat. Sebab, ayat ini menjelaskan bahwa seorang hamba harus mengakui tidak mempunyai kuasa dan kekuatan serta menyadari bahwa segala sesuatu takkan terjadi tanpa pertolongan dari Allah.

Kesimpulannya, wajib bagi seorang hamba untuk memenuhi segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Akan tetapi, dia tidak boleh menanamkan pemahaman bahwa apa yang dia amalkan akan menyelamatkannya dan membuatnya masuk surga. Dia tidak boleh berpikiran bahwa jika tanpa amalnya, dia takkan memperoleh balasan tersebut.

Syekh Zainuddin al-Malibari membuat analogi-metaforis yang menarik: Syariat layaknya kapal, tarekat adalah lautnya, dan hakikat seumpama mutiara yang sangat berharga.

Inilah analogi para ulama ketika menjelaskan ketiga hal di atas. Syariat dianalogikan sebagai kapal, sebuah sarana untuk mencapai tujuan. Tarekat adalah laut karena di sanalah tujuan kita bertempat. Sementara hakikat setara mutiara karena dapat dimanfaatkan dan sangat berharga. Sehingga, hanya mereka yang pernah ke laut yang bisa mendapatkan mutiara dan hanya pemilik kapal kokoh yang mampu menaklukkan ganasnya laut.

Sebagian ulama menganalogikan tiga hal ini dengan kenari. Syariat layaknya kulit, tarekat adalah isi kenari, dan hakikat serupa minyak yang disarikan. Sehingga, minyak hanya bisa diambil ketika isi sudah didapat dan isi hanya dapat diraih ketika kulit sudah terkupas.

Makna Sunnah Nabi Saw

Syekh Zainuddin juga menekankan pentingnya mengamalkan Sunnah Nabi Saw secara substantif agar tersingkap makna-makna otentik syariah dan semakin mendekat kepada Allah. Mengenai hal ini, Abu Bakar Syatha mengutip pandangan Imam Sya’roni bahwa salah satu anugerah yang diberikan Allah kepadaku setelah wushul adalah terpampang di depan mataku secara langsung makna-makna Al-Quran dan hadis. Ini kudapatkan setelah memperbanyak ibadah sunah. Sebab, siapa pun yang merutinkan ibadah sunah, Allah akan mencintainya. Ketika la telah mencintai seorang hamba, la akan mendekatkan hamba tersebut ke hadirat-Nya. Ketika hamba tersebut sudah berada di dekat-Nya, rahasia-rahasia syariat akan terpampang di depannya.

Sebagian ulama yang mencapai maqam makrifat mengatakan. Seorang salik takkan dibuka mata batinnya selama in tidak memperbanyak ibadah sunah. Sebab, dalam ibadah wajib ada unsur keterpaksaan seorang hamba. Misalnya shalat lima waktu. Jika seorang hamba tidak melaksanakannya, Allah akan menyiksanya. Hal ini berbeda dengan ibadah sunah. Sebab, seorang hamba diberi hak untuk memilih. Sehingga ia melaksanakan ibadah sunah tidak dengan ketakutan akan siksa. Seorang hamba melaksanakan ibadah sunah karena cintanya kepada Allah.

Manajemen Waktu

Manajemen waktu juga menjadi pembahasan penting dalam buku ini. Syekh Zainuddin al-Malibari menyenandungkan syair: Gunakan semua waktumu untuk ketaatan. Jangan biarkan waktu itu berujung sia-sia.

Mengenai syair tersebut, Abu Bakar Syatha menasehatkan: Engkau juga harus memastikan waktumu tidak terbuang sia-sia dan menganggapnya hal biasa. Sebab, jika demikian, engkau sama seperti hewan yang tidak tahu untuk apa waktu yang mereka miliki. Akibatnya, waktumu akan terbuang sia-sia dan itu merupakan kerugian yang amat besar.

Waktu adalah umurmu dan umurmu adalah modal utama untuk berdagang (dengan amal akhirat). Umurmu adalah media untuk wushul kepada Dzat Pemberi Nikmat. Sebab, semua nyawa sangat berharga dan tidak bisa digantikan. Ketika waktumu berlalu, ia takkan pernah kembali. Sehingga, semestinya engkau hanya senang ketika waktumu dimanfaatkan untuk mencari ilmu dan beramal baik karena hanya dua hal ini yang menjadi penolongmu di dalam kubur, sedangkan keluarga, harta, anak, bahkan temanmu tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagaimana agar kita bisa menggunakan seluruh waktu kita untuk beribadah? Jawabannya semua itu bisa dilakukan dengan niat. Sebab, hal yang mubah bisa diubah menjadi ketaatan (dengan niat). Ibnu Ruslan berkata: “Namun, ketika seseorang makan dan berniat untuk menambah kekuatan demi taat kepada Allah, ia mendapatkan pahala atas apa yang ia niatkan.”

Ketika engkau makan-minum dan berniat untuk melaksanakan ketaatan, bukan untuk menikmati hidangan; tidur untuk menghindari kebosanan dan menambah semangat beribadah, bukan untuk istirahat; berduaan dengan istri untuk memenuhi haknya; bergumul dengan istri untuk menjaga agamamu dan memperbanyak umat Nabi Muhammad Saw, maka apa yang engkau lakukan itu bernilai ibadah dan mendapatkan pahala.

Perlu engkau ketahui juga, satu amal bisa berlipat-lipat pahalanya lantaran memiliki niat baik yang banyak. Misalnya, engkau duduk berdiam di masjid. Namun, engkau meniatkan itu untuk beri’tikaf, menunggu waktu shalat, berkhalwat dari kesibukan bisikan hati, beruzlah, berdzikir, membaca Al-Quran, menjaga pendengaran, penglihatan, serta lisan dari hal yang sia- sia, dan meramaikan masjid dengan berdzikir, maka dudukmu mendapatkan pahala dari berbagai niat tersebut. Oleh karena itu, sebaiknya kita selalu menghadirkan bermacam-macam niat dalam satu amal kita agar pahalanya berlipat ganda.

Imam Ghazali menjelaskan: Siapa pun yang ingin masuk surga tanpa hisab, hendaknya ia menghabiskan seluruh waktunya untuk ketaatan. Siapa pun yang ingin amal baiknya lebih berat ketika ditimbang, hendaknya ia mengisi sebagian besar waktunya dengan beribadah.

Musyahadah

Menurut Syekh Zainuddin, dengan mengutip pandangan Imam as-Suhrowardi, filsuf filsafat Isyroqiyyah, tujuan tertinggi dalam pengabdian kepada Allah adalah musyahadah. Imam as-Suhrawardi berkata bahwa tujuan paling agung dari mujahadah dan olah batin adalah menyaksikan kebesaran Allah dengan menggunakan mata hati.

Beliau juga berkata, “Istilah yang dipakai para sufi untuk menggambarkan kondisi spiritual salik ada muhadharah (keadaan merasakan kehadiran Allah), mukasyafah (keadaan dibukakan hal gaib), dan musyahadah (keadaan menyaksikan kehadirat Allah). Muhadharah dimiliki salik dalam keadaan talwin”, sedangkan musyahadah dimiliki salik dalam keadaan tamkin. Sementara mukasyafah dimiliki salik yang keadaannya di antara talwin dan tamkin sampai kemudian salik berhasil mencapai musyahadah. Muhadharah milik salik yang mengerti (Allah), mukasyafah milik ahli melihat (keagungan tanda-tanda-Nya), dan syahadah milik salik yang benar-benar meyakini Allah.

Ketika tujuan utama adalah musyahadah, sebaiknya seorang hamba memperbanyak amalan-amalan yang mengantarkannya pada maqam tersebut. Amalan-amalan itu adalah membaca Al-Quran dan berdzikir dengan kalimat tayyibah, yaitu là ilaha illallah, tanpa terburu-buru dan berhenti, bahkan tetap berdzikir di langkah menuju tempat wudhu dan saat makan.

Amalan lainnya adalah memutus diri dari seluruh hal-hal duniawi dan mengosongkan hati darinya. Seorang hamba fokus kepada Allah Dzat yang menjadi kekasih bagi orang-orang yang fokus dalam penghambaan dan musyahadah kepada-Nya. Orang-orang yang menghadap kepada-Nya, dan orang-orang yang berpaling dari selain-Nya. Jika tidak ada keintiman ini, seorang hamba takkan mampu menyendiri dan melepaskan duniawi di puncak gunung seraya puas dengan memakan rumput. Rasa nikmat dari keintiman mereka bersama Allah membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri sehingga takkan ada yang memecah keintiman mereka. Apalagi jika keintiman ini tercipta dari rasa cinta.

Qori dan pedzikir tadi juga harus memastikan hatinya sesuai dengan apa yang mereka lantunkan sehingga apa yang mereka lantunkan tertancap dalam hati dan hatinya bisa tenang karena seakan menghadap Allah, bisa berduaan dengan-Nya, dan menjauhi makhluk. Selain itu, mereka juga tetap wajib memastikan keserasian ini sehingga bisikan hati yang buruk sirna dan hati menjadi bersinar hingga bisa mendapatkan maqam yang mulia, seperti rindu, cinta, keintiman, dan hal lainnya. Cahaya hati ini juga akan mengalir ke fisik sehingga fisik berhias akhlak-akhlak terpuji. Pada akhirnya. seorang salik benar-benar melakukan dzikir yang hakiki dan maqam musyahadah didapatkannya dengan perjuangan mujahadah ini.

Keistimewaan Sholawat

Sebagai pemungkas, Kifayatul Atqiya juga menayangkan keagungan dan keistimewaan sholawat yang dibahas di awal dan bagian akhir buku ini. Ada sebuah hadis menarik yang disajikan Abu Bakar Syatha berhubungan dengan sholawat. Yaitu jika suatu kaum berkumpul dalam sebuah majelis lalu acara tersebut selesai dan tidak ada bacaan shalawat di dalamnya, mereka berpisah dalam keadaan yang lebih bau daripada bangkai himar (HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban).

Ibnu Jauzi dalam kitabnya Bustân al-Wa’izhîn (Taman Surga Para Pemberi Nasihat) menjelaskan tentang hadis di atas, “Jika kondisi suatu majelis yang tidak dibacakan shalawat seperti dalam hadis di atas, tidak heran apabila orang-orang yang kembali dari suatu majelis yang di dalamnya ada bacaan shalawat lebih harum dibanding gudang minyak wangi. Sebab, Nabi Muhammad Saw adalah makhluk paling harum dan paling suci. Ketika beliau bersabda di sebuah majelis, semerbak aroma yang lebih harum daripada kesturi memenuhi suasana majelis tersebut.

Begitu juga majelis yang di dalamnya terdapat bacaan shalawat. Aroma harum majelis itu akan semakin bertambah dan menembus ketujuh langit hingga ke Arasy. Semua makhluk di bumi akan mencium aroma harumnya, kecuali manusia dan jin. Sebab, andai keduanya dapat menciumnya, mereka akan terlena dengan aroma harum tersebut hingga meninggalkan urusan duniawi.

Setiap malaikat atau makhluk Allah yang mencium aroma tersebut akan memintakan ampunan untuk seluruh hadirin majelis tersebut. Mereka akan mendapatkan pahala sebanyak jumlah makhluk yang memintakan ampunan serta derajat mereka diangkat setinggi hitungan makhluk tersebut, baik yang menghadiri majelis hanya satu maupun 100.000 orang. Jelasnya, setiap orang (berapa pun jumlahnya) akan mendapatkan pahala sesuai jumlah makhluk (yang memintakan ampunan). Bahkan, jumlah ini jauh lebih sedikit jika berada di hadapan kehendak Allah.

Syekh Abu Bakar Syatha menyajikan sejumlah keutamaan, keagungan dan keistimewaan membaca sholawat:

  1. Sama dengan Allah yang juga bershalawat kepada Nabi Saw. Meskipun shalawat seorang hamba dan Allah berbeda.
  2. Sama dengan para malaikat yang juga bershalawat kepada Nabi Saw.
  3. Allah akan memberikan rahmat kepada orang yang bershalawat, tanpa pengecualian.
  4. Allah akan memberikan sepuluh rahmat-Nya untuk satu shalawat.
  5. Nabi Saw akan mendoakannya.
  6. Mendapatkan sepuluh kebaikan.
  7. Menghapus kesalahan dan dosa.
  8. Meningkatkan derajat.
  9. Menghilangkan kesusahan di dunia dan akhirat.
  10. Mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad Saw.
  11. Meneladani para malaikat abrar
  12. Berbeda dengan kaum munafik dan orang-orang kafir.
  13. Dipenuhi kebutuhannya.
  14. Lahir dan sirr-nya bercahaya.
  15. Allah mengharamkan jasadnya dari neraka
  16. Masuk ke dalam surga
  17. Mendapat salam dari Dzat yang Maha Agung dan Maha Kuasa.
  18. Menghilangkan kegelapan hati;
  19. Mempermudah mencapai maqam wushul:
  20. Memperbanyak rezeki;

Oleh karena itu, jika sudah mengetahui berbagai keutamaan di atas, mari perbanyak membaca shalawat kepada Nabi Saw yang sangat mulia ini. Sebab, beliaulah al-Washitah al-‘Uzhmâ (Perantara Teragung) kita dengan seluruh nikmat.

* * *

Itulah sekilas pembahasan yang terdapat dalam buku Kifayatul Atqiya. Buku ini yang sudah diterjemahkan dengan sangat bagus, sangat layak dibaca oleh siapa saja yang membutuhkan panduan jalan spiritual untuk semakin mendekat kepada Allah. Penjelasan dalam buku ini tidak terlalu luas dan bertele-tele sehingga melelahkan orang yang membacanya, tapi juga tidak terlalu simpel sehingga terkesan dangkal. Kifayatul Atqiya mampu menghidangkan wacana tasawuf dengan ringan, mengalir, dan hidup sekaligus mampu menyejukkan, mendamaikan, dan memuaskan kedahagaan ontologis orang-orang yang membacanya. Sebuah buku yang mampu merenda secara harmonis antara aspek syariat, tarekat, dan hakikat.

Zaprulkhan. Dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *