Tulisan ini berangkat dari pertanyaan sosiologis bahwa kenapa di Lampung terdapat begitu banyak suku Jawa sekaligus Islam? Islam model apa yang diamalkan oleh suku Jawa yang tinggal di Lampung? Mengingat, mayoritas suku Jawa yang tinggal di Lampung adalah beragama Islam.
Model Islam Jawa yang berkembang di Lampung pun sama persis dengan yang ada di pulau Jawa. Bila orang bepergian ke Lampung, mereka akan langsung mengetahui bahwa kebanyakan masyarakat Lampung adalah orang-orang yang berbahasa Jawa dan memeluk Islam.
Suku Jawa merupakan suku terbesar di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah suku Jawa di pulau Jawa mencapai lebih dari 95 juta jiwa, ini artinya 40% penduduk Indonesia merupakan suku Jawa. Sementara total penduduk Jawa yang tinggal di Lampung mencapai 61%, di mana suku Jawa menjadi suku terbesar di Lampung. Sementara suku asli hanya tersisa 11%.
Menurut catatan sejarah, keberadaan suku Jawa di Lampung terkait dengan transmigrasi yang terjadi di masa lalu. Di era Kolonial Belanda, yakni sejak tahun 1905, transmigrasi suku Jawa ke Lampung mulai dilakukan. Transmigrasi ini terus berlanjut hingga tahun 1998.
Itulah kenapa begitu banyak daerah-daerah di Lampung yang namanya sangat mirip dengan yang ada di Jawa. Sebut saja misalnya kabupaten Lampung Timur, di daerah ini terdapat nama-nama daerah yang mirip dengan yang ada di Jawa, seperti Jepara, Probolinggo, Sumbersari, dan sebagainya.
Transmigrasi ini sekaligus menjawab pertanyaan kenapa begitu banyak orang Jawa yang tinggal di Lampung. Meski sudah berpindah dan menetap secara permanen, mereka tetap mempertahankan kultur kejawaannya, misalnya penggunaan bahasa Jawa yang masih sangat kental. Tidak hanya itu, corak keislaman mereka juga sebagian masih sangat kuat berkarakter Islam Jawa.
Apa itu Islam-Jawa? Dalam historiografinya, Islam Jawa adalah ajaran Islam yang dianut oleh orang-orang Jawa. Sejak dahulu kala orang Jawa memiliki ajaran kehidupan tersendiri yang sering disebut sebagai kejawen. Corak kejawen ini merupakan filosofi dan pandangan hidup orang-orang Jawa terhadap realitas. Itulah kenapa, ketika banyak orang Jawa masuk Islam, di antara mereka masih banyak yang mengamalkan ajaran-ajaran kejawennya. Sehingga dikenal dengan Islam kejawen.
Model Islam kejawen ini berbeda dengan Islam santri. Bila Islam santri lebih banyak memproyeksikan ajaran-ajaran keislamannya sesuai dengan akidah dan syariat Islam berbasis al-Qur’an dan Hadist serta berpegangan pada kitab-kitab klasik, maka Islam kejawen lebih banyak mengandalkan khazanah kepustakaan Islam kejawen seperti serat, tembang, macapat, dan model karya lainnya yang dikarang oleh sastrawan-santrawan dan ahli kejawen. Sehingga Islam model ini sangat bersifat singkretik, yakni memadukan antara Islam dan unsur-unsur kejawen.
Bila kita menelusuri cara pandangan hidup orang-orang Jawa di Lampung yang sudah sepuh-sepuh (lanjut usia), model keislaman mereka masih banyak yang mempertahankan model Islam kejawen ini. Yakni mempertahankan pandangan hidup yang memadukan antara ajaran Islam dengan ajaran kejawen.
Namun demikian, lambat laun, model Islam-Jawa ini mulai surut atau berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya arus Islam santri yang memiliki model berbeda dalam mengamalkan ajaran Islam. Sebagaimana di terangkan di atas, bahwa Islam santri lebih memusatkan pada kemurnian ajaran Islam dari ajaran-ajaran non-Islam. Sehingga model Islam Jawa yang berkembang di Lampung sekarang lebih banyak berorientasi pada Islam santri atau model Jawa-Islam.
Keberadaan pesantren-pesantren yang berkembang pesat di Lampung juga mempengaruhi watak Islam masyarakat Jawa di Lampung. Hal ini persis sebagaimana yang terjadi di pulau Jawa, yakni surutnya arus Islam Jawa yang tergerus oleh masifnya pengaruh Islam santri. Kendati Islam santri ini disebut sebagai kalangan tradisionalis, yakni corak Islam yang masih mempertahankan tradisi, sebagaimana dilakukan oleh warga Nahdliyin (NU), tetapi model Islam tradisional sangat berbeda dengan Islam-Jawa yang banyak memadukan antara Islam dan kejawen.
Jawa-Islam yang berkembang di Lampung adalah model Islam santri yang sangat kuat dalam memurnikan ajaran-ajaran Islam berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, bukan Islam campur aduk yang meracik antara ajaran Islam dan non Islam. Begitu pula dengan model Islam tradisional, mereka hanya mempertahankan model tradisi lokal sebagai sarana untuk dakwah Islam, bukan semata-mata sebagai ajaran yang diyakini.
Model pemurnian ajaran ini berbeda dengan ala Muhammadiyah yang berkonsentrasi pada pemurnian ajaran Islam dengan menentang praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC). Dalam corak Islam santri yang tradisionalis, mereka lebih bersifat lentur dan luwes dalam beragama, dan tidak memahami semua yang tidak datang dari Islam sebagai praktik bid’ah. Di sini ada penekanan pada interpretasi sehingga dalam batas-batas tertentu, umat Islam malah dianjurkan untuk berbid’ah guna membangun kreatifitas yang lebih inovatif, tentunya bid’ah yang baik.
Terakhir, tulisan ini hendak mengatakan bahwa corak Islam yang diyakini oleh mayoritas penduduk Lampung yang berbahasa Jawa adalah model Islam santri (Jawa-Islam), yakni Islam yang merujuk pada sumber kepustakaan santri berbasis pada al-Qur’an dan Hadist. Sementara model Islam kejawen (Islam-Jawa) sudah sangat jarang ditemukan. Biasanya, orang yang masih mengamalkan Islam kejawen hanya terbatas diamalkan sebagai laku hidup secara individual dan tidak memiliki paguyuban.

