Studi tentang relasi Tuhan, manusia, dan alam menjadi tema besar dalam Al-Qur’an dan menjadi pembahasan yang serius dalam dunia filsafat dan sains, karena ini berhubungan dengan pengetahuan akan realitas ketuhanan. Artikel ini membahas tentang khasanah spiritual Islam yang melihat manusia adalah bagian dari struktur jagad raya yang lebih luas. Artikel ini fokus pada teori bahwa jagad raya adalah gambaran dan manifestasi dari Tuhan yang menampakkan diri (tajalli).
Para sufi melihat hubungan tujuan penciptaan manusia dan alam ini berdasarkan pada Hadist Qudsi ‘Kuntu Kanzan Makhfiyyan, wa uridu an u’rafa, fa khalaqtu al-khalqa li’arafuuni’” (saya adalah mutiara yang terpendam, dan saya ingin dikenal, maka saya menciptakan makhluk untuk mengenal saya). Manifestatsi Tuhan ini, adalah cara menafsirkan transendensi tuhan dalam dunia yang imanen, sebagaimana dalam al-Qur’an (50:16) yang menyebutkan bahwa ‘Tuhan lebih dekat dari pada urat nadi’ yang berarti bahwa tuhan sangat dekat kepada manusia itu sendiri.
Ide bahwa tuhan adalah yang transenden dan yang imanen sekaligus hadir dalam semua agama, bahwa Tuhan adalah Jagad Raya (coincidentia oppositorum atau Huwa la huwa) Sebagaimana Abu Sa’id al-Kharraz ketika ditanya tentang “dengan cara apa kamu tahu Tuhan”, dan dijawab bahwa Tuhan adalah gambaran dari jagad raya. Dengan cara berpikir ini pula, tulisan ingin memberikan perspektif spiritual tentang hubungan manusia, alam dan Tuhan, dan bukan hanya sekedar beralih dari perspektif biosentris ke perspecktif kosmo-sentris, akan tetapi juga membangun perspektif etika ekologis. Perspektif ini berusaha menghormati nilai-nilai dari segala hal yang wujud di dunia ini, baik manusia, maunpun alam semesta.
Tujuan Penciptaan
Narasi penciptaan adalah pembahasan yang penting dalam tasawuf Islam, Al-Qur’an menggunakan kata Khalaqa yang dalam bahasa Arab memiliki 2 makna; pertama adalah menentukan atau mempertimbangkan (taqdir/qadara) yang kedua adalah menciptakan (ijad). Maka di sini, posisi Tuhanbisa dipahami sebagai yang menentukan dan yang menciptakan.
Sedangkan menurut Ibnu Arabi, penciptaan jagad raya (termasuk manusia) adalah bentuk cerminan tuhan yang memanifestasikan dirinya. Bagi Arabi dalam fususul Hikam menarasikan bahwa Jagad raya adalah pantulan cermin di mana Tuhan melihat pantulan dirinya sendiri dalam cermin, sebagaimana ini dinarasikan dalam hadist Qudsi. Dengan kata lain, menciptakan manusia adalah cara tuhan untuk diketahui.
Tuhan adalah “al butun” atau yang maha tidak terungkap, dan secara dzatiyyah, Tuhan tidak pernah bisa dipahami. Maka transendentalitas Tuhan bisa diungkap dengan menciptakan makhluk, dan ini disebut sebagai tajalli al haq (Tuhan yang menampkkan diri). Manifestatsi dari Tuhan yang nampak ini bisa dipahami sebagai bentuk pewahyuan. Adalah Tuhan yang mewartakan tentang dirinya sendiri bahwa Dia merasa sedih ketika sendirian, dan tidak ada yang mengetahuinya, maka dia menciptakan yang lain untuk mengetahui-Nya. Konsep tajalli kemudian mewujud dalam bentuk konretnya (ta’ayyun/ mewadat/ bentuk yang bisa dilihat).
Hal ini berkenaan dengan sifat kuasa Tuhan yang ketika dia menginginkan untuk menciptakan, maka Dia hanya mengucap Kun (jadilah), maka akan ada barang yang mewujud dari kekosongan (creatio ex nihilo ). Akan tetapi makna kekosongan (nihil) di sini adalah bahwa Tuhan menciptakan sesuatu yang memiliki kemungkinan untuk mewujud. Ajaran ini berasal dari narasi bahwa tuhan meniupkan ruh-Nya kepada manusia dan Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk-Nya.
Tuhan dan Jagad Raya
Al-Qur’an sering menyebutkan bahwa Jagad Raya adalah tanda tanda (ayah) dari kekuasaan Tuhan. Arabi menggunakan istilah dalil yang berarti penanda atau penunjuk akan Tuhan, dansegala sesuatu yang mungkin wujud adalah tanda yang menandai kebesaran Tuhan. Semua yang mewujud adalah pancaran dari Tuhan, dari sini kita bisa melihat bahwa dengan bahasa kiasan bisa dikatakan bahwa jagadraya adalah ‘Tubuh Tuhan’. Dan sebagai ‘Tubuh Tuhan’, jagad raya menyimpan aspek aspek misterius yang penuh akan kekaguman. Dalam bahasa Al-Qur’an jagad raya adalah tanda (sya’air) yang menjadi tanda bagi orang –orang beriman untuk menghormatinya. Hormat di sini ditekankan bukan pada Jagad raya, tapi kepada bahwa jagad raya adalah tanda akan kebesaran-Nya.
Dalam tradisi Kekristenan ada St. Francis of Assisi (1181–1226) yang berpandangan bahwa jagad Raya adalah kesatuan (unity) di mana dia menyatakan bahwa binatang dan batu secara spiritual sama dengan manusia. Bahwa rahmat Tuhan itu hadir untuk seluruh mahkluknya, dan tidak terkhusus kepada manusia saja. Dalam tradisi Islam, Nabi mengajarkan umatnya untuk menghormati tanda-tanda kebesaran Tuhan meskipun tanda itu sangat kecil. Aflaki menyebutkan bahwa Nabi adalah penyayang binatang, seperti kucing. Bahkan beliau tidak melepas jubahnya ketika akan solat karena tidak mau menggangu kucing yang sedang tidur.
Dalam pandangan Ibn Arabi, salah satu sufi besar dalam Islam, tentu saja dzat Tuhan itu tidak bisa diketahui, karena Dia adalah yang transcendental dan melampui akal manusia. Akan tetapi ada dua model dalam memahami ini, yang pertama adalah bahwa dzat Allah ini memang tidak bisa diketahui sama sekali, dan bisa diketahui lewat kebalikanya (via negativa), artinya apapun selain Tuhan adalah jagad raya.
Model yang kedua adalah dengan mengungkap asma’ dan sifat dari Allah yang mana dalam hal ini Arabi melihat Tuhan adalah realitas tertingi dalam kehidupan. Konsep ini dalam tradisi teologi Islam disebut sebagai tanzih (memurnikan), bahwa Allah itu tidak tertandingi (beyond compare) dari seluruh makhluknya. Akan tetapi konsep ini juga membawa konsekwensi bahwa Tuhan kemudian tidak bisa diketahui lewat jalur apapun.
Sedangkan dalam Hadist, Tuhan menciptakan manusia agar Dia bisa diketahui. Dalam hal ini Arabi melihat bahwa proses penciptaan adalah proses yang terus menerus, dan Tuhan memanifestasika Dirinya dalam menciptakan berbagai hal. Dengan kata lain, Arabi melihat bahwa penciptaan segala hal dari yang tidak ada menuju yang ada secara konkret adalah bagian dari manifestasi ilahiyyah.
Tuhan dan Manusia
Dalam tradisi sufi, pembahasan tentang manusia sama pentingnya dengan pembahasan tentang Tuhan, bahkan dalam hadist disebutkan bahwa man arafa nafsahu arafa rabbahu yang artinya ‘siapapun yang mengetahui dirinya sendiri maka dia mengetahui tuhanya’. Maka mengetahui diri sendiri adalah satu langkah yang dibutuhkan untuk mengetahui Tuhan. Masalah krusial yang dihadapi manusia saat ini adalah sulitnya menemukan fitrahnya sendiri. Perkembangan keilmuan modern membuat manusia terjebak dalam fragmentasi dari konklusi yang diciptakan sendiri. Disiplin keimuan seperti sosiologi, biologi, antropologi, filsafat, politik, ekonomi dan lain lain, hanya melihat manusia dari satu sisi, dan tidak melihat manusia secara utuh. Dampaknya adalah, bahwa manusia modern tidak bisa melihat dirinya sendiri karena terjebak dalam spesialisasi dan fragmentasi yang diciptanya sendiri.
Hal ini telah disadari, baik oleh pemikir Barat yang modern dan tradisionalis Islam yang melihat bahwa ideologisasi dari pengetahuan telah membawa segregasi dalam melihat hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam Fiqh, Tuhan dinarasikan secara kaku lewat narasi halal dan haram, sehingga wajah Tuhan berubah menjadi wajah surga dan neraka. Sementara dalam teologi, Tuhan digambarkan dengan penuh rasionalitas dan dalam tradisi sufi, Tuhan digambarkan sebagai kekasih. Keilmuan-keilmuan ini memiliki ideologinya sendiri-sendiri dan saling tidak memiliki titik temu.
Yang ditekankan di sini adalah bagaimana manusia bisa menemukan dirinya sebelum bisa menemukan Tuhanya. Ibn Arabi mengatakan bahwa jiwa manusia adalah lautan yang tak bertepi, yang terus melakukan pengembaraan di dunia ini dan dunia nanti’. Menurut Arabi manusia adalah makhluk terakhir yang diciptakan Tuhan dengan komponen yang komplek. Dalam diri manusia bukan hanya terdapat unsur mineral dari batu, unsur nafsu dari hewan, tetapi juga replikasi dari jagad raya yang terlihat maupun tidak terlihat, dalam manusia terdapat akal, ruh, jiwa, gambaran dari tujuh planet dan empat elemen pembentuk jagad raya (api, air, udara, dan tanah).
Dalam Hadist diceritakan bahwa ‘Adam diciptakan dalam gambaran Tuhan’, dalam hal ini juga sifat sifat Tuhan, seperti pemurah, pemaaf, pencipta, kuat dan lain lain, dan hasilnya manusia hadir dalam berbagai ‘wajah’ Tuhan. Baik wajah itu berupa wajah yang pemurah, atau wajah yang jahat. Jika manusia hanya menceminkan satu sifat dari Tuhan, misalya maha Penyayang, maka manusia tidak pernah marah. Atau jika menceminkan sifat Pendendam, maka tidak mungkin manusia bisa memafkan musuhnya. Manusiadiciptakan dengan semua attribute Tuhan dan manusia mampu memanifestasikan attribute ini.
Manusia sebagai perwakilan Tuhan (theomorphic/ khalifa) dan memiliki atribut Tuhan, bisa membedakan mana yang salah dan yang benar. Misalnya setan yang melihat cahaya dalam dirinya lebih terang (karena terbuat dari api) dan lebihbaik daripada Adam yang terbuat dari Tanah. Yang terjadi adalah, bahwa sinar yang dimiliki oleh Setan bukanlah milinya, tetapi milik Allah.
Begitu juga manusia dan jagad raya yang diciptakan dalam gambaran Tuhan. Gambaran ini misalnya disebutkan dalam AL-Qur’an bahwa ‘Manusia diciptakan dalam sebaik baiknya bentuk’. Bentuk yang baik ini tentu bukanlah fisik, karena redaksi yang digunakan untuk merujuk manusia adalah ‘insan’. Kata Insan berbeda dengan bashar yang juga bermakna manusia, tetapi bashar di sini lebih kepada fisik, sedangkan kata insan, merujuk pada tiga kategori, pertama merujuk pada keistimewaan manusia, sepserti sebagai khalifa (perwakilan tuhan) yang diberikan amanah. Kedua merujuk pada sifat buruk manusia, dan yang ketiga merujuk kepada karakter jiwa atau spiritual manusia.
Dengan melihat bahwa jagad raya dan manusia adalah gamabaran akan Tuhan dan memiliki nilai-nilai ilahiyyah, maka manusia yang hidup di bumi tidak lagi merasa bahwa dirinya adalah pelancong/turist atau tamu. Jagad raya adalah rumah di mana manusia akan kembali, sebagai rumah maka manusia bertanggung jawab untuk memelihara rumahnya dan memeiliharaperintah tuhan untukmerawat Jagadraya. Tentu saja dalam manusia ada yang baik dan buruk, ada kematin ada kehidupan ini adalah prinsip yang tidak bisa dihindari karena merupakan satu kesatuan. Meminjam istilah Buber, ini adalah prinsip ‘saya dan kamu’ yang keduanya adalah subject yang saling melengkapi.
Dengan relasi ini, kita melihat bahwa segala makhluk di dunia ini memiliki nilai internal, baik bagi dirinya sendiri, orang lain maupun Tuhan. Oleh karenanya, manusia itu sama seperti makhluk lain, sama sama ciptaan Tuhan yang saling berelasi. Perbedaaan manusia dan makluk lainya adalah tanggung jawab yang dibebankandalam memelihara keselarasan ini. tentu saja, meski sama sama makluk dan sama sama memiliki kekuatan, insting, dan perasaan, kemampuanyang dimiliki oleh manusia lebih tinggi.
Hewan dan manusia memiliki pengetahuan, tapi hewan tidak memiliki pengetahuan untuk membicarakan hal abstrak, seperti “Keadilan”, dan ini hanya manusia yang bisa. Dengan paradigma tanggungjawab ini pula manusia dihadapkan pada tanggung jawab untuk merawat bumi. Sebagaimana firman Tuhan bahwa “kerusakan di atas bumi itu dilakukan oleh manusia”. Ini membawa kita pada realita bahwa manusiasebagai microcosmos, telah menguasai jagad raya (makrocosmos).
Dalam fushusul hikam disebutkan bahwa “manusia itu jiwa dan jagad raya itu seperti tubuh. Mana kala tubuh tanpa jiwa, ia tidak hidup”. Di sini, perlu dilihat dalam perspecktif teology-anthropology bahwa yang dimaksud di sini adalah ‘kesaling bergantungan’ atau interdependency. Manusia memang membuat jagad raya menjadi hidup, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa komponen jagad raya, seperti tumbuhan dan lain lain. Bagi theologian, bahwa manusia membuat jagad raya hidup bukan berarti manusia ‘menguasai’ akan tetapi bertanggung merawatnya.
Kesimpulan
Hubungan manusia dan non-manusia (jagad raya) mengalami desakralisasi dan ini mengakibatkan krisis lingkungan. Pendekatan sufistik berusaha mengungkap penciptaan sebagai cara Tuhan memanifestasikan dirinya di mana alam raya memiliki nilai yang sama sebagaimana manusia. Alam raya juga merupakan manifestasi Tuhan yang berhak mendapatkan penghormatan oleh manusia. Menjaga alam raya bukan hanya karena mereka dibutuhkan manusia, tapi karena cinta terhadap alam raya. Cinta ini tumbuh tanpa tanya apa dan mengapa, sebagaimana mawar yang sedang mekar, ia mekar tanpa alasan mengapa ia mekar.
Sumber: Diterjemahkan oleh Rohmatul Izad dari Artikel Karya Profesor Syafa’atun Almirzanah Berjudul “God, Humanity, and Nature: Cosmology in Islamic Spirituality”

