Islam Periode Awal menurut Sumber Yahudi dan Kristen
elcorreo.com

Islam Periode Awal menurut Sumber Yahudi dan Kristen

Oleh: Ahmad Lutfi

Review ini akan mengulas karya dari Harold Suerman yang berjudul Early Islam In The Light Of Christian And Jewish Sources. Karya ini mengulas beberapa naskah yang ditulis oleh tokoh-tokoh di luar Islam yang berkisar sebelum tahun 648M. Beberapa naskah yang mewakili tahun tersebut antara lain: Doctrina Iacobi, The Homily on The Child Saints of Babylon, The Armenian History of Pseudo-Sebeos, dan Anastasia Sinaita. Aspek yang ingin diungkap dari beberapa naskah tersebut adalah pandangan Kristiani dan Yahudi ketika Islam hadir di tengah-tengah mereka.

Dalam rangka menjelaskan pandangan kedua agama tersebut—Kristiani dan Yahudi—Harold ingin melihat dari sisi cara orang luar menafsirkan Islam. Dalam hal ini bisa disebut cara menalar obyek atas subyek Islam, di mana selama ini bisa jadi banyak sekali cara bernalar sebaliknya, yakni menalar Islam dari sisi Islam untuk melihat luar Islam. Dengan adanya hal tersebut Harold membalik kecenderungan yang ada.

Aspek yang ingin dicapai dari Harold, menurut saya, adalah adanya keseimbangan dalam memahami semua agama samawi. Pandangan subyektif yang terus menerus akan melahirkan sikap aplogetik juga. Maka untuk menghindari sikap apologetic itu penting mengungkap aspek obyektif untuk menjadi wacana tanding dalam menandingin nalar yang serba subyektif.

Arah dari review ini akan mengulas secara ringkas apa yang ditulis Harold dari beberapa naskah yang telah kami sebutkan di atas satu persatu. Setelah itu kami akan memberi sedikit pandangan atas ulasan Harold yang menggunakan naskah tersebut di atas dan klaimnya obyektifnya.

Relasi Awal Kristiani pada Islam.

Harold menggambarkan secara sekilas tentang beberapa pandangan luar Islam tentang Islam. Menurut Harold, aspek yang penting untuk diamati dalam hal ini adalah “status penakluk Arab dan datangya Nabi”. Kedua agama samawi—Yahudi dan Kristiani—berbeda dalam hal menentukan “status penakluk Arab” ini. Hal ini karena Islam adalah agama baru dan sekaligus pendatang baru dari dua agama sebelumnya. Oleh karena itu, Arab bukan penganut tauhid satu-satunya di wilayah yang ada. Selain itu, ada aspek kepentingan juga di kedua agama selain Islam dalam hal dimensi teologi dan eskatologinya. Dengan ini, mereka juga melihat kepentingan diri mereka akan dua aspek tersebut—teologi dan eskatologi dalam kemapanan politik yang ada.

Yahudi contohnya, sebagai kelompok agama samawi yang berbeda dengan Kristiani, merasa bahwa kedatangan penakluk Arab itu sebagai kesempatan untuk memulihkan mereka dari keterpurukan yang disebabkan oleh pendudukan Palestina oleh Persi. Dengan kedatangan penakluk Arab, Yahudi melihat bahwa ini satu kesempatan untuk memulihkan kepemilikan tanah mereka yang telah direnggut oleh Persi.

Oleh karena itu, Yahudi melihat Arab sebagai satu kelompok yang dianggap bisa menyelesaikan problem yang dihadapinya itu. Dalam suasana demikian ini maka tumbuhlah satu pandangan Messianis pada diri Yahudi atas kedatangan Muhammad dan para penakluk Arab. bukti pandangan atas Islam dari Yahudi ini bisa dibaca dalam sebuah naskah Doctrina Iacobi yang mengungkapkan:

Ketika kandidatus dibunuh oleh sarasen, saya di kaesarea dan saya berada di sebuah perahu sykamina. Orang-orang menyatakan kandidatus telah dibunuh, dan kita orang Yahudi sangat gembira. Mereka menyatakan nabi telah muncul, datang dengan Sarasen dan dia memproklamirkan kemenangan atas orang Kristen.

Ungkapan kegembiraan atas kematian kandidatus dalam naskah di atas membuktikan pandangan kaum Yahudi atas kedatangan Muhammad. Harapanya, Muhammad bisa menjadi kendaraan untuk mengembalikan tanah suci mereka yang hilang. Dengan ini maka penerimaan Yahudi atas Muhammad adalah penerimaan politis dan bukan agamis. Apakah hal ini menjadikan Yahudi menerima pula atas dimensi teologi yang dibawa Muhammad? Tentu tidak demikian. Dari gambaran Harold atas naskah Doctrina di atas menyatakan bahwa penerimaan itu atas pertimbangan politis dan bukan teologi. Bahkan bisa jadi Yahudi tidak perduli sama sekali atas teologi Muhammad.

Hal ini berbeda dari pandangan Kristiani atas Islam. Menurut mereka Orang-orang muslim dilihat sebagai Alat Tuhan yang dikirim kepada mereka untuk menghukum dosa orang-orang Kristen. Dosa itu adalah pelanggaran moral, monotelethis, dogma kalcedonia atau monofisit. Mereka melihat arab sebagai satu momok Tuhan.

Untuk menguatkan hal ini, Harold mengulas satu naskah, yakni Doctrina Iacobi, yang menjelaskan tentang pernyataan Abraham bahwa dia telah mendengar kemunculan Nabi Arab yang telah mengroklamirkan dirinya,  bahwa Nabi tersebut palsu, sebab dia datang dengan angkatan bersenjata pedang. Di sini, teks tersebut menunjuk pada penggerebekan militer Muhammad. Abraham kemudian membuat penelitian tambahan dan bertanya kepada orang-orang yang tak dikenal yang telah bertemu dengan Nabi Muhammad. Pernyataan tersebut mengkonfirmasi bahwa Nabi baru itu tidaklah membawa kebenaran melainkan hanya menumpahkan darah. Selain ungkapan tentang penumpahan darah itu, Abraham juga mencatat bahwa Muhammad mengklaim telah memegang kunci surga, yang itu ditolak oleh Abraham.

Penolakan Abraham atas klaim Muhammad memegang kunci surge ini punya kecocokan dengan naskah lainnya, yakni, Hymn on the Nativity of Christ in the Flash. Dalam naskah tersebut Mary mengatakan:

Demi kepentinganmu juga saya merasa sedih, dikau lebih mencitai semua, Lo! Saya telah tersiksa yang saya pahami dan saya membawa segudang penolakan untuk manusia. adam akan gembira untuk senimu yang merasa memiliki kunci surge.

Ungkapan yang mengatakan bahwa Adam akan merasa gembira untuk senimu yang merasa memiliki kunci surge adalah sebuah kalimat ejekan akan klaim memegang kunci surge tersebut. ejekan itu menjadi dasar penjelasan akan tertolaknya kenabian Muhammad oleh Kristiani pada masa itu, sebagaimana hal itu juga ditolah oleh Abraham.

Nasehat tentang Anak Suci Dari Babilonia

Sub judul ini merupakan terjemahan dari naskah kedua setelah Doctrina Iacobi. Judul aslinya adalah The Homily on The Child Saints of Babylon. Harold menggunakan naskah ini untuk menggambarkan pandangan Kristiani atas Islam dan Yahudi. Untuk mendeskripsikan pandangan Kristiani tersebut dia mengutip dari tulisan naskah di atas yang menyatakan:

Menurut kami, kasih kami itu menyatukan. Mari kita puasa dan berdoa tanpa henti, dan amati perintah dari Tuan sehingga memberkati semua ayah kita yang telah menolong-Nya bisa datang pada kita. Janganlah berpuasa seperti Tuhan Yahudi yang punya sifat membunuh, jangan pula puasa seperti orang Sarasen yang menindas, yang mereka mengorbankan diri mereka pada prostitusi, pembunuhan, dan mengajak menawan anak manusia, yang mengatakan, “kita melakukan puasa dan sholat”. Tidak pula kita berpuasa seperti orang-orang yang menolak menyelamatkan Tuan kita yang menyelamatkan kita, untuk membebaskan kita dari kematian dan keruntuhan. Mari kita berpuasa dan seperti para Moyang dan rasul kita…

Naskah ini menurut Harold menggambarkan tentang invasi penakluk Arab ke Mesir. Bisa jadi karena ada pengecaman terhadap Yahudi dan Muslim dalam teks di atas, invasi itu melibatkan pasukan gabungan antara Yahudi dan Arab. Kristiani memandang demikian karena penaklukan itu menghilangkan wilayah pendudukan mereka atas Mesir. Oleh karena itu mereka mempunyai sikap negative atas penakluk Arab dan Yahudi.

Dialog Antara Patriach John I dan Komandan Arab.

Naskah selanjutnya yang menggambarkan pandangan Kristiani atas Islam adalah Dialogue Between The Patriach John I and Arab Coammander. Naskah ini secara waktu situlis antara tahun 644-648M. di tahun ini masa pemerintahan Islam berada di tangan Usman bin Affan.  dalam naskah ini partisipan Muslim tidak memberikan catatan komprehensif tentang keyakinannya, tidak pula ada deskripsi tentang doktrin Islam dari perspektif orang Kristen. Meskipun begitu keyakinan orang Muslim bisa di baca dari pertanyaanya tentang kepercayaan orang Kristen. pertanyaan itu menyangkut kesatuan wahyu, hanya ada satu naskah yang benar, dan menolak tentang gagasan Christ adalah anak Tuhan.

Sejarah Orang Armenia Tentang Pseudo-Sebeos.

Isi dari naskah ini secara singkat bisa kita baca dari sedikit kutipan yang ada dalam naskah tersebut, yang berbunyi:

Pada waktu itu beberapa orang di antara orang-orang yang sama dari Ismail yang memiliki nama Mahmet, seorang pedagang, jika dengan perintah Tuhan itu tampak padanya sebagai seorang pendakwah di jalur yang benar. Dia mengajarkan untuk menyatukan Tuhan Ibrahim, sebab dia belajar dan mendapat informasi dari sejarah Musa. Perintah tersebut berasal atas, dari yang tunggal mereka semua hadir bersama dalam kesatuan agama. Meninggalkan pemujaan mereka diarahkan untuk hidup bersama Tuhan yang telah muncul pada nabi Ibrahim. Jadi Mahmet membuat peraturan untuk mereka: tidak memakan bangkai, tidak minum anggur merah, tidak pula berkata dusta, dan tidak pula terlibat dalam zina. Dia mengatakan, “dengan sumpah Tuhan menjanjikan wilayah ini wilayah ini kepada Ibrahim dan keturunannya. Dia membawa yang dia janjikan selama itu ketika dia mencintai Israil. Bahkan sekarang kamu adalah anak dari Ibrahim dan keturunanya itu ada pada darahmu. Cintailah hanya pada Tuhan Ibrahim. Tak satuun orang akan sanggup untuk melawanmu, sebab Tuhan bersamamu”.

Teks tersebut jelas mengisyaratkan tentang bersatunya dua agama samawi, yakni Islam dan Yahudi. Hal itu sebagaimana terungkap dalam kalimat, “Perintah tersebut berasal atas, dari yang tunggal mereka semua hadir bersama dalam kesatuan agama”. Hal ini punya korelasi dari beberapa teks—Doctrina Iacobi, Hymn on the Nativity of Christ in the Flash,  dan The Homily on The Child Saints of Babylon—bahwa  Yahudi punya pandangan mesianis pada diri Muhammad dan penolakan Kristiani atas kedatangan Muhammad. Oleh karena itu sifat dari naskah ini—menurut kami—hanya menegaskan saja akan konsistensi dari pandangan kristiani atas Islam sebagai pendatang baru dari Arab.

Anastasius Sinaita.

Naskah terkahir yang diulas oleh Harold untuk mengungkap pandangan agama sebelum Islam atas Islam adalah Anstasius Sinaita. Naskah ini mengulas tentang penolakan Kristiani atas tuduhan Islam bahwa mereka menganut polytheism dengan menyembah dua Tuhan. Menurut Harold ini sikap apologetic Kristiani dihadapan Islam dan Yahudi.

Sikap aplogetik ini sebagaimana diungkap oleh Viae Dux. Dia merujuk pada bantahan orang kristiani dan Muslim dan menempatkan sejumlah kesalahfahaman tentang Islam atas doktrin Kristiani, yakni ada dua Tuhan, yang mana Tuhan itu secara jasadi mempunyai anak, dan peribadatan Kristiani itu sesuatu yang telah tercipta untuk itu. Bentuk peribadatan Kristiani bisa dilihat dari keyakinan teologinya yakni; tuhan itu sejumlah Politheisme, yang mana dia menetapkan jasad anak dalam Christ, dan bahwa orang Kristiani menyembah melaluinya.

Beberapa dokumen tersebut adalah sebuah pengetahuan yang detail tentang Islam yang mungkin berasal dari sumber-sumber tertulis, yang bisa dijadkan gambaran tentang cara pandang di luar Islam atas Islam. Dari sisi Obyek ke subyek.

Beberapa Komentar atas Harold Suermann.

Dari penjelasan Harold tentang pandangan Obyek (Yahudi dan Kristiani) ke subyek (Muslim), dengan berdasarkan naskah-naskah di atas, tampaknya pandangan obyek tersebut lebih melihat subyek Islam sebagai “fenomena politik” dan bukan agama. Hal itu ditandai dengan pandangan Yahudi sendiri dalam melihat Nabi dan Penakluk Arab sebagai Messiah untuk memenuhi harapan mereka atas hilangnya tanah Jerusalem, yang direbut oleh Persia. Dengan datangnya Muhammad tersebut mereka ingin menjadikannya teman sekutu dalam hal memperoleh kedaulatan kembali setelah tanah suci mereka hilang. Dari sisi ini ini Islam dan Yahudi bisa menyatu.

Namun ada hal yang berbeda dari sudut Kristiani. Dari naskah di atas, Kristiani justru melihat Islam sebagai fenomena aqidah. Hal ini sebagaimana diungkap bahwa Muhammad Hadir sebagai momok Tuhan karena dosa mereka yang telah melakukan dosa berupa pelanggaran moral, monotelethis, dogma kalcedonia atau monofisit. Dari sisi ini Islam dan Kristiani tidak bisa menyatu.

Dari sisi ini justru menimbulkan pertanyaan, mengapa Harold mengungkap sisi fenomena politik dalam diri Yahudi dalam memandang Islam sementara dari sisi Kristiani dari sisi Aqidah? Bukankah Kristiani melihat Islam sebagai fenomena politik pada waktu itu sangat memungkinkan karena Kristiani pada masa itu sudah menjadi Imperium besar, yakni kekaisaran Bizantium dan daerah-daerah sekutunya seperti Abbysinia, dan Najran. Bahkan pandangan politik Kristiani itu sangat mungkin dicapai karena dia Imperium besar dan naskah-naskah juga bisa sangat banyak karena tidak mungkin negara imperium besar itu miskin naskah.

Di sisi yang lain, relasi Muslim dan Kristiani itu juga telah terjadi pada masa Nabi di Makkah dan di Yatsrib. Di Makkah relasi itu terjadi karena adanya eksodus pertama dari penduduk Makkah pendukung agama Muhammad ke Abbysinia, yang mereka mendirikan kerajaan berdasar Kristiani. Selain itu, Abbysinia juga punya relasi kuat dengan Kristen Roma.

Relasi Islam dengan Kristiani Najran pada masa Nabi juga terjadi pada masa itu. ini terbukti adanya Shahifah Najran yang di tulis di masa Nabi yang berisi tentang perjanjian damai antara ke dua agama tersebut. Bahkan pada masa Nabi, Masjid Nabawi juga pernah dipakai sebagai Misa oleh Kristen Najran ketika mereka menjalin persekutuan bersama untuk membentuk Ummatan Wahidah. Namun sayangnya, Harold hanya mengungkap pandangan Aqidah saja pada diri Kristiani dalam melihat Islam dan tidak menampilkan sisi yang sama sebagaimana yang ada pada Yahudi.

Dalam kerangka ini justru kami berasumsi adanya latar belakang keyahudian dari sisi Harold ketika menulis esai ini. Latar belakang keyahudian Harold itu mempengaruhi gaya menulisnya untuk memilih data secara tidak seimbang, sehingga seolah-olah  dalam tulisannya melakukan binary-opposition antara Muslim dan Kristiani. Wallahu a’lam.

***

Artikel Harold yang direview pada tulisan ini berasal dari salah satu sub-bab buku berjudul , The Qur’an in Context: Historical and Literary into the Qur’anic Milieuw, dieditori oleh Angelika Neurwith, Nicolai Sinai, And Michel Marx, terbitan Brill: Boston, 2010.

Ahmad Lutfi. Dosen Filsafat IAIN Ponorogo

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *