Bulan Ramadhan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam, termasuk para santri di pondok pesantren. Di bulan penuh berkah ini, mereka tidak hanya menjalankan ibadah puasa, tetapi juga meningkatkan kualitas diri melalui berbagai kegiatan keagamaan. Puasa mengajarkan mereka untuk menahan lapar, mengendalikan hawa nafsu, dan melatih kepekaan sosial.
Namun, di tengah suasana Ramadhan, pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menyalurkan bantuan pangan. Program yang semula berupa makanan siap saji untuk anak sekolah, di bulan puasa dikonversi menjadi paket sembako yang dibagikan kepada keluarga kurang mampu, termasuk keluarga santri dan pondok pesantren.
Di satu sisi, program ini terlihat mulia. Negara hadir membantu meringankan beban masyarakat di bulan yang membutuhkan pengeluaran lebih untuk makanan. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan penting. Pertanyaanya adalah apakah program ini justru mengganggu proses pendidikan karakter yang selama ini dibangun di pesantren melalui ibadah puasa?
Di pesantren, puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa adalah proses pendidikan jiwa. Para santri diajarkan untuk merasakan lapar agar mereka bisa memahami penderitaan saudara-saudara yang kurang beruntung. Mereka dilatih untuk bersyukur dengan makanan sederhana, dan yang terpenting, mereka dididik untuk menjadi pribadi yang mandiri, bukan pribadi yang bergantung pada bantuan orang lain.
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa umum, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Kedua, puasa khusus, yaitu menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Ketiga, puasa khususnya khusus, yaitu puasa hati dari pikiran-pikiran duniawi.
Di pesantren, para santri tidak hanya diajarkan puasa tingkat pertama, tetapi juga dibimbing untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Mereka belajar bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembentukan karakter seumur hidup.
Ironi Program MBG di Pesantren
Ketika program MBG masuk ke pesantren dalam bentuk sembako dan atau ( Keringan ) terjadi beberapa ironi yang perlu kita cermati bersama.
Pertama, terkikisnya nilai kesederhanaan. Para santri yang biasa hidup sederhana dengan menu seadanya, tiba-tiba mendapat pasokan sembako berlimpah. Telur, daging, dan bahan makanan bergizi lainnya membuat menu berbuka mereka jauh lebih mewah dari biasanya. Akibatnya, perhatian mereka mulai teralihkan dari ibadah ke urusan makanan. Mereka sibuk memikirkan menu berbuka, bukan mempersiapkan diri untuk shalat tarawih atau tadarus Al-Qur’an.
Kedua, hilangnya pengalaman berharga. Seorang pengasuh pondok di Jawa Timur pernah bercerita kepada saya. Dulu, saat ia masih menjadi santri, persediaan makanan sangat terbatas. Ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya menanti adzan maghrib dengan perut keroncongan. Ketika berbuka, seteguk air putih dan sepotong kurma terasa begitu nikmat. Pengalaman lapar itu mengajarkannya untuk bersyukur atas nikmat sekecil apa pun.
Kini, dengan datangnya bantuan yang melimpah, para santri tidak lagi merasakan pengalaman berharga itu. Mereka tidak pernah benar-benar lapar, sehingga sulit bagi mereka untuk memahami makna syukur yang sesungguhnya.
Ketiga, munculnya kecemburuan sosial. Tidak semua santri mendapat jatah sembako yang sama. Ada yang keluarganya terdata sebagai penerima MBG, ada pula yang tidak. Padahal di pesantren, semua santri diperlakukan sama. Mereka makan dari dapur umum dengan menu yang sama. Ketika ada santri yang mendapat jatah lebih, muncul pertanyaan: apakah ia harus menyumbangkan sembakonya untuk dimasak bersama, atau boleh ia gunakan sendiri? Situasi ini bisa memicu kecemburuan dan ketidakharmonisan di antara para santri.
Keempat, terganggunya waktu ibadah. Distribusi sembako membutuhkan waktu dan tenaga. Para santri harus mengantre, menerima, dan menyimpan barang-barang tersebut. Waktu yang seharusnya diisi dengan tadarus Al-Qur’an atau kajian kitab, terpaksa dialihkan untuk urusan administratif yang tidak ada kaitannya dengan ibadah.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa program MBG ini buruk dan harus dihentikan. Niat baik pemerintah untuk membantu masyarakat kurang mampu patut diapresiasi. Terlebih di bulan Ramadhan, kebutuhan pangan keluarga miskin memang meningkat karena harus menyediakan menu berbuka dan sahur.
Hanya saja, untuk konteks pesantren, perlu ada penyesuaian. Pesantren adalah lembaga pendidikan, bukan sekadar tempat tinggal. Setiap kebijakan yang masuk ke pesantren harus dilihat dari aspek dampak pendidikannya, bukan hanya aspek konsumsinya.
Pertanyaan yang harus kita ajukan bukanlah “apakah para santri cukup makan?” tetapi “pelajaran apa yang bisa diambil para santri dari program ini?” Jika jawabannya hanya “mereka menjadi kenyang”, maka program ini gagal dalam aspek pendidikan. Padahal, tujuan utama pesantren adalah mendidik, bukan sekadar memberi makan.
Agar program MBG tetap bermanfaat tanpa mengganggu proses pendidikan di pesantren, beberapa hal berikut bisa dipertimbangkan:
Pertama, ubah bentuk bantuan. Alih-alih memberikan sembako jadi, pemerintah bisa memberikan bantuan berupa modal usaha atau bahan baku produktif. Misalnya, bibit ayam, bibit lele, atau alat pengolahan makanan. Dengan begitu, pesantren bisa mengelola kebutuhan pangannya sendiri, sekaligus melatih santri untuk berwirausaha.
Kedua, libatkan pesantren dalam pengelolaan. Sembako yang masuk sebaiknya dikelola oleh koperasi pesantren, bukan dibagikan langsung ke santri. Santri bisa “membeli” bahan-bahan tersebut dengan poin prestasi atau hasil kerja mereka. Dengan cara ini, mereka belajar bahwa sesuatu yang berharga harus diperoleh dengan usaha, bukan didapatkan secara cuma-cuma.
Ketiga, jadwalkan distribusi di luar jam ibadah. Hindari pembagian sembako di waktu-waktu utama seperti pagi hari setelah subuh atau menjelang berbuka. Gunakan waktu setelah tarawih atau waktu luang lainnya yang tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.
Keempat, berikan pemahaman. Jelaskan kepada para santri bahwa bantuan ini adalah bentuk kepedulian negara, tetapi bukan berarti mereka harus bergantung. Tanamkan nilai syukur dan semangat untuk kelak bisa memberi lebih banyak daripada yang mereka terima sekarang.
