Islamadina.org – Dalam tradisi ilmu-ilmu keislaman, disiplin tasawuf menjadi salah satu cara bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tasawuf adalah jalan menuju Allah melalui jalan ruhani atau batin, artinya dimensi batin menjadi ukuran dan dasar bagi seorang hamba menuju Allah. Hal ini berbeda dengan syariat yang umumnya dipahami sebagai jalan menuju Allah secara dhahir atau lahiriah.
Menurut Imam Al-Ghazali, inti dari pengamalan tasawuf ada dua; pertama, ketulusan kepada Allah. Kedua, memperbaiki hubungan kepada sesama manusia. Seseorang dapat dikatakan sufi atau mengamal tasawuf bila sudah mengamalkan kedua ajaran inti tersebut.
Namun demikian, jalan menuju Allah melalui tasawuf bukanlah sesuatu yang mudah. Sebab, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang hamba sehingga ia dapat sampai ke makom puncak. Umumnya, para sufi membagi tahapan-tahapan itu ke dalam tiga tingkatan:
Pertama, syariat. Syariat berkaitan dengan ibadah lahirian tentang segala hal yang berhubungan dengan perintah dan larangan Allah, seperti perintah shalat, puasa, haji dsb, juga larangan-larangan yang harus dihindari agar terjauhkan dari dosa. Syariat pada prinsipnya adalah cara untuk memperbaiki anggota badan, seperti bagaimana cara menjala lisan, menjaga teliga, dsb.
Di dalam syariat, ada tiga tahapan lagi yang harus ditempuh oleh seorang hamba agar ia dapat mencapai tahapan selanjutnya, tiga tahapan itu di antaranya; taubat, takwa, dan istiqamah. Tiga tahapan di dalam syariat ini harus dilakukan setahap demi setahap agar seorang hamba dapat naik kelas ke tahapn selanjutnya. Misalnya, tidaklah mungkin seorang hamba akan sampai ke makom istiqomah apabila ia belum memperbaiki dimensi takwa.
Kedua, tarekat. Tahapan kedua di dalam tasawuf ini bertujuan untuk memperbaiki hati. Bila tahapan syariat lebih berorientasi pada perbaikan lahiriah, maka di tahap ini seorang hampa mencoba memperbaiki diri pada level batiniah.
Tahapan tarekat ini juga memiliki tiga tingkatan yang harus dilalui oleh seorang hamba, di antaranya; ikhlas, jujur, dan tuma’ninah. Bila seseorang sudah mampu melalui tahapan ikhlas dan jujur dalam beribadah, maka ia akhirnya akan bisa sampai pada tahapan tuma’ninah, yakni merasakan ketenangan batin dalam beribadah kepada Allah.
Ketiga, hakikat. Ini merupakan tahapan puncak dan paling tinggi dalam ilmu tasawuf. Hakikat adalah ruang bagi seorang hamba untuk dapat sampai kepada Allah dengan melalui kesaksian-kesaksian batiniah di mana seorang hamba mampu menyelami hakikat ketuhanan dan merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkahnya.
Dalam tahapan hakikat ini, ada pula tingkatan-tingkatan yang harus dilalui oleh seorang hamba agar ia senantiasa terjaga dan dapat naik kelas ke tahapan selanjutnya, di antara; muraqabah, musyahadah, dan ma’rifat. Muraqabah adalah kondisi di mana seorang hamba seolah-oleh dilihat dan melihat Allah dalam setiap langkahnya. Bila ini sudah mampu dilewati ia akan sampai ke makom musyahadah, yakni terbukanya tabir-tabir penghalang antara hamba dan Tuhannya.
Ketika tabir-tabir itu telah terbuka lebar, maka seorang hamba akan sampai ke makom tertinggi, yakni ma’rifat, di mana ia mendapatkan pengetahuan yang sangat melimpah tentang keilahian. Semua ilmu-ilmu akan terbuka lebar bagi seorang hamba apabila ia sudah bisa sampai ke tahapan ini.
Tentunya, semua tahapan-tahapan ini tidak bisa dicapai secara mudah. Sebab, seorang hamba harus benar-benar lulus terlebih dahulu sebelum ia dapat naik kelas ke tehapan selanjutnya. Bila aspek syariat belum beres, maka ia tidak akan bisa naik ke tahapan tarekat, leih-lebih ke tahapan hakikat.
Apa yang harus dilakukan oleh seorang hamba adalah beribadah secara sungguh-sungguh agar ia dapat mencapai tahapan demi tahapan tersebut untuk dapat merasakan kelezatan ibadah dan bersanding dengan Allah.Islamadina

