Oleh: M.S Arifin
Dalam dunia pemikiran Islam, istilah “Transkritik” memang belum banyak dikenal, tetapi kandungannya sebenarnya sudah ada, terutama dalam studi ilmu al-Quran. Istilah ini pertama saya kenal dari buku Kojin Karatani yang berjudul ‘Transqritique: On Kant and Marx’.
Dalam buku ini Karatani mencoba untuk melakukan transkritik (kritik di sini jangan dipahami seperti lumrahnya, yakni mendedah kekurangan dari sesuatu, baik dengan disertai solusi maupun tidak, tetapi kritik di sini musti dipahami sebagai strategi memperkaya pemahaman akan sesuatu, seperti kritik dalam susastra) antara dua teks yang datang dari dua pemikir yang orientasi idenya berbeda. Kita tahu Kant adalah master di bidang epistemologi dan Marx adalah junjungan para pemikir sosialis. Karatani mengajukan tesis yang cukup melegakan: Kant bisa dibaca lewat Marx dan begitupun sebaliknya.
Strategi pembacaan teks seperti ini perlu dicoba, mengingat bahwa acapkali teks punya konteks yang sukar dipahami kecuali mengandalkan teks lain yang datangnya hampir berdekatan dengan teks yang pertama. Kant dan Marx sama-sama filsuf Jerman, yang pertama lahir tahun 1724 M, dan yang kedua lahir tahun 1818 M.
Di dalam dunia Islam, pembacaan menggunakan strategi (boleh jadi akan jadi metode) ini akan memperkaya pemikiran Islam kontemporer dan memperluas cakrawala pemahaman teks. Misalnya, kita bisa membaca Al-Ghazali lewat Ibn Rusyd dan juga sebaliknya, mengingat sekaligus melupakan bahwa keduanya adalah rival abadi dalam filsafat Islam klasik. Sependek pembacaan saya, kedua tokoh ini, alih-alih saling kontra, di beberapa pemikiran penting, keduanya justru banyak satu suara.
Kita tahu ungkapan terkenal Al-Ghazali (lahir 450 H) bahwa “Di dalam kemungkinan tidak lebih bagus/serasi/sistematis dari yang sudah ada (laisa fi al-imkān abda’ mimmā kāna).” Dari teks ini saja, yang oleh sementara orang justru dinilai sufistik tinimbang rasional-spekulatif, kita sudah bisa memperkaya interpretasinya melalui pemikiran Ibn Rusyd (lahir 520 H) soal keteraturan alam semesta. Dalam kitabnya ‘Manāhij Al-Adillah’, Ibn Rusyd menyangsikan argumen para teolog muslim yang dalam pembuktian Tuhan, allih-alih mengatakan bahwa alam ini sebagai satu-satunya semesta yang kosmos, malah terjebak pada klasifikasi hukum akal yang justru menyimpang dari kenyataan. Dalihnya adalah: segalanya selain Tuhan adalah mungkin, dan Tuhan kuasa menciptakan alam yang ‘lebih baik’ dari alam yang sudah ada.
Pemikiran teolog ini, oleh Ibn Rusyd justru ‘menghina’ Tuhan dan sangat bertentangan dengan filsafat sekaligus agama. Dalam Al-Quran sendiri banyak ayat yang menyatakan bahwa alam semesta diciptakan dengan suatu sistem yang tidak bisa diubah, dan sistem itu serasi dan mendukung, jika kita mau berpikir antroposentris, kehidupan manusia. Inilah apa yang Ibn Rusyd sebut dengan ‘Ināyah’ (pertolongan). Ungkapan yang dianggap sufistik dari Al-Ghazali ternyata bisa diperkaya dengan strategi pembacaan melalui transkritik.
Ini hanya satu contoh kecil, dan alangkah menggembirakan jika ada yang menempuh strategi ini di dunia pemikiran Islam dewasa ini.
M.S Arifin. Alumni Universitas Al-Azhar Mesir

