Oleh: Alfathri Adlin
Bagi para sufi arif billah, langit dan bumi adalah simbolisasi dari jiwa dan raga, dan itu tertuang di banyak ayat Al-Quran. Ini suatu simbol yang luar biasa. Apabila kita melihat ke langit, dan menatap awan, kita hanya bisa menikmati bentuk yang disajikan. Tidak bisa tangan kita meremas-remas awan dan membentuknya semau kita. Saat malam hari, kita melihat gugusan bintang, dan kita pun hanya bisa menikmatinya; tak bisa tangan kita mengatur-atur bintang menjadi tersusun seperti yang kita kehendaki. Seperti itulah jiwa atau nafs.
Nafs dalam Al-Quran bukanlah psikis seperti dipahami dalam konsepsi psikologi modern. Tak ada satu pun teori psikologi modern yang pernah merumuskan jiwa sebagai entitas terpisah dari tubuh. Jiwa hanyalah ilusi ciptaan impuls-impuls saraf dan otak saja; hanya sebatas mental bentukan pengalaman hidup. Nah, sifat tak terubah dari nafs inilah yang dalam Al-Quran diistilahkan sebagai fitrah, dan Al-Quran menegaskan bahwa tak ada perubahan atas fitrah, dan Allah telah menetapkan fitrah setiap manusia, berbeda satu sama lain.
Sedangkan apabila kita melihat ke bumi, lalu kita melihat bukit atau gunung, kita bisa mengubahnya menjadi sawah, atau menjadi tempat penggalian pasir, emas atau apa pun. Bahkan di Papua sana, gunung emas yang dulu berkilau-kilau itu, kini hanya tersisa lubang besar menganga. Bahkan air pun bisa kita cemari, laut kita kotori dan lain sebagainya. Seperti itulah raga kita.
Psikis, sebagai aspek rasa dari raga (atau mental), benar-benar merupakan lapis demi lapis arkeologis bentukan. Watak kita, sensitifitas kita, imajinasi dan cara berpikir kita, serta segala hal yang terkait dengan raga plus psikis adalah bentukan. Di tataran raga, kita tak ubahnya tanah liat yang mudah dibentuk-bentuk, entah oleh obsesi, oleh trauma, oleh kebencian, oleh rasa takut dan lain sebagainya.
Karena itu, pembicaraan tentang manusia tanpa kesejatian diri, tanpa esensi, cuma hasil bentukan sosiokultural adalah pembicaraan yang lazim dalam berbagai wacana filsafat, psikologi dan juga ilmu humaniora lainnya. Inilah yang saya istilahkan sebagai pandangan anti-esensialis, bahwa manusia itu tidak punya esensi, tak punya kesejatian diri, hanya bentukan semata, atau protean self jika memakai istilah dari Robert Jay Lifton.
Dalam filsafat, Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein (yang arti harfiahnya: ‘ada di sana’) untuk menunjukkan kondisi faktisitas manusia, keterlemparan manusia ke muka bumi dan tenggelam dalam dunianya. Yah, mirip Mr. Bean yang terjatuh dari langit dan tidak tahu untuk apa, mau apa dan harus bagaimana. Sartre sendiri menyebut istilah ‘bad faith’ untuk pandangan bahwa manusia itu diciptakan untuk suatu tujuan. Omong kosong, begitu menurut Sartre. Hidup ini absurd dan tidak ada tujuan apa pun. Foucault mencetuskan konsep ‘aesthetics of existence’; bahwa hidupmu adalah karyamu, dan engkau sendiri yang menciptakannya.
Lacan mengajukan istilah ‘meconaissance’ untuk proses kesalahpengenalan diri yang terjadi pada manusia. Diawali dengan fase citra cermin, manusia mengambil bayangannya di cermin sebagai dirinya sejati, padahal — bagaimana pun — itu hanyalah bayangan saja. Lalu, dalam kehidupan sosialnya, bagaimana identitasnya pun tak lebih dari sesuatu yang dicangkokkan dari luar ke dalam. Bagi Lacan, ketaksadaran adalah keseluruhan riwayat hidup manusia, tak mungkin dihilangkan. Freud salah jika ingin menguatkan ego (sebagai diri) untuk mengurangi dominasi ketaksadaran, karena diri itu sendiri adalah ilusi; tak lebih dari produksi ketaksadaran berupa citra cermin.
Sedangkan di wilayah sains, biologi misalnya, bahwa sebelumnya, zat anorganik yang kecepret petir yang dalam sekian proses selanjutnya terbawa ke lautan yang panas dan membentuk sup purba atau sup primordial yang terus berkembang selama berjuta-juta tahun. Di dalam sup primordial tersebut terkandung zat anorganik, RNA, dan DNA. RNA yang dibutuhkan dalam proses sintesis protein dapat terbentuk dari DNA. Akibatnya, terbentuklah sel pertama. Sel pertama tersebut mampu membelah diri sehingga jumlahnya semakin banyak. Sejak saat itulah evolusi biologi berlangsung. Dan manusia tak lebih dari produk evolusi tersebut.
Bahkan, para biolog saat ini sedang mencoba menemukan BIG BANG GENETIK. Jika berhasil, maka selesai sudah, manusia cuma binatang yang DNA-nya beda 2% dari simpanse, bisa berjalan dengan dua kaki dan menggunakan kedua tangannya serta menghasilkan bebunyian jadi bermakna tapi berhasil mencapai tingkat tertinggi dari evolusi. Dalam Cognitive Science pun pembeda antara makhluk hidup dan benda mati semakin dikaburkan. Bahwa semakin sederhana suatu UNIT KEHIDUPAN (istilah pengganti bagi benda mati mau pun makhluk hidup) maka hanya bisa memberikan reaksi. Semakin kompleks, maka akan berkreasi.
Kesemua pembicaraan semacam itu semata dilandaskan pada tatapan yang hanya terpaku pada raga wadak ini dan tak mengakui adanya oknum lain di balik raga wadak ini.
Pandangan seperti itu sebenarnya tidaklah orisinal sama sekali. Hanya mengulang suatu pandangan purba, jauh di masa sebelum manusia ada di muka bumi, yaitu ketika Azazil menolak perintah Tuhan untuk bersujud di hadapan Adam dengan dalih: “Kenapa saya harus sujud sama segumpal tanah liat ini yang tidak ada sedikit pun hebat-hebatnya…” Dan karena itu Azazil pun diusir dari surga.
Karenanya, celotehan bahwa manusia itu tak punya kesejatian, hanya segumpal daging yang dilengkapi kehidupan mental sebatas bentukan, rasanya tidak berbeda jauh dengan komentar Azazil yang kini lebih kita kenal sebagai Iblis. Karenanya juga, omongan soal dharma atau misi hidup yang diamanahkan pada manusia pun kini menjadi asing; bahwa hal seperti itu hanyalah sebatas pengertian tertentu saja, atau bahkan cuma permainan tafsir yang lahir dari ‘wishfull thinking’ ihwal kemuliaan manusia.
Padahal pandangan semacam itu tersebar di berbagai agama dan kitab suci, bahkan dalam kitab-kitabnya Platon tercinta. Dan hanya kitab suci dan agama saja yang meletakkan manusia dalam status sebagai ciptaan yang terbaik. Seorang sahabat saya, doktor Astronomi dari Jerman, mengatakan bahwa jika usia alam semesta ini — semenjak Big Bang — diumpamakan satu tahun, maka manusia baru muncul di detik terakhir menjelang tahun baru. Bukankah itu bisa dibaca juga sebagai semacam puncak dari pertunjukkan yang digelar di semesta ini? Well?
Tapi, bukankah QS Yaasiin [36]: 77 pun menandaskan bahwa “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air (mani), maka tiba-tiba dia menjadi penantang yang nyata!”
Alfathri Adlin. Cendekiawan Muslim Indonesia

