Budaya “Komentar”
dictio.id

Budaya “Komentar”

Salah satu dampak buruk dari masifnya media dan percepatan teknologi-komunikasi adalah banyak orang lebih tertarik untuk sekedar menyebarkan berita daripada memahami kandungan kebenaran dari isi berita itu. Padahal, dalam membuat suatu kabar, selalu membutuhkan jerih payah yang lebih dari sekedar meneruskan atau menyebarkannya.

Apalagi sekarang, cukup hanya mengklik saja, seluruh berita bisa tersalin, terkirim, dan tersebar sebanyak mungkin. Dengan berbagai kemudahan itu, kita justru berlomba-lomba menjadi penerus kabar daripada memahami substansinya secara jernih. Tapi apa boleh buat, begitulah perkembangan media saat ini, kita menjadi seseorang yang “uptudate” dan sibuk dengan banyak sekali perkejaan untuk mengikuti simpang siur  peristiwa di sekitar kita.

Tapi masalahnya, seringkali suatu kabar yang banyak dishare dan menjadi tranding, adalah sesuatu yang tak jarang membuat orang marah dan memancing kebencian. Dan ini terbukti, di mana suatu percakapan di dunia maya berbuntut bukan hanya perang verbal, tetapi juga perang kekerasan visual dan konkrit nyata. Saya kira mayoritas di antara kita pernah menyaksikan hal-hal semacam ini.

Meski begitu, kita tidak bisa memungkiri bahwa teknologi dunia maya sungguh sangat luar biasa maju dan kita pun pasti tidak akan mungkin meragukannya. Dunia maya juga telah merevolusi perkembangan ilmu pengetahuan secara lebih baik, lancar, cepat, dan tidak terbatas.

Tapi perlu diingat, bahwa media teknologi juga sangat cepat melahirkan budaya “komentar”. Siapapun dan dari latarbelakang mana saja bisa berkomentar dan memang tidak ada larangan. Tidak peduli apakah komentar itu melukai atau bahkan yang lebih tragis lagi dapat menyingkirkan orang lain.

Media, dengan demikian, juga bisa melahirkan sejenis setan yang membuat kita mampu saling membenci dan saling membuat orang lain menjadi korban. Pada sisi ini, sebenarnya bukan medianya yang menjadi sasaran kekeliruan, tapi pola pemanfaatan media itulah yang boleh dibilang kurang bermutu.

Saya sering bertanya-tanya, mengapa budaya bermedia sosial membuat kita menjadi saling membenci dan menyebar kemarahan atau diskriminasi bahkan rasis? Lalu, apakah lantas media sosial harus dilarang? Saya kira tidak mungkin, karena jangankan orang awam yang jelas-jelas mudah dihinggapi penyakit bias, seorang yang berilmu pun, katakanlah ilmuwan, juga banyak yang tidak bisa lepas dari bias itu.

Saya ingin memberikan sebuah contoh di mana sudah terlalu banyak di antara masyarakat kita, khususnya para pengguna media sosial, yang sudah tidak bisa berpikir secara logis. Misalnya seperti polemik nasab Ba’alawi dalam setahun terakhir  dan mengundang kontroversi di kalangan umat Islam secara luas.

Setelah saya cermati, banyak orang tidak mampu mendudukkan perkara ini secara objektif dan orang cenderung melampaui batasannya hingga melahirkan komentar-komentar dengan bahasa kebencian yang sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang berpikir menggunakan akal sehatnya.

Akhirnya, polemik ini melahirkan kubu-kubuan antara yang pro dan kontra, antara yang setuju dan tidak. Implikasi buruknya orang menjadi tidak mampu berpikir secara objektif dan cenderung berkonflik dengan kekasaran bahasa kebencian.

Paling tidak, dari fenomena ini, ada sedikit gambaran yang bisa disimpulkan bahwa dalam masyarakat kita, lebih banyak orang yang masih berpikir secara emosional daripada berpikir secara objektif dan ilmiah. Tidak logis kiranya bila penemuan ilmiah dibantah mentah-mentah oleh logika agama yang lebih banyak mengandalkan kekuatan iman dan doktrin syariat. Ini bukan berarti bahwa doktrin agama keliru, tapi lebih pada permasalahan dalam menetapkan wilayah kebenaran antara agama dan ilmu pengetahuan.

Pada titik ini, jelas bahwa budaya bermedia sosial kita masih sangat lemah dan kurang minat untuk menelusuri kebenaran secara mendalam. Justru yang terjadi, sangat berani menyimpulkan sesuatu yang dianggap benar ataupun keliru.

Saya jadi berpikir bahwa kasus “polemik nasab” ini seperti sebuah peperangan di antara masyarakat takhayul.

Akhirnya, kebebasan akademik dan berpendapat menjadi korban dan cenderung dibatasi oleh opini publik yang terkesan simpang siur dan tidak terukur. Padahal, setiap jenis kebenaran, apapun itu, selalu memiliki batasan dan terukur secara jelas. Saya khawatir, dalam jangka waktu ke depan, akan lebih banyak orang yang kurang menghargai kerja-kerja pengetahuan dan ilmuwan pun dianggap receh serta tidak berguna.

Di sisi lain, konsep demokrasi yang kita angung-angungkan sebagai wadah bagi kebebasan berpikir dan berpendapat, lama kelamaan bisa saja sirna akibat banyak orang tidak mampu lagi berpikir secara masuk akal. Akibat terburuknya, kita menjadi masyarakat takhayul karena ketidaktahuan dan terutama rasa takut yang berlebih-lebihan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *