Filsuf Itu Orang Gila!
wisata.viva.co.id

Filsuf Itu Orang Gila!

Oleh: M S Arifin

Di tengah kesibukan membaca, meriset, mempelajari, dan menulis buku filsafat, saya sering menyempatkan diri untuk rehat di tempat-tempat tak terduga, seringnya ke pos kamling. Di situ saya hanya duduk-duduk sambil menyaksikan para tetangga main gaplek, tersenyum kecil ketika mereka terbahak-bahak karena berhasil menggilas lawan mainnya. Di situlah saya bisa sejenak menjadi manusia pada umumnya, di situlah saya merasa orang-orang amat beruntung karena tidak sempat memikirkan atau tidak terbebani oleh ide-ide fundamental-filosofis yang menyiksa.

Filsafat adalah tentang bagaimana menembus batas-batas riak permukaan, menelusup ke inti paling terdalam dari realitas. Oleh karenanya sebagaian orang praktis tidak menganggap filsafat penting, lantaran filsafat mengungkapkan sesuatu yang memang sudah demikian.

Maksud saya adalah bahwa filsafat menggamblangkan apa yang sesungguhnya tersimpan di lubuk realitas. Contohnya, sematan ‘bapak-anak’ secara praktis berguna bagi kehidupan sehari-hari untuk mengungkapkan sesuatu yang secara filosofis sebenarnya begitu kompleks.

Dalam ilmu kategori (maqulat) sematan itu berhubungan dengan ‘status’. Status ini memiliki ketergantungan satu sama lain, tak ada bapak jika tak ada anak dan begitu juga sebaliknya. Teori ini akan lebih kompleks jika diteruskan ke masalah metafisika ketuhanan: apa status alam semesta bagi Tuhan, baik secara ontologis maupun epistemologis? Masalah serumit ini tak mungkin pernah nyantol di kepala para tetangga yang bermain gaplek sambil terbahak-bahak, dan mereka, bagi saya, amat beruntung.

Bagi sebagian kalangan, seorang filsuf cum pemikir itu keren. Bagi saya itu tidak keren, tapi menyiksa. Kenapa? Martin Heidegger membedakan antara momen ontis dan momen ontologis, dalam konstruksi filsafat eksistensial-fenomenologisnya.

Baca juga: Kriteria Memilih Pemimpin

Momen ontis adalah momen di mana manusia menjadi ‘Das Man’, atau siapapun, larut dengan kesehariannya sebagai jangkar untuk mempertahankan ‘kehidupan’-nya. Manusia sebagai ‘Das Man’ adalah manusia yang bertetangga, bekerja, bersosial, dan sekian aktivitas keseharian rutin. Di momen ini manusia (atau Dasein) menjadi inautentik, karena ia asing dengan eksistensi fundamentalnya.

Sebaliknya, momen ontologis adalah momen di mana manusia tercerabut dari akar kesehariannya, menceburkan diri ke palung keterlemparannya ke dunia. Manusia, dalam tinjauan biologis, terlahir dari rahim seorang wanita. Ketika ia lahir, organ biologisnya sesuai dengan keadaan dunia keseharian yang menopang ‘kehidupan’.

Namun dalam tinjauan Heidegger, manusia itu terlempar begitu saja di dunia, tiba-tiba ada di sana (Da-sein = ada-di-sana). Ketika ia menjadi ‘Das Man’, ia tertaut dengan dunia kehidupan, namun ia juga kadang kala menjadi ‘Dasein’ itu sendiri, yakni ketika ia menautkan dirinya dengan ‘makna kehidupan’. Makna inilah yang senantiasa dicari spesies manusia sepanjang sejarah.

Pencarian atas ‘makna kehidupan’ inilah momen ontologis seorang manusia, di mana ia berada pada mode autentik. Tak ada satu pun manusia yang sanggup menjadi autentik sepanjang waktu, yang artinya selalu memikirkan ‘makna kehidupan’ karena hal itu sangat jauh dari urusan keseharian (everydayness).

Seorang pengkaji filsafat (filsuf/pemikir) tak ayal adalah orang yang sering menggunakan mode autentiknya. Ia adalah orang yang ‘tak mau terima beres’ soal ‘makna kehidupan’. Agama telah menjelaskan ‘makna kehidupan’ itu sedemikiran rupa. Dan, sebagian orang, lebih-lebih yang berpikir praktis, tinggal mengikuti tafsiran-tafsiran agama.

Tetapi filsuf senantiasa gelisah terhadap ‘kedangkalan’ berpikir. Ia tak terima dengan riak-riak yang tampak dan mencari tahu apa yang tersembunyi di seberang realitas. Dari situlah ia mulai mempertanyakan ‘dari mana saya berasal?’, ‘kenapa saya di sini?’, ‘kemana saya setelah ini?’; yang mana pertanyaan ini mengurusi ‘makna kehidupan’ itu sendiri.

Semua aliran filsafat hanyalah subordinat jawaban atas tiga pertanyaan besar dalam filsafat dan agama tadi. Dan, siapapun yang menceburkan diri ke dalam tiga pertanyaan tadi, maka ia akan merasa terasing dengan dunia keseharian, dan dengan begitu, secara psikologis, ia akan lebih menjadi insan individual. Ia akan cenderung menjadi penyendiri, dan tak jarang dianggap ‘gila’ atau memang benar-benar ‘gila’.

Saya tak mau gila atau dianggap gila karena harus terus berada di momen ontologis atau mode autentik. Sesekali saya akan keluar ke pos kamling, melihat orang-orang main gaplek, mendengar candaan receh mereka yang kadang lucu kadang garing. Tapi memang dasarnya suka mikir, begitu pulang ke rumah kejadian di pos kamling juga menuntut saya untuk berpikir. Gaplek itu satu permainan, ia merupakan produk budaya. Satu permainan bisa berjalan secara otomatis jika para pemain paham aturan mainnya. Bukankah kehidupan juga demikian? Ah, bangsat! Mending tidur aja daripada gila!

Sumber: Fb M S Arifin

M S Arifin. Alumni Universitas Al-Azhar Mesir

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *