Islamadina.org – Tidak lama lagi Prabowo Subianto akan dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, beberapa persiapan telah dilakukan misalnya Pak Prabowo memanggil dan mengumpulkan orang-orang yang nantinya akan membantunya dalam pemerintahan baru. Persiapan ini dilakukan guna memastikan jalannya pemerintahan baru dapat terwujud sesuai dengan harapan.
Namun di samping itu, keberadaan Jokowi yang segera lenser justru melakukan berbagai upaya pencitraan untuk memoles dirinya sendiri agar tampak sukses memerintah Indonesia selama masa sepuluh tahun kekuasannnya. Beberapa hal dilakukan misalnya dengan menyebarkan banyak berita dan iklan bahilo tentang kesan kesuksesan Jokowi selama menjadi Presiden.
Misalnya, beberapa hari yang lalu tayang sebuah siaran live Kompas, yang isinya adalah video-video pendek tentang pencitraan keberhasilan pemerintah Jokowi. Pencitraan ini tidak lain adalah propaganda presiden Jokowi menjelang lengser dari kekuasaannya dan ingin mendapat kesan keberhasilan selama menjabat sebagai presiden.
Propaganda ini mungkin juga dilakukan oleh media-media lain, atau di media sosial juga mungkin banyak terjadi. Yang pasti, ada media nasional, seperti tempo, yang mengklarifikasi bahwa medianya sempat ditawari pihak Jokowi untuk mengkampanyekan kesuksesan kepemimpinan, meski begitu tempo menolak karena itu sifatnya bukan iklan, tetapi lebih ke konten substansi berita atau pembuatan berita organik. Keputusan tempo ini patut diapresiasi mengingat tempo terkenal dengan media kritis dan netral.
Harus diakui bahwa media-media massa kita sedang kesulitan secara finansial. Media massa sebagai lembaga jurnalistik mudah sekali opini-opininya dibeli. Ini menjadi masalah tersendiri bagi perkembangan jurnalisme dan penyebaran informasi.
Seringkali yang menjadi masalah adalah begitu banyak dana pemerintah yang digunakan untuk kepentingannya sendiri dalam berkampanye, padahal, dana pemerintah adalah dana publik untuk rakyat, tetapi kenapa dipakai untuk kepentingan sendiri.
Sebagai rakyat, kita perlu bersikap kritis terhadap fenomena ini di mana tidak seharusnya uang rakyat dipakai untuk berbagai macam kepentingan politik, apalagi propaganda yang tidak bermutu.
Kasus pencitraan Jokowi ini juga unik dan aneh, kita umumnya tahu bahwa prestasi seseorang mendapatkan penghargaan biasanya karena ada pengakuan dari orang lain. Namun, jika kita mempromosikan keberhasilan sendiri, itu disebut lebih merupakan klaim atau malah sebentuk narsisme yang berlebihan.
Tapi apapun itu, yang jelas tanggal 20 Oktober besok adalah hari Pelantikan bapak Prabowo sebagai Presiden, kita perlu mengucapkan terima kasih secukupnya kepada bapak Jokowi yang telah memimpin Indonesia selama 10 tahun terakhir, dan berdoa semoga kepemimpinan bapak Prabowo di masa mendatang akan menjadikan Indonesia lebih baik lagi.
Islamadina.org – News
Editor: Rohmatul Izad

