Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) adalah lembaga yang membidangi kegiatan pengembangan literasi berupa penerbitan dan penyebaran informasi. Secara arti, Ta’lif berarti “menulis” dan Nasyr berarti “menerbitkan. Lembaga ini di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Para ulama NU sebetulnya sudah sejak dulu terlibat dalam aktivitas ini, yakni menyebarkan infomasi keislaman, menulis, dan menerbitkan buku atau kitab kuning. Tetapi secara kelembagaan, LTNNU baru berdiri pada tahun 1984, jauh setelah NU berdiri, yakni pada 1926.
Bila melihat sejarah pendiriannya, pembentukan lembaga ini ternyata ada peran KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) di dalamnya. Lembaga ini resmi dibentuk pada masa kepemimpinan Ketua Umum PBNU Gus Dur, berdasarkan rekomendasi Muktamar NU ke-27 di Situbondo.
Kendati rekomendasi pendirian LTNNU merupakan hasil musyawarah bersama dalam sesi Muktamar tersebut, tetapi peran Gus Dur sama sekali tidak bisa diabaikan. Mengingat, Gus Dur bukan hanya pemimpin keagamaan maupun organisasi, beliau juga sekaligus merupakan ilmuwan hebat yang telah menulis banyak karya di berbagai bidang.
Sebagai intelektual yang banyak melahirkan karya, Gus Dur menjadi salah satu ikon di dalam organisasi NU tentang bagaimana umat Islam tidak hanya sekedar mengajarkan Islam, tetapi juga mengembangkan khazanah keislaman melalui karya tulis menulis.
Mengingat, salah satu kelemahan NU, khususnya di kalangan pesantren, adalah bidang tulis menulis tersebut. Pesantren sebagai lembaga pendirikan keagamaan dirasa belum cukup mampu melahirkan penulis-penulis hebat. Padahal, khazanah keislaman yang dimiliki pesantren sangat kaya, yakni meliputi karya-karya ulama Islam klasik hingga modern.
Kehadiran LTNNU ini kiranya dapat menjadi terobosan bagi NU agar setiap warga Nahdliyin mampu berkarya secara produktif dalam rangka mengembangkan keilmuan Islam yang lebih kontekstual.
Awal mula lahirnya LTNNU ini sebetulnya diproyeksikan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi para kiai dalam menemukan hasil-hasil Muktamar sebelumnya dan untuk memastikan bahwa keputusan-keputusan penting NU tidak hilang. Tujuan awal LTNNU adalah mensosialisasikan keputusan-keputusan Muktamar, terutama yang berkaitan dengan Khittah 1926.
Beberapa kontribusi penting LTNNU antara lain: 1). Penerjemahan dan penerbitan kitab: LTNNU menerjemahkan kitab-kitab penting seperti Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi Banten. 2). Penerbitan buku: LTNNU menerbitkan buku-buku keputusan resmi PBNU dan biografi tokoh-tokoh NU. 3). Penelitian sejarah: LTNNU melakukan penelitian sejarah masuknya NU di berbagai daerah seperti Lombok, Sulawesi Selatan, dan Sumatera. 4). Media komunikasi: LTNNU pernah menerbitkan Warta NU yang kemudian dilanjutkan dengan majalah Risalah Nahdlatul Ulama.
Beberapa tokoh yang pernah memimpin LTNNU adalah:
1) H. Ichwan Syam (1984-1994)
2) Choirul Anam (1994-1999)
3) Abdul Mun’im DZ (1999-2010)
4) Sulton Fathoni (2010-2015)
5) Juri Ardiantoro (2015-2016)
6) Hari Usmayadi (2016-sekarang)
Namun demikian, seiring perkembangan zaman, LTNNU telah berkembang pesat menjadi lembaga literasi NU yang telah banyak berperan dalam penyebaran informasi seputar keislaman, baik melalui penerbitan buku/kitab, buletin, majalah, maupun media online.
Pada tahun 2003, LTNNU meluncurkan situs resmi NU Online yang menjadi platform utama untuk menyebarkan informasi dan kegiatan resmi NU. Situs ini memuat berita tentang keislaman, dunia pesantren, kiai, santri, dan pemikiran pembaca, seni budaya, dan sebagainya. Konten keislaman disajikan dengan gaya populer dan ringan. Terhitung, NU Online telah berdiri lebih dari dua puluh tahun, dan sekarang media ini menjadi media keislaman nomor satu di Indonesia.
Selain NU Online yang ada di tingkat PBNU, media-media online juga banyak dikembangkan pada level PWNU dan PCNU, media-media ini sejatinya ada di bawah naungan NU Online. Kendati ada beberapa situs di daerah yang tidak berafiliasi secara langsung dengan NU Online, seperti situs Islamadina.org milik LTNNU di bawah PCNU Lampung Timur, namun pada prinsipnya situs ini tetap bernaung di bawah NU Online maupun PBNU.
Boleh dibilang, LTNNU merupakan lembaga yang paling sibuk di antara lembaga-lembaga lain yang ada di bawah naungan NU. Sebagai contoh, pengelolaan situs online seperti NU Online dan juga situs-situs keislaman lainnya, harus dioperasikan selama dua puluh empat jam. Sebab, situs-situs ini bertugas menyebarkan informasi seputar keislaman secara uptudate, sehingga setiap hari mereka harus aktif, baik dalam hal tulis menulis maupun dalam mengoperasikan situs web tersebut.
Di tengah gempuran paham-paham keislaman yang dianggap menyimpang, eksistensi LTNNU dalam mengembangkan situs keislaman online dianggap sangat penting. Hal ini disebabkan karena adanya fenomena belajar agama di internet di mana umat Islam banyak terjerumus pada ajaran-ajaran yang keliru. Mengingat, sekarang ini ada begitu banyak situs-situs keislaman yang digawangi oleh kelompok-kelompok tertentu yang seringkali menyebarkan Islam secara keras dan menyimpang.
Karenanya, kehadiran LTNNU sangat dibutuhkan dalam menyebarkan informasi dunia Islam yang sesuai dengan Manhaj Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja). Lebih-lebih, menyebarkan Islam dengan penuh kesejukan dan damai. Bukan ajaran Islam yang penuh provokatif dengan nada kebencian dan saling menyalahkan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.
Kiranya, LTNNU bisa menjadi garda terdepan dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan konteks keindonesiaan. Islam yang ramah, Islam yang penuh kedamaian, dan Islam yang toleran.
Sumber: NU Online dan Media Center NU Purwakarta

