Oleh: Irwan Almas Akbar
Islamadina.org – Disgusting. Very disgusting. Begitulah kira-kira perasaan saya ketika melihat orang-orang yang meng-underestimate pagelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Mereka lupa bahwa Nahdlatul Ulama jauh lebih besar dari sekadar seorang Yahya, lebih agung dari sekadar manusia bernama Miftah, dan lebih mulia dari sekelompok orang yang konon dituduh menjadi dalang dari peristiwa pengkondisian di Asrama Haji Sukolilo—Ipul dan Nusron. Lebih menjijikkan lagi ketika hujatan itu justru datang dari orang-orang terdekat kepada mereka yang sedari awal memilih all out untuk menyukseskan momentum besar NU setelah memasuki abad keduanya.
Tidak jarang, lontaran-lontaran itu menghujam terus-menerus.
“Ngapain serius-serius?”
“Sudahlah, Muktamar ini sudah dikondisikan.”
“Kalian cuma dimanfaatkan.”
Seakan-akan orang yang bekerja habis-habisan untuk Muktamar ini adalah manusia-manusia terbodoh di dunia. Seolah kami tidak punya akal untuk membaca dinamika. Seolah kami tidak tahu bahwa di balik organisasi sebesar Nahdlatul Ulama selalu ada kepentingan, tarik-menarik, konflik, negosiasi, bahkan mungkin pengkondisian. Bagi sebagian penyinyir itu, kami hanyalah orang-orang yang dimanfaatkan untuk melanggengkan apa yang mereka sebut sebagai “rezim pengkondisian Sukolilo”. Rentetan menjijikkan itu tidak berhenti di sana.
Ketika sebuah podcast muncul di tengah perhelatan Muktamar dan hasil akhirnya ternyata sama persis—atau setidaknya nyaris sama—dengan apa yang dibicarakan di dalam podcast tersebut, hujatan semakin menjadi-jadi.
“Nah, kan!”
“Sudah disetting dari awal.”
“Sudah ada skenarionya.”
Padahal, dari apa yang saya lihat sendiri dari dalam, dinamika yang terjadi sungguh sangat kompleks. Sangat, sangat kompleks. Saking kompleksnya, saya sendiri beberapa kali dibuat terheran-heran oleh rangkaian kebetulan yang datang bertubi-tubi. Variabel muncul satu demi satu. Keputusan berubah. Situasi bergeser. Orang sakit. Aturan diperdebatkan. Nama yang sebelumnya diperhitungkan tiba-tiba tidak bisa maju. Kandidat yang digadang-gadang maju justru mundur. Lalu, ndilalah, pada ujungnya hasilnya menyerupai apa yang pernah dibicarakan di podcast itu.
Apakah itu berarti tidak ada kepentingan? Tentu saja tidak. Apakah berarti tidak ada orang yang berusaha melakukan pengkondisian? Saya juga tidak mengatakan demikian. Tetapi jika yang dimaksud “pengkondisian” adalah sebuah desain raksasa yang sejak awal tersusun begitu presisi—phase by phase, plot by plot, person by person—hingga hasil akhirnya sudah diketahui sebelum Muktamar dimulai, maka setelah melihat sendiri apa yang terjadi dari dalam, saya justru semakin sulit mempercayainya. Terlalu banyak variabel liar. Terlalu banyak plot twist.
Terlalu banyak kebetulan. Dan terlalu banyak manusia yang masing-masing membawa kehendaknya sendiri.
Saya Datang ke Muktamar Bukan dalam Kondisi Baik
Posisi saya dalam kepanitiaan Muktamar ke-35 NU sebenarnya tidak terlalu tinggi. Saya hanyalah salah seorang penanggung jawab, atau kalau mau disebut lebih sederhana, koordinator kedua di bidang kesekretariatan panitia lokal. Tetapi keterlibatan saya pada Muktamar ini mempunyai cerita personal yang cukup panjang. Sekitar satu bulan sebelum Muktamar berlangsung, saya terkena tifus. Kurang lebih sepuluh hari kondisi saya benar-benar tidak baik. Setelah sembuh dan merasa badan mulai pulih, satu-dua minggu kemudian datang ujian berikutnya.
Dua anak saya harus dirawat di rumah sakit. Salah satunya bahkan masuk ICU karena Dengue Shock Syndrome (DSS), komplikasi berat dari demam berdarah ketika kebocoran plasma dapat menyebabkan gangguan sirkulasi dan syok. Di tengah kondisi seperti itu, pikiran tentu terpecah. Ada keluarga. Ada pekerjaan. Ada anak yang sedang berjuang di ruang perawatan. Dan pada saat bersamaan, Muktamar semakin dekat. Tetapi anehnya, saya tidak pernah benar-benar mempunyai keinginan untuk menyerah dari kepanitiaan. Bersamaan dengan itu pula, narasi-narasi yang melemahkan terus datang.
“Sudahlah.”
“Tidak perlu terlalu serius.”
“Muktamar sudah dikondisikan sejak awal.”
Awalnya, terus terang, saya ikut terbawa. Saya marah. Saya penasaran. Lalu naluri saya sebagai orang yang terbiasa melakukan riset bekerja. Saya menyelam ke dunia internet, membaca banyak informasi, mengikuti percakapan-percakapan yang berkembang, dan bertanya kepada beberapa kolega. Hasilnya? Saya justru menemukan cukup banyak informasi yang membuat narasi tentang adanya upaya pengkondisian itu tidak bisa begitu saja saya tertawakan.
Sampai pada satu titik saya sendiri berkata kepada salah seorang keluarga saya:
“Kalau memang sudah begini, ngapain kita terlalu serius? Toh sudah dikondisikan. Kita cuma dimanfaatkan.”
Lalu sebuah jawaban sederhana menghujam diri saya. Kurang lebih begini:
“Ya itu kan dinamika yang terjadi di Nahdlatul Ulama. Kita fokus saja khidmah. NU itu bukan milik mereka. NU itu milik muassis, milik masyayikh, milik para pendiri. NU jauh lebih besar dari mereka.”
Saya terdiam. Kalimat itu sederhana. Tetapi justru di situlah saya seperti ditampar. Saya kemudian menyadari satu hal: mengapa saya harus menyerahkan ukuran khidmah saya kepada konflik elite? Mengapa kesungguhan saya harus bergantung kepada siapa yang sedang bertengkar? Mengapa ketika saya tidak suka kepada satu orang, lalu NU ikut saya kecilkan? Dari situlah energi saya berubah. Kalau saya kemudian memilih all out, saya tidak all out untuk mereka. Bukan untuk Yahya. Bukan untuk Miftah. Bukan untuk Ipul. Bukan untuk Nusron.
Bukan untuk siapa pun yang sedang berada dalam pusaran konflik itu. Saya bekerja karena saya mulai meyakini satu hal yang sangat sederhana: Nahdlatul Ulama jauh lebih besar daripada nama-nama tersebut. Dan bagi kami sebagai panitia lokal, ada satu tanggung jawab lain yang tidak kalah penting: marwah Bahrul Ulum sebagai tuan rumah. Itulah yang harus dijaga.
Tanggal 26: Semuanya Dimulai dari Registrasi
Setelah kondisi anak saya membaik, saya betul-betul masuk penuh ke pekerjaan Muktamar. Tanggal 26, registrasi peserta dimulai. Alhamdulillah, di bagian ini kami dibantu oleh tim yang menurut saya sangat luar biasa, terutama tim IT bersama Gus Robin Syihab dan kawan-kawan. Dari sinilah saya mulai melihat sendiri betapa Muktamar tidak sesederhana cerita tentang “satu kubu mengatur semuanya”. Bahkan sistem registrasinya saja lahir dari perdebatan. Saat itu ketegangan di tubuh PBNU memang nyata. Ada kelompok-kelompok yang berbeda posisi. Sistem digital yang dipakai untuk registrasi pun sempat menjadi persoalan karena ada pihak yang mempertanyakan objektivitas data di dalamnya.
Akhirnya tercapai kompromi. Sistem tetap digunakan. Tetapi proses verifikasinya melibatkan verifikator yang merepresentasikan dua kelompok berbeda. Di situlah saya melihat sesuatu yang menarik dari NU: orang NU ternyata bisa sepakat untuk tetap berseteru. Mereka berbeda. Mereka saling curiga. Tetapi mereka juga menyadari bahwa organisasi harus berjalan. Kalau boleh saya menyebutnya, mungkin ini salah satu keunikan Nahdlatul Ulama: kemampuan untuk berdamai tanpa harus terlebih dahulu menghilangkan perbedaan. Dan saya benar-benar tidak bisa membayangkan jika registrasi Muktamar sebesar ini harus dilakukan manual satu per satu.
Chaos. Saya tidak tahu kata lain yang lebih tepat. Dengan sistem digital, peserta yang datanya sudah bersih bahkan bisa menyelesaikan proses registrasi dalam waktu kurang lebih satu-dua menit. Persoalan muncul pada mereka yang datanya bermasalah, misalnya terkait SK atau persoalan administratif lainnya. Mereka harus masuk melalui proses tahkim. Dan lagi-lagi, persoalan itu tidak diputuskan secara sepihak. Ada proses verifikasi. Ada pihak-pihak berbeda yang ikut melihat. Dari sini saja saya mulai bertanya: kalau sejak tahap kepesertaan mekanismenya melibatkan pihak yang berbeda kepentingan, bagaimana mungkin satu pihak dapat mengontrol semuanya secara presisi?
Bukan berarti mustahil ada usaha. Tetapi antara berusaha mengondisikan dan berhasil mengontrol seluruh realitas adalah dua hal yang sangat berbeda.
AHWA dan Bertambahnya Variabel
Kerumitan itu tidak berhenti pada registrasi. Sesudahnya ada proses tabulasi AHWA—Ahlul Halli wal Aqdi. Masing-masing daerah harus memasukkan nama yang mereka rekomendasikan. Dan prosesnya juga tidak cukup hanya dengan satu orang datang membawa secarik surat. Validitasnya melibatkan unsur kepengurusan terkait. Ketua, sekretaris, rais, katib—unsur-unsur itu harus memastikan bahwa apa yang dibawa memang benar-benar merupakan keputusan mereka. Artinya, bertambah lagi variabel. Kalau narasinya adalah bahwa sejak jauh hari semua peserta telah dikondisikan, saya semakin sulit membayangkan bagaimana pengkondisian itu bisa berjalan lurus tanpa gangguan ketika setiap lapis memiliki mekanisme verifikasi dan aktor masing-masing.
Apalagi kabar tentang pengkondisian di Sukolilo sudah beredar bahkan sebelum registrasi dilakukan. Sedangkan orang yang akhirnya dapat mengikuti proses resmi tetap harus melewati mekanisme kepesertaan tersebut. Sekali lagi, saya tidak sedang mengatakan bahwa upaya penggalangan dukungan tidak ada. Dalam politik organisasi, penggalangan dukungan adalah kenyataan. Tetapi mengatakan ada orang yang berusaha menggalang dukungan tidak otomatis sama dengan mengatakan bahwa seluruh Muktamar hanyalah sebuah teater yang setiap adegannya sudah ditulis sebelumnya.
Itu dua perkara berbeda.
Dua Titik Registrasi dan Gangguan yang Datang Bertubi-tubi
Registrasi peserta saat itu dilakukan di dua titik utama. Titik pertama berada di kawasan MTsBU dan MABU untuk peserta dari unsur PCNU, PWNU, dan PCINU. Titik lainnya berada di KJA, Jamaluddin Center, di Gang 2 Tambakberas, tempat saya banyak bertugas. Di sana registrasi dilakukan untuk unsur lain seperti PBNU, kepanitiaan daerah, pengamat, peninjau, dan unsur-unsur terkait. Kami sebenarnya sudah mengantisipasi kemungkinan gangguan internet. Muktamar sebesar ini tentu akan melibatkan begitu banyak perangkat dan lalu lintas data. Karena itu, untuk titik MTsBU–MABU, sistem jaringan dibuat sedemikian rupa sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan nirkabel. Kami menggunakan koneksi lokal berbasis kabel LAN.
Awalnya semuanya berjalan sangat lancar. Lalu pada sekitar pergantian shift keamanan menjelang Magrib, tiba-tiba sistem mati. Panik? Tentu saja. Bagaimana tidak? Registrasi bergantung pada jaringan. Internet mati berarti antrean bisa menumpuk dalam waktu sangat cepat. Tim bergerak mencari sumber masalah. Setelah ditelusuri sekitar empat puluh menit, ditemukan satu titik kabel LAN terputus di sekitar pojokan dekat gapura MTsBU, sisi sekitar Indomaret Gang 4. Posisinya kurang lebih beberapa meter di atas tanah dan berada pada titik yang tidak mudah terpantau CCTV.
Saya tidak ingin melompat terlalu jauh dengan menuduh siapa pelakunya atau dari mana asalnya. Saya juga tidak ingin menjadikan tulisan ini sebagai tempat membangun teori konspirasi baru. Yang saya tahu adalah: kabel itu terputus dan sistem sempat terganggu. Untungnya, Gus Rif’an memiliki tim teknis internal yang mengetahui medan dan dapat dipercaya. Mereka bergerak cepat, menelusuri jaringan, menemukan masalah, lalu menyelesaikannya. Belum selesai di sana. Di KJA, tempat saya bertugas, masalah lain muncul. Berbeda dengan titik MTsBU yang memakai jaringan kabel, KJA banyak bergantung pada Wi-Fi.
Dan entah karena apa, listrik di kawasan Gang 2 beberapa kali padam. Kalau saya menghitung dari ingatan, mungkin antara lima sampai sepuluh kali. Yang membuat saya heran, gangguannya terasa sangat lokal. Listrik mati. Hotspot mati. Wi-Fi mati. Otomatis sistem registrasi ikut terhambat. Apakah disengaja? Saya tidak tahu. Dan saya tidak akan menuduh sesuatu yang tidak bisa saya buktikan. Tetapi ketika dua titik registrasi mengalami gangguan berbeda yang sama-sama memukul jantung sistem informasi, tentu wajar kalau kami waspada.
Untungnya, lagi-lagi orang-orang bekerja. Di KJA saya ditemani Pak Usman, teknisi internal yang sejak awal sampai akhir benar-benar luar biasa. Ada pula Gus Bisri sebagai koordinator KJA dan teman-teman lain yang tidak kalah sigap. Akhirnya muncul inisiatif menghadirkan genset. Masalah selesai. Keamanan diperketat. Sistem diperiksa kembali. Registrasi berjalan lagi. Dan Alhamdulillah, secara keseluruhan pekerjaan bisa diselesaikan dengan sangat baik.
Bagi orang di luar, mungkin itu hanya satu kata: registrasi. Bagi kami yang berada di dalamnya, satu kata itu berisi manusia, kabel, listrik, database, verifikasi, antrean, keputusan, kepanikan, improvisasi, dan kerja orang-orang yang namanya mungkin tidak akan pernah disebut ketika sejarah Muktamar ditulis.
Lalu Datang Kebetulan Berikutnya
Kalau sampai di sini orang masih mengatakan semua berlangsung by design secara sempurna, kebetulan berikutnya bagi saya justru membuat persoalannya semakin rumit. Pimpinan sidang yang semestinya dipimpin oleh Katib Am PBNU tiba-tiba mengalami masalah kesehatan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya pimpinan sidang bergeser kepada Prof. Nuh. Sekali lagi saya berpikir: kalau seluruhnya merupakan desain yang sejak awal telah disusun secara presisi, apakah sakitnya seseorang juga bagian dari desain itu? Saya tidak masuk akal sampai sejauh itu.
Saya tidak mungkin membayangkan ada orang yang secara sadar merancang orang lain jatuh sakit hanya agar pimpinan sidang berganti. Apalagi dalam konfigurasi konflik saat itu, Katib Am dan Prof. Nuh kerap dipersepsikan berada pada posisi yang berbeda. Maka pergantian pimpinan sidang sendiri sudah menghasilkan variabel baru. Kemudian sidang berjalan. Dan semakin saya melihatnya, semakin tampak bahwa forum itu hidup. Ada keputusan. Ada bantahan. Ada kesepakatan. Ada hal yang sudah dibicarakan sebelumnya tetapi dilempar kembali ke forum.
Salah satunya soal mekanisme voting: terbuka atau tertutup. Dalam pembicaraan terbatas yang sempat saya ikuti, sebenarnya sudah ada kesepakatan mengenai mekanisme tertentu. Namun ketika masuk forum, persoalan itu muncul lagi. Debat kembali panjang. Argumen disampaikan ke sana kemari. Pada akhirnya diputuskan voting dilakukan secara tertutup. Bagi saya, dinamika semacam ini justru menunjukkan bahwa persidangan organisasi tidak berjalan seperti komputer yang tinggal menjalankan kode. Manusia ada di dalamnya. Dan manusia tidak pernah sesederhana algoritma.
Perkum Masa Iddah dan Ledakan di Luar Arena
Plot twist besar berikutnya muncul ketika disahkan aturan mengenai masa iddah satu tahun dari aktivitas politik sebagai salah satu syarat bagi calon ketua umum. Keputusan ini segera memunculkan reaksi. Pendukung salah satu figur yang sebelumnya digadang-gadang maju merasa bahwa aturan tersebut merupakan upaya untuk menjegal kandidat mereka. Ketegangan pun pecah.
Tetapi satu hal harus saya tegaskan karena hal ini penting: kericuhan itu terjadi di luar venue Muktamar. Bukan peserta resmi yang sedang bersidang lalu mengamuk di dalam arena. Yang bereaksi keras adalah kelompok di luar forum resmi yang merasa kandidat mereka dirugikan oleh keputusan tersebut. Saya kira penegasan ini penting karena dari luar orang sering melihat potongan video, lalu membayangkan seluruh forum Muktamar sedang kacau. Padahal tidak demikian. Sidang tetap berjalan. Dinamika tetap berlangsung. Ketum yang dukungannya sedang bergolak juga kemudian berusaha meredam massa agar persoalan tidak berkembang menjadi kericuhan berkepanjangan.
Lalu datang kejutan lain. Setelah perdebatan panjang mengenai aturan masa iddah dan salah satu nama praktis tidak dapat maju karena terbentur aturan, salah satu kandidat lain yang sebelumnya digadang-gadang akan ikut berkontestasi justru mengundurkan diri. Peta berubah lagi. Seratus delapan puluh derajat. Sekali lagi muncul variabel yang tidak sederhana. Belum lagi tabulasi AHWA. Belum lagi tabulasi ketua umum. Belum lagi komunikasi antarkelompok. Belum lagi keputusan di ruang sidang. Belum lagi tindakan masing-masing kandidat.
Belum lagi perubahan sikap peserta. Belum lagi kejadian yang bahkan beberapa jam sebelumnya tidak diketahui siapa pun. Lalu saya diminta percaya bahwa semuanya sudah dirancang dengan sempurna dari titik nol sampai titik akhir? Sulit. Very unbelievable. Yang lebih masuk akal bagi saya adalah bahwa memang ada aktor-aktor yang berusaha memainkan pengaruhnya. Ada kelompok yang bekerja. Ada orang yang menggalang dukungan. Ada strategi. Ada kepentingan. Tetapi strategi itu bertemu dengan strategi lain. Kepentingan bertemu kepentingan lain.
Keputusan bertemu aturan. Manusia bertemu manusia. Dan semua itu menghasilkan realitas yang jauh lebih kompleks daripada sebuah skrip tunggal. Mungkin seseorang merancang A. Orang lain merancang B. Di tengah jalan muncul C. Lalu keadaan memaksa lahir D. Dan pada akhirnya hasilnya justru E. Kemudian karena E kebetulan sama dengan prediksi seseorang sebelumnya, orang dengan mudah berkata:
“Nah, kan, sudah diatur.”
Padahal yang terjadi di antara A dan E mungkin merupakan ratusan variabel yang tidak pernah masuk ke dalam podcast mana pun.
Konflik Bukan Alasan untuk Berhenti Khidmah
Di sinilah sebenarnya titik persoalan saya. Saya tidak kecewa karena ada orang yang mengkritik Muktamar. Silakan. Saya juga tidak marah hanya karena ada orang yang percaya bahwa telah terjadi pengkondisian. Itu hak mereka. Yang membuat saya very disgusting adalah ketika narasi tersebut dipakai untuk merendahkan orang-orang yang bekerja. Ketika orang yang all out dianggap bodoh. Ketika orang yang berhari-hari menjaga meja registrasi, memasang kabel, memeriksa database, mengatur kursi, berkoordinasi dengan keamanan, mengurus konsumsi, menyiapkan kamar, mengangkat barang, mengantar peserta, dan memastikan Muktamar tetap berjalan dianggap sekadar manusia-manusia polos yang dimanfaatkan elite.
Tidak. Saya tidak melihat diri saya begitu. Saya tahu konflik ada. Saya tahu kepentingan ada. Saya tahu NU tidak steril dari politik. Memangnya sejak kapan manusia bisa hidup tanpa konflik? Konflik selalu ada. Di setiap zaman. Di setiap organisasi. Di setiap keluarga. Bahkan mungkin di dalam diri kita sendiri. Kalau setiap kali muncul konflik lalu kita kehilangan energi untuk berbuat baik, kapan kita akan bekerja? Kalau setiap kali elite bertengkar lalu kita pulang ke rumah karena merasa “percuma”, untuk siapa organisasi ini diserahkan?
Mentalitas macam apa yang sedang kita bangun kalau kesungguhan hanya muncul ketika keadaan sesuai ekspektasi kita? Hari ini kandidat kita kalah, lalu NU dianggap tidak penting. Besok orang yang kita sukai tersingkir, lalu Muktamar dianggap tidak layak dibantu. Lusa orang yang tidak kita sukai terpilih, lalu orang-orang yang bekerja dianggap antek. Saya tidak bisa menerima logika semacam itu.
Kami Menjaga Bahrul Ulum
Ada hal lain yang barangkali tidak dipahami orang dari luar. Kami adalah tuan rumah. Muktamar ke-35 berlangsung di Bahrul Ulum Tambakberas. Bagi kami, urusannya bukan hanya siapa yang terpilih. Ada nama besar pesantren yang kami bawa. Ada masyayikh. Ada para pendiri. Ada sejarah panjang. Ada ribuan orang datang ke rumah kami.
Maka fokus kami sederhana: bagaimana tamu dilayani. Bagaimana Muktamar berjalan. Bagaimana Bahrul Ulum tidak dipermalukan sebagai tuan rumah. Tidak lebih dari itu. Saya sendiri sampai hari ini tidak menerima bayaran sepeser pun karena menjadi panitia. Bahkan saya melihat sendiri koordinator saya beberapa kali harus menalangi berbagai kebutuhan menggunakan uang pribadi agar pekerjaan tidak berhenti. Apakah itu kebodohan? Kalau ukuran segala sesuatu hanyalah keuntungan personal, mungkin iya. Tetapi dalam dunia pesantren, kami mengenal kosakata lain.
Namanya khidmah. Tidak semua kerja harus selesai dengan kuitansi. Tidak semua pengorbanan harus dikonversi menjadi honor. Dan tidak semua orang yang bekerja tanpa dibayar otomatis manusia bodoh yang sedang dimanfaatkan. Ada orang yang memang bekerja karena merasa mempunyai tanggung jawab. Sesederhana itu.
NU Jauh Lebih Besar
Pada akhirnya saya kembali kepada kalimat yang pernah disampaikan saudara saya itu. NU bukan milik mereka. NU bukan milik satu ketua umum. NU bukan milik satu rais aam. NU bukan milik satu kelompok. NU bukan milik orang yang hari ini menang. Dan NU juga bukan milik mereka yang hari ini kalah. NU jauh lebih besar daripada semua itu. Orang datang dan pergi. Ketua umum berganti. Rais aam berganti. Pengurus berganti. Kubu berganti. Aliansi berganti. Orang yang hari ini kawan, lima tahun kemudian bisa berseberangan. Orang yang hari ini dihujat, besok mungkin dipuji.
Begitulah manusia. Begitulah organisasi. Tetapi muassis NU sudah lebih dulu mengajarkan bahwa ada sesuatu yang lebih panjang daripada usia kekuasaan manusia. Maka bagi saya, yang harus dijaga adalah itu. Saya tidak sedang mengatakan bahwa Muktamar ini suci tanpa cacat. Tidak. Saya berada cukup dekat untuk mengetahui bahwa konflik itu nyata. Saya juga tidak sedang mengatakan tidak ada politik. Itu naif. Saya juga tidak sedang mengatakan tidak ada orang yang mempunyai agenda tertentu. Tentu ada.
Saya hanya menolak satu penyederhanaan: bahwa karena ada konflik elite, maka semua kerja di bawahnya menjadi sia-sia. Bahwa karena ada orang yang bermain politik, maka semua panitia adalah pion. Bahwa karena hasil akhirnya sesuai dengan prediksi tertentu, maka setiap kejadian sejak awal pasti sudah diskenariokan dengan sempurna. Realitas tidak bekerja sesederhana itu. Saya melihat sendiri bagaimana satu variabel dapat mengubah variabel lainnya. Bagaimana satu orang sakit mengubah pimpinan sidang. Bagaimana satu peraturan mengubah peta calon.
Bagaimana satu kandidat mundur mengubah konfigurasi. Bagaimana satu kabel putus membuat puluhan orang berlari. Bagaimana listrik padam membuat kami mencari genset. Bagaimana dua kelompok yang tidak saling percaya tetap harus duduk dalam satu mekanisme verifikasi. Bagaimana keputusan yang seolah sudah selesai bisa dibuka kembali di forum. Itulah realitas. Berantakan. Cair. Tidak linear. Kadang menjengkelkan. Kadang mengherankan. Kadang lucu. Dan sering kali penuh ndilalah. Karena itu, kalau kemudian hasil akhirnya sama dengan apa yang pernah diprediksi sebuah podcast, silakan orang membuat kesimpulannya masing-masing.
Saya juga punya kesimpulan saya sendiri. Bahwa mungkin memang ada yang berusaha merancang. Tetapi realitas jauh lebih besar daripada perancangnya. Dan NU jauh lebih besar daripada orang-orang yang sedang bertarung di dalamnya. Saya datang ke Muktamar ini dengan badan yang belum lama pulih dari sakit. Saya datang setelah menyaksikan anak saya terbaring di ICU. Saya datang dengan keraguan. Saya bahkan pernah sampai pada titik berpikir bahwa mungkin benar kami hanya sedang dimanfaatkan.
Tetapi sebuah kalimat sederhana mengembalikan saya: fokus saja khidmah. Dan saya memilih melakukannya. Bukan karena saya tidak tahu ada konflik. Justru karena saya tahu konflik akan selalu ada. Bukan karena saya yakin semua elite suci. Saya tidak pernah berpikir demikian. Bukan pula karena saya memiliki kepentingan siapa yang harus menjadi ketua umum.
Yang saya tahu saat itu cuma satu: saya sedang menjadi panitia Muktamar Nahdlatul Ulama di rumah saya sendiri, Bahrul Ulum. Dan saya tidak ingin rumah ini dikenal buruk karena kami malas bekerja hanya gara-gara orang lain sedang bertengkar. Maka kalau bekerja habis-habisan untuk itu dianggap bodoh, biarlah. Kalau khidmah dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sedang dimanfaatkan, biarlah.
Tetapi saya memilih mempunyai kebodohan saya sendiri: kebodohan untuk tetap bekerja ketika orang lain sibuk mencibir. Karena akhirnya saya mengerti, konflik tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berkhidmah. Kepentingan tidak pernah cukup besar untuk mengecilkan jam’iyyah. Dan siapa pun yang hari ini sedang berada di puncak kekuasaan NU, suatu saat namanya juga akan menjadi bagian dari sejarah. Sedangkan Nahdlatul Ulama akan terus berjalan. Mungkin itulah pelajaran paling mahal yang saya bawa pulang dari Muktamar ke-35.
NU jauh lebih besar dari mereka. Dan bagi saya, itu sudah cukup.
Irwan Almas Akbar. Pengajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang
