Siapakah Ulama Itu?
detik.com

Siapakah Ulama Itu?

Oleh: Husein Muhammad
Islamadina.org – Suatu hari seorang santri bertanya  pendapat Imam Abu Hamid al-Ghazali sang “Hujjah al Islam”, argumentator Islam,  : Siapakah yang bisa disebut alim ulama?. Aku bilang aku pernah menulis kata-kata beliau :
اعلم ان اللائق بالعالم المتدين ان يكون مطعمه وملبسه ومسكنه وجميع ما يتعلق بمعاشه فى دنياه وسطا. لا يميل الى الترفه والتنعم .
“Ketahuilah, bahwa yang patut/pantas disebut ulama ialah orang yang makananannya, pakaiannya, tempat tinggalnya (rumah) dan hal- hal lain yang berkaitan dengan kehidupan duniawi, adalah sederhana, tidak bermewah-mewahan dan tidak berlebihan dalam kenikmatan.
Bagaimana menurut Maulana Jalaluddin Rumi, penyair sufi besar? Aku bilang : maulana Rumi  tak mendefinisikannya, tetapi memberikan contoh (perumpamaan) yang amat menarik tentang siapa orang alim (orang berilmu) itu. Dalam bukunya yang terkenal “Fihi Ma Fihi”, Maulana Rumi mengatakan :
“Ulama itu bagaikan pohon yang ditanam di tanah yang subur. Tanah itu menjadikan pohon tersebut berdiri kokoh dan kuat dengan daun-daun yang menghijau dan merimbun. Lalu ia mengeluarkan bunga dan menghasilkan buah yang lebat. Meski dialah yang menghasilkan bunga dan buah itu, tetapi ia sendiri tak mengambil buah itu. Buah itu untuk orang lain atau diambil mereka. Jika manusia bisa memahami bahasa pohon itu, maka dia sesungguhnya berkata :
نحن تعلمنا ان نعطى  وما تعلمنا ان ناخذ
“Kami  belajar untuk memberi  tidak untuk mengambil/meminta”.
Di buku yang sama ia mengkritik sejumlah orang yang oleh publik disebut ulama. Katanya;
شر العلماء الذين ياتون الامراء
Ulama yang buruk adalah dia yang sering datang ke istana presiden atau pengambil kebijakan publik.
Dalam pandangan Rumi, ulama yang sering bertemu penguasa negara, dikategorikan sebagai ulama yang buruk (syarr al-‘ulamaa’). Itu terjadi kalau ia menggantungkan hidup dan kehidupannya kepada sang penguasa.
Katanya lagi :
الرجل لايكون عالما بسبب الجبة والعمامة، ذلك ان العالمية فضيلة فى ذاته.ولا يغير من الامر شيءا ان يرتدى صاحبها قباء او عباءة..(مولانا جلال الدين الرومي، فيه ما فيه، ص 136، دار الفكر)
“Seseorang itu menjadi ‘alim (ulama) bukan karena ia memakai jubah dan ‘imamah (sorban), sebab ke’aliman adalah karakter yang melekat di dalam jiwa/hatinya. Mengenakan sorban atau baju lusuh tak membuatnya berubah”. (Maulana Jalaluddin Al Rumi, Fiihi maa Fiihi, hal 136, Dar Al Fikr, Damaskus)
Santri itu tersenyum-senyum kadang- kadang tertawa kecil.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *